Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Monday, 17 July 2017

Menyalakan Kembali dengan Mematikan

Dulu, berselancar di dunia internet waktunya terbatas. Sepulang ngampus, mampir di Warnet 1-2 jam untuk mencari hal-hal yang sedang ditelusuri. Di antara tab browser yang terbuka, tab Facebook dibuka untuk sekadar hiburan. Mengintip kabar sahabat dan kerabat. Jika sedang kelebihan inspirasi, aku menulis notes atau status. Menulis berparagraf-paragraf, dan membaca banyak tulisan sahabat. Kita saling mengapresiasi, berdiskusi, dan berbalas komen.

Dalam waktu yang terbatas itu pula, aku membuka aplikasi YM. Janjian dengan beberapa sahabat untuk ngobrol di YM di waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Obrolan menjadi sangat hangat dan berbobot, sebab kami hanya memiliki waktu yang terbatas. Emoji-emoji YM menjadi hiburan tersendiri untuk mewakili perasaan kami; rindu, terbahak-bahak menertawakan obrolan yang tidak terkira, atau bahkan menangis. 

Dulu, scrolling kepoin hidup orang ada waktunya, ngobrol atau chatting ada waktu dan tempatnya.
Hanya 2 jam, atau 3 jam jika sedang punya uang lebih, setelah itu aku keluar dari Warnet dengan hp jadulku. Kembali ke dunia nyata. Bercengkrama dengan sahabat, berdiskusi asik tentang beragam hal, khusyuk menyelesaikan target hafalan dan bacaan, atau sekadar duduk santai menikmati sepi. Tanpa terdistraksi oleh notifikasi. Dulu, jika ada waktu menunggu biasanya akan digunakan untuk membaca atau menulis di layar hape yang ukurannya tak lebih dari 3 cm. Sekarang, waktu menunggu berjam-jam seakan tidak terasa karena dihabiskan dengan scrolling.. scrolling.. scrolling.. sampai mata pening. And then just realized that ourself dind't do anything. 

Hari ini, rasanya live in the moment menjadi sangat mahal harganya. Sebab dunia maya seakan tak lagi punya waktu, tapi keseluruhan waktu bisa dijadikan ruang untuk dunia maya. Atau kita yang sudah ditarik ke dalamnya?  Kepala dan hati disesaki oleh limpahan informasi yang tak bisa dibendung. Limpahan informasi tersebut seakan menjadi sampah yang mengendapkan inspirasi-inspirasi diri. Jika tak bisa mengendalikannya, tontonan itu semua akan menjadikan diri sebagai penonton yang bodoh. Yang memuja pada apa yang tampak, yang mengritik padahal tak tahu yang sebenarnya, yang kehabisan waktu dan belum melakukan apa-apa sebagai karya.

Sadar tidak sadar, tampilan yang kita lihat, baca, atau ikuti, menjadi gumpalan dalam jiwa. Diri menjadi sibuk dengan kehidupan orang lain. Sibuk mengomentarinya, sibuk membandingkan kondisi diri dengannya. Lalu kita lalai dengan kondisi sendiri. Apa yang sudah didapat? Apa yang akan dilakukan? Apa yang sudah diperbuat?

Sebab rindu pada ruang dan waktu yang dahulu dimiliki. 
Sebab rindu pada nyala-nyala inspirasi diri. 
Sebab rindu "menjadi aku" di "waktu yang ada", 
maka sepanjang tahun ini aku melakukan beragam puasa secara bertahap. Menonaktifkan notifikasi pada Handphone, dan memasang mode diam. Menengok hape jika mau saja. Tidak ada notifikasi grup WA, BBM, atau social media. Smartphone-ku seperti hape jadulku dulu. Untuk social media, aku berpuasa dengan deaktivasi Facebook, dari awal tahun 2017 sampai sekarang. Dan beberapa kali berpuasa Instagram, dari mulai tidak memposting, tidak scrolling, dilanjutkan dengan mencopot aplikasi, dan ujungnya; deaktivasi. Di waktu yang bersamaan, setiap ada keinginan untuk "berbuka", aku alihkan ke hal-hal nyata, seperti; membaca buku, menulis, menelaah, berdiksusi, berjalan-jalan, atau sekadar duduk manis dan say hallo pada orang-orang sekitar. Apa yang aku rasakan? I feel more ALIVE than ever! Jadi banyak tulisan yang tertulis dan buku yang terbaca, diskusi yang lebih hidup dan berbobot, dan merasakan live in every moment. Ternyata frasa hidup jadi lebih hidup itu bukan bohong. 

Kok bisa begitu? Aku tidak tahu apakah ada teorinya, tapi tidak sekali aku merasakan, ketika kita mengajak diri untuk bersosialisasi, berbaur dengan manusia lainnya, maka ada sisi dalam hati yang bersorak gembira. Bahagia yang tidak bisa digambarkan. Memang betul di dunia maya kita pun bersosialisasi, tapi panca indera kita tak merasakannya secara langsung. Tidak merasakan hangatnya genggaman tangan kawan saat kita menjabat tangannya, apalagi pelukannya, Tidak merasakan secara langsung bagaimana hati merekah melihat senyum manisnya. Panca indera kita ada dan ingin memainkan perannya. Hanya dengan bersosialisasi di dunia nyata kita bisa melakukannya. 

Dari berpuasa ini pula, aku merasa hidup menjadi lebih sederhana. Tidak rumit. Tidak banyak "diganggu" oleh hal-hal yang kita tidak bisa mengendalikannya. Sesederhana; jika ingin buka jendela, tinggal buka. 

Lalu kemarin, ada sebuah pesan masuk ke WA. Dari nomor yang tidak aku simpan dalam Hp. Beliau berucap salam, dan bertanya kemana akun-akun social mediaku? Karena sedang galau, jadi beliau mencari akun instagramku. Berharap dapat termotivasi atau tercerahkan, katanya. 

Aku membalasnya dengan mengucapkan terima kasih, dan.. "Iya, maaf Mbak. Lagi sedikit berpuasa." 

Dari pesan tersebut pula, aku sadar. Sesuatu di dunia ini pasti memiliki beberapa sisi. Di sisiku, aku harus berpuasa. Di sisi lain, ternyata keberadaan kita di dunia maya ada manfaatnya untuk sebagian orang. 

Semoga Allah Swt memberikan bimbinganNya pada kita semua.. Kapan membuka jendela, kapan menutupnya, atau kapan kita keluar darinya. 



---
www.pelangisabar.blogspot.co.id
Natisa
yang sedang berpuasa


Thursday, 25 May 2017

Pengakuan

Di beberapa episode kehidupan, manusia tak jarang minta pengakuan. Apalagi di zaman serba upload dan share seperti saat ini. Membuka sedikit wilayah privasi kepada publik, untuk mendapat pengakuan. Bahkan tanpa diminta, dia akan dengan sukarela membeberkannya. Memang, motifnya tak selalu mencari pengakuan, tapi bukan tak mungkin hal itu adalah salah satu alasannya. Pe-ng-aku-an. Itu tidak salah, amat manusiawi malah.

Ingin diaku agar begini dan begitu. Ingin disamakan dengan yang lain, bahwa "aku" pun begini dan begitu. Keinginan itu bisa berasal dari rasa tidak-aman, unsecure. Merasa diri harus sama, merasa diri harus menegaskan, merasa diri terancam. 

Lalu tak lama lagi kita akan disapa oleh Bulan Ramadhan. Di bulan ini ada satu amal ibadah yang memusnahkan pe-ng-AKU-an. Dimana kita diminta untuk memberikan yang terbaik tanpa dapat meng-upload atau share amalan tersebut. Apakah itu? Puasa. Siapakah yang dapat mengetahui dengan benar kualitas puasa kita? Kita bisa saja mengatakan saya sedang berpuasa, tapi itu hanya ucapan. Bukan lahiriah seperti gerakan shalat, atau besaran zakat/infaq. Mengenani kualitas puasa itu sendiri hanya Allah yang tahu.

Itulah kenapa puasa menjadi satu-satunya ibadah paling intim. Hanya Allah dan hambaNya yang tahu. Kalkulator pahala bagi ibadah puasa ini tidak lagi berlaku. Allah Swt menegaskan, puasa dinilai langsung oleh Allah. Tak lagi pakai hitungan. Maka musnahlah keinginan untuk diaku oleh manusia, yang ada tinggal pengakuan dari yang sejati: Tuhan Semesta Alam. Pengakuan dari-Nya dapat berbuah keridhaan. Jika Ia telah ridha, apalagi yang kita butuhkan?

Seseorang berpuasa atas kesadarannya sebagai hamba. Ia tak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga merayu diri agar hati dan panca indra ikut berpuasa. Mengikis keinginan untuk diaku, dan memutlakkan hati agar segala ibadah sejatinya untuk mendapatkan pengakuan dari Tuhan yang Satu.

Ramadhan membimbing manusia untuk mendapatkan pengakuan sejati. 
Biarlah sunyi di mata manusia, sebab ridha dan pengakuan Allah di atas segala-galanya.



Marhaban ya Ramadhan 🌷

===

Natisa
Pelabuhan Badas, 1438 H.


Monday, 15 May 2017

A Night at a Cafe in Papua



This is about my new friend from another country, you can call her Xhe (actually not her real name). We spent 1 week in Papua for a project. Several days went nomally, until we sat at a cafe in thrid day of our project. That night is the best night we ever had in Papua. That's conversation is still in my mind.


Xhe said to me that she was impressed with my personality. How could it be? Because, Xhe said, I am a calm person and I have an emphatetic soul. Guess what? I was laughing to her joke. "No.. No! I am serious!" she said.

Am I a calm person? No! Seriously. Then I told her about how rebelious I am, how I have many questions about life, how I complain for many things. So, how can I be claimed as a calm person? 

She looked at me deeply. "Nati, it's okay that you have many questions. There's nothing wrong with all of it. Sometimes, people become a wise person because they let the questions exist. It makes them compromise with their life. I found you as an honest person. You asked me about my reason why I choose to be an agnostic. You asked me because you really wanted know, not to judge me. And you told me about your spiritual journey. I feel it comes from your sincere soul. Rebellion happens because you are honest with yourself. There is nothing wrong with it. All you need is keep being who you are because you are on the right track as long as you have faith in it. The sincere soul can bring you to the right track. That's why I don't need religion. Haha." 

We laughed.

The way she appreciates me makes me feel blessed, and ask to my self; why don't you thank yourself?

When she asked me, why do I need religion to knowing God? I try to find the best answer I have. I don't really think that God and religion is separated. Because religion comes from Him. For example, I know Him through Al Quran. So I push myself to learn Al Quran more intensive, and I find many of God's guidances are in the Quran which are summarized into a religion. So the religion isn't made by human, but used by them. One of her reasons being agnostic is because people only use religion for their will. Yes, I can't ignore about them, but for myself religion guides me to become a better person. 

"No. I think you become a better person because you want to. It comes from your soul. You decided to be it. Not because of your religion!" said Xhe firmly.

"Why do you not have the same thought when you looking at a man who behaves badly? You thought that people only use religion for their personal bad ambition. But when you look at man with a good behavior, you said that comes from his soul, not because he uses his religion." 

She laughed, and pointed at me, "Yeah. You make me rethink. That humans need something to believe. Either to God or religion. O, I love our talk tonight, anyway!"

She raised her glass, asked me to toast. Cheers.

Then we got back to Homestay with lots of happiness. We are happy to know each other, not to judge, but to feel blessed to be human.

I agree with her thought, that humans need something to believe in.

In another day, I share this story to my friend, Nisaul or Saul. She said,


"Many people say that an agnostic means doubting or not believing or not having faith in anything. For me, everyone believes in something, everyone has faith in something. They just believe in a different thing than we do. Afterall, we all believers."

Agree! Because "believe in 'something'" is a human needs. 

When human lost his faith, they lost his power and hope. We all need a source of Power, and there is one thing more important than having a faith: It's who we have faith in.


---
Natisa
Papua, April 2017


Friday, 5 May 2017

Kau Bertahan, Kau Diam?

Hasil dari perjuangan bisa jadi tak melulu berupa kemajuan. 

Kau dapat bertahan, pun sebuah perjuangan. Sebab bukan sesuatu yang mudah untuk mampu bertahan di tengah kondisi yang tak nyaman. Berapa banyak soalan di luar dugaan dapat kau damaikan? Sekali lagi, itu bukan hal yang mudah.



Di balik kebertahanan seseorang, ada harap dan juang yang tak putus walau berkali dihantam ombak keputusasaan. Namun baginya hanya ada dua pilihan; terus bergerak maju, atau tegar bertahan. Tak ada pilihan mundur ke belakang.


Apalagi jika kau terus tersenyum saat mampu bertahan. 

Tersenyum pada target-target yang seakan mengolokmu, karena tak mampu mencapainya. 

Tersenyum pada anggapan orang bahwa kau seakan tak ada kemajuan. 

Tersenyum pada standar masyarakat yang mengharuskanmu menyamai mereka. 

Tersenyum, sebab dugaan itu salah. 



Kau bertahan, bukan berhenti. 

Kau bertahan, karena masih terus berjuang. 

Dan untuk terus berjuang kita tak perlu pengakuan. 


Tersenyum saat kau berusaha merenda asa yang baru, lagi dan lagi, setiap saat asa itu redup tak berjawab. Kau tersenyum, sebab bagimu perjuangan bukan sekadar memperoleh hasil yang diinginkan. Sebab bagimu, perjuangan adalah caramu menunjukkan kehidupanmu. Keberadaanmu. Kecintaanmu pada Pemberi kehidupanmu. 


Tersenyum saat kembali menyadari bahwa perjuangan adalah ranahmu, sedangkan hasil mutlak wilayah-Nya. 

Tersenyum saat kembali merayu diri; biarlah aku tetap menjadi makhluk yang bertuhan, bukan makhluk yang merebut peran Tuhan.


Tersenyumlah, karena kau tak mau bertemu Tuhanmu dengan muka tertekuk, bukan? 

Tersenyumlah, sebab kebertahananmu bermakna megah. 


---
Natisa,
Papua, 2017.


Saturday, 22 April 2017

Aku Tidak Menghindar. Aku Hanya Butuh Waktu.

"Aku tidak menghindar. Aku hanya butuh waktu," katamu siang itu.

Karena sejatinya memang kita tak pernah bisa menghindar. Kehidupan selalu menuntut kita menuntaskan hal-hal yang kita hindari. Mereka seakan ingin mengungkapkan, bahwa diri kita sebenarnya mampu menyelesaikan. Ini hanya tentang kemauan. Dan juga keberanian.

Keberanian berdiri melihat permasalahan dengan segala kepelikannya. Merunut setiap benang kusut yang ada. Menguraikannya satu per satu. Berlapang dada menerima kesalahan diri, serta menasehati agar mau melakukan perbaikan ke depan. 

Keberanian melihat tantangan yang kemungkinan bermunculan jika melakukan keputusan-keputusan besar, itu bukan hal yang mudah. Tapi menyerah bukanlah pilihan. Ketika kau pilih mundur, maka akan kau lihat betapa sudah banyak ketakutan, kekhawatiran, tantangan yang seakan membuatmu mati, ternyata sudah kau taklukkan. 

Tak ada. 
Tak ada pilihan menyerah. 

Tuhan Pemeliharamu ingin kau maju. Membuktikan doa-doamu, bahwa kau benar-benar mau. Buktikan, bahwa kau bukan seorang pendoa yang manja. Kaulah pendoa, kau jua pejuang dari terjawabnya doa. 

Betul,
Kau tak menghindar.
Hanya butuh waktu.
Sebab kau sadar,
Untuk hadapi permasalahan tak bisa reaktif.
Melainkan perlu diri yang reflektif.

Untuk dapat memandang persoalan bukan sebagai perhentian, kau perlu kejernihan hati. Yang tak berhenti hanya sebab terbawa perasaan. Kau perlu hati yang jernih, yang tak semata melihat kemampuan diri. Kita akan cepat putus asa jika hanya melihat kemampuan diri. Hilangkan keakuan. Apa yang dapat dilakukan oleh kemampuan terbatas kita? Akui saja setiap kelemahan, ketakutan, dan kekhawatiran. Kita bikin NOL diri kita, di hadapan Kekuasaan yang hakiki. 

Itulah hati yang jernih. Yang dapat merasa hamba, di hadapan Sang Kuasa.

Pada akhirnya kau akan tersadar. Kau tidak sedang bersaing mengalahkan orang lain. Tidak. Kau hanya dengan dirimu. Dan Tuhanmu,

Tidak. Kau tidak sedang menghindar.
Kau hanya butuh waktu.
Untuk tidak mengisinya dengan ragu. 



----
Natisa,
2017


Tuesday, 3 January 2017

Reflektif pada Blawuritas Dunia

Kemarin, aku memposting gambar di bawah ini di akun instagram @natisa_23. Lalu mempersilakan kawan-kawan memberikan caption atau tulisan di bawah gambar tersebut. Bebas, apapun. Aku ingat perkataan salah seorang dosenku. Beliau berkata, bisa jadi orang yang menerima perkataan kita dapat lebih memaknai ketimbang makna yang sebenarnya kita miliki. Begitu pun juga maksudku mempersila kawan-kawan followers untuk menuliskan caption di bawah gambar ini, aku ingin mendapatkan kejutan pemaknaan dari mereka. Aku ingin belajar.

Dan betul. Ada dua kawan menuliskan caption indah, lalu aku menuliskan komentar juga di bawahnya, dengan segala keterbatasan pemahamanku terhadap pemaknaan mereka.
@eanggirospidia "Manusia yang lalai, layaknya dedaunan, ia akan berguguran menempa musim. Namun tak begitu dengan iman, ia akan terus bersemi dan kokoh menuju Ilah."
@natisa_23: “Mengapa ranting kering itu seperti ingin menyapa rimbun? Barangkali ia rindu merimbun. Sebab tak pernah ada hati yang mati, jika masih ada kecintaan pada kebaikan, walau setitik.”
@katsurayya “Karena semua makhluk berawal dari ketiadaan, dan akan kembali menuju ketiadaan. Bukankah waktu berjalan begitu cepat? Saat kulihat ranting itu sudah kembali berdaun dan berbunga, hingga akhirnya ditinggalkan kembali oleh daun dan bunganya. Selagi itu, sudah berapa banyak kita berbuat?”
@natisa_23 “Jika ini semua tentang waktu, meranggas ataupun merimbun bukan lagi persoalan. Jika ini semua tentang waktu, betul katamu, ini tentang seberapa giat berbekal; baik ketika kita meranggas atau merimbun.”
---
Inilah yang aku pelajari; satu gambar, banyak pemaknaan. Mana pemaknaan yang benar? Mana pemaknaan yang dikehendakiku sebagai pemilik gambar? Ternyata hidup tidak melulu terkait benar dan salah. 

Mengutip perkataan Mas Sabrang (alias Noe, vokalis band Letto), saat mengomentari hasil penelitian Pak Fahmi Basya terkait Candi Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman. Mas Sabrang bilang, “Bahwa segala sesuatu tidak bisa hanya diringkus dalam dua kotak benar atau salah. Realitas tidak sesederhana itu, kenyataan tidak hitam putih. Seperti lensa fokus sebuah kamera. Ketika kita memotret bunga kalau lensanya tidak fokus, nanti bisa kita lihat hasilnya blawur. Tapi hasil yang blawur itu benar atau salah? Kan hasilnya tetap benar bahwa itu “bunga” meskipun blawur.” 

Aku sering bercengkrama dengan banyak pembaca buku yang kutulis, Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, untuk sekadar menyimak pemaknaan mereka dari buku tersebut. Tidak jarang aku terkejut oleh pemaknaan yang tak pernah terpikirkan oleh aku sendiri sebagai penulis. Aku pun tidak bisa menyalahkan mereka, jika tidak sepemaknaan denganku. Sebagaimana ketika ada yang membaca tulisanku, lalu dia merasa tulisan itu ditujukan untuk dirinya. Padahal? Aku tersenyum saja. Mungkin pemaknaan itulah yang ia dapatkan, yang ia inginkan. Beda lagi jika pembaca dengan tulus bertanya kepada penulis, apa yang dikehendaki penulis dengan menuliskan ini itu. Maka penulis dapat dengan leluasa menjelaskan. Pada kasus ini, aku mempersilakan kawan-kawan membuat pemaknaan sendiri terhadap gambar yang aku posting. Apapun pemaknaan yang lahir, itulah yang dikehendakinya. Aku tidak bisa menyalahkan, walau aku pribadi memiliki pendapat yang lain.

Mas Sabrang juga kerap ditanya awak media terkait lirik-lirik lagunya yang sarat makna. Bahkan temanku menafsirkan lagunya Sebelum Cahaya, sebagai lagu ajakan untuk tahajjud. Mas Sabrang hanya tertawa dan berujar, “Ya bebas saja. Kalau ada yang memaknai begitu, berarti dia menginginkan pemaknaan begitu. Setiap orang bebas memaknai.”

Aku terdiam saat menyimak komentar Mas Sabrang ini. Ternyata, memersilakan orang untuk berasumsi tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi jika asumsinya itu jauh dari kenyataan yang ada. Ada sisi hati yang ingin membela, atau meninggikan suara. Namun, jika saja kita bisa menarik diri terlebih dahulu, kita akan sadar. Bahwa semua ini tentang menyimak manusia, yang memang dicipta berbeda. Kesalahpahaman ada, karena adanya perbedaan. Sedikit saja kita merayu diri untuk menyimak mereka yang berbeda, maka yang akan kita dapatkan adalah tambahan khazanah berpikir. Dengan begitu, kita akan bereaksi secara proporsional. Menyikapi mereka yang berbeda bukan sebagai musuh, tapi sebagai kesempatan untuk memicu diri membangun jalinan komunikasi yang efektif. Seperti menantang diri; bisa ga lu ngertiin pemahaman dia? bisa ga lu ambil pelajaran dari pemikirannya? bisa ga lu sampaikan pendapat pribadi ke dia dengan baik? 

Sering kali kenyataan yang ada
bukan menuntut kita bersikap reaktif,
melainkan reflektif.
Karena ilmuku masih cetek, aku sadar, apa-apa yang lalu lalang di dunia ini bukan untuk diringkus ke dalam dua kotak; benar atau salah, tapi ini tentang apa yang aku pelajari dari itu semua. Tentang benar dan salah? Ah, ilmuku masih dangkal. Untuk urusan itu aku ikut kata guruku saja. Selebihnya, aku jadikan sebagai pembelajaran. Santri salawasna.

--
Nati Sajidah

3 Januari 2017.


Sunday, 25 December 2016

Ya Sudahlah .. Sampai Mati


Keingininan kita untuk menggapai sesuatu, sebab menganggap sesuatu tersebut itu amat indah, amat megah jika kita raih. Lalu benak dipenuhi angan yang mengandai. Membayangkan bagaimana diri berada di posisi yang diinginkan. Meraih apa yang diimpikan. Seakan surga dunialah di sana; jika semua yang diinginkan tercapai. Layaknya seorang anak kecil yang dihadiahi baju lebaran oleh ibunya. Jauh hari sebelum hari raya tiba, matanya tidak pernah lepas dari pakaian barunya itu. Membayangkan bagaimana eloknya ia, semua mata memandang padanya, dan ia merasa menjadi anak yang paling bahagia. Oh indahnya bermimpi. 

Nyatanya, sering kali apa yang diimpikan lebih indah daripada ketika menempuhnya. Mengapa? Karena ketika kita memimpikannya, kita tak harus melewati aral rintang, tikungan-tanjakan. Seperti ketika kau melihat pegunungan yang indah dari kejauhan. Indah. Apakah mau menuju ke sana? Siapkah dengan segala kejutannya? Ketika terus menempuh menujunya, terus menghadapi segala rintangannya, tapi seakan tak pernah jua sampai, apa yang akan dilakukan? Aku akan berdendang lagu Ya Sudahlah dari Bondan Prakoso feat Fade2Black ini...
Ketika mimpimu yang begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu, 
dan tak pernah sampai..ya sudahlah
Ya sudahlah, nikmati saja perjalanan ini, sambil terus memiliki kekaguman pada apa yang diangankan. Adapun capaian yang tak sesuai target waktu, hey, bukankah kita bisa membuat target yang baru? Atau sekalian saja tak usah lagi membuat target, dan mulailah menikmati perjalanan ini. 

Kawan, langkah kita menuju apa yang diimpikan tetaplah terhitung sebagai usaha. Tengok ke belakang, begitu banyak yang telah kita lakukan dan taklukan. Ego diri, ketakutan yang mencekam, keputuasaan yang datang tiba-tiba; kita telah banyak melalui itu semua. Dan betapa indah kepribadian yang telah terbentuk dari semua tempaan itu. Jika kau lelah memandang ke impian di depan yang seakan tak pernah tercapai, bolehkanlah dirimu menengok ke belakang. Berikan keistimewaan pada dirimu, dengan apresiasi segala capaiannya. Sungguh, betapa berharganya seorang diri yang terus berusaha dan bersabar atas segala ambisi yang ada. 
Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything’s gonna be OKAY

Yak. Kau tak pernah sendiri. Ada 'aku' di dalam aku. Ada AKU pada aku. 
Semua akan baik-baik saja, selama kita berusaha dan miliki keyakinan. Jika pun impian itu tak pernah tercapai, bukankah indah memandang pegunungan itu dari kejauhan? Ikhlaskan diri pada kondisi kini, dengan tak berhenti mengayuh langkah lagi. Barangkali kita tak disampaikan ke sana dengan tepat, sebab Tuhan melindungi kita dari bahaya yang tak pernah kita tahu. Bukankah kita sepakat, sering kali Tuhan menguji sekaligus melindungi. Menolak, tapi sebenarnya memberi. Banyak sekali yang kita dapat dari permintaan yang (seakan) ditolak, seperti kejadian-kejadian yang bisa saja tidak pernah terjadi jika kita tidak ditolak; pertemuan-pertemuan yang istimewa, hati yang berbicara penuh bijaksana. Semua itu pemberian ketika permintaan ditolak. Sadari begitu banyak yang kita peroleh, melebih apa yang kita minta dan impikan. 

Jika menoleh ke belakang sudah dilakukan, mari kita melaju lagi. Ini sebuah perjalanan yang menyenangkan, bukan? Kau dapat berjeda untuk beristirahat, atau memperbaiki perbekalan yang ada.

Hey, mari kita berdendang lagi. Kali ini dari Letto, Sampai Nanti Sampai Mati:

Kalau kau kejar mimpimu...salut
Kalau kau ingin berhenti..  ingat tuk mulai lagi
Tetap semangat, dan teguhkan hati
Di setiap hari, 
sampai nanti, 
sampai mati
...
Tetap semangat dan teguhkan hati
Di setiap hari sampai nanti
Tetap melangkah dan keraskan hati
Di setiap hari
sampai nanti, sampai nanti, 

sampai mati.
Selama nafas dihembus, selama itu pula kita akan berusaha. Sampai mati.
Sebab kita ketahui pasti, Tuhan tak pernah membebani agar kita capai sebuah status. Melainkan hanya diperintah berusaha. Tuhan tak pernah membebani agar kita pintar, hanya meminta untuk selalu terus mencari ilmu. Dia pun tak pernah memerintah kita untuk kaya, hanya meminta kita untuk selalu menjemput rizki-Nya. Dia sayangi kita, Dia hanya meminta kita berusaha. Sampai mati.



***
Natisa
Bandung, 25 Desember 2016





Monday, 10 October 2016

Salah Kirim Buku dan Cara Kerja Tuhan yang Tak Terduga

Tadi pagi ngirimin buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu ke salah satu pembaca, sebut saja namanya Bunga, pakai jasa GoSend karena alamatnya masih sekitaran Bandung. Dia ngasih alamat di Perumahan Tentram Indah (tentunya alamat asli disamarkan).
Dikirimlah buku tersebut pagi sekitar jam 7. Setelah Mamang GoSend sampe rumah Bunga, ga ada siapa2, satpam perumahan juga ga ada. Bunga ditelpon juga gak ada jawaban. Mamang GoSend nelpon aku, minta pertimbangan baiknya gimana. Aku tanya di sekeliling situ ada orang atau tetangga yg bisa dititipi tidak, dia jawab, "Ada sih, Teh. Tapi cuma orang lalu lalang aja. Takutnya bukunya ga sampai ke Teh Bunga." 
Aku pikir, iya juga.. ya udah aku minta dia kirim balik lagi aja ke rumahku. Alhamdulillah si mamang gojeknya amanah, ga mau nyerahin buku ke sembarang orang..

Baru deh pas siangan, Bunga bales WA. Dia baru ada di rumah.. Cus aku pesen GoSend lagi. Beberapa menit kmudian dijemput sama si Amang gojek, ga sampe sepuluh menit ada laporan kalau buku udah sampe di alamat tujuan. Tapi Bunga bilang belum nerima. Bingung deh.. Mana si Amang GoSendnya sulit dihubungi pulak.
Dua jam kmudian ada yang nelpon.. Nomor yang ga dikenal.. Dia ngaku namanya BUNGA. Karena aku belum pernah kontak langsung dengan Bunga jadi aku kira ini Bunga yang pesan Buku. Ternyata eh ternyata.. Dia emang nerima buku tsb, dan merasa aneh dapat buku ini karena ngerasa ga pernah ngasihin alamatnya ke siapapun, dia juga baru pindah kos ke tempat tersebut. Dia malah nanya aku dapat alamatnya dari siapa? Lah, makin bingung, masak iya seseorang semalam sebelumnya pesan buku trus ngasihin alamat, lalu keesokan harinya mendadak amnesia kalau dia udah ngasihin alamatnya..
Dia juga sama-sama bingung dan berusaha menjelaskan,
"Namaku juga BUNGA, Teh. Rumahku bukan di Perumahan Tentram Indah No A1, tapi di JALAN Tentram Indah No 1A!"

Oalaaaaah.. Ini kebetulan yang cantik benerrr!
Bunga yang asli tinggal di PERUMAHAN Tentam Indah, Bunga-yang-salah-sasaran tinggal di Jalan Tentram Indah, yang manaaa itu cuma beda belokan aja, gak sampe 1km! Dan ada dua Bunga di sana.
Karena masing-masing ga tau jalan, jadinya si saya ngirimin GoSend lagi dari Bunga-yang-salah-sasaran ke Bunga-yang-seharusnya-dituju, dan jarak mereka cuma beda belokan. Hehe.
Ini teh sesuatu pisan ih..
Padahal yah si Mamang GoSend yang pertama itu bisa aja asal ngasihin buku ke orang yang ada, dan beres tugasnya. Tapi dia milih untuk hati-hati. Gimana pun juga orang nitipin sesuatu ke kita atas dasar kepercayaan, bukan cuma mindahin barang dari titik A ke titik B. 
Bunga-yang-salah-sasaran juga sebenarnya kalau dia mauuu, ya terima aja bukunya, toh nama dia juga Bunga. Kan asik dapet buku gratisan. Tapiii dia bilang, "Maaf ya Teh, bukunya udah Bunga buka plastiknya, kirain beneran buat Bunga. Tapi ini aneh banget. Bunga ga mesen apa-apa, dan Bunga baru pindahan ke sini. Takutnya penerima aslinya malah kebingungan pesanannya ga sampai-sampai."

Superb.
Emang bener yah, gak ada kebetulan di dunia ini. Yang ada adalah kejadian yang sama sekali di luar prediksi kita. Karena setiap kejadian disetting sama Tuhan yang Maha Kuasa, yang cara kerjaNya ga akan bisa dipikirin sama logika akal manusia. Kitanya aja yang dikit-dikit pengen tercerna secara logika, padahal ga semua bisa diukur logika manusia, logikanya sendiri ciptaan. Dipikir-pikir cukup absurd juga, mau ngukur pola kerja Pencipta dengan selalu menggunakan ciptaan.. Dan karena ga ada kebetulan di dunia ini, maka tiap kejadian pastiiii bawa sesuatu untuk dipelajari. Gak gitu aja terjadi.

Mungkin salah satunya adalah biar si saya bersyukur.. Dipertemukan dengan orang-orang baik itu emang jenis lain dari rizki. Alhamdulillaah.. 
Nuhun ah..


###
Nati Sajidah


Tuesday, 27 September 2016

"NATI, SIAPA TUHANMU?"

Sore itu kami diajak duduk melingkari sebuah batu kristal yang dipercantik dengan kalung bebungaan. 
Suasana menjelang matahari tenggelam di dalam komplek Green School, Sibang Kaja, Bali, terasa sangat tenteram dengan alunan nyanyian alam, gesekan dedaunan bambu, suara-suara serangga bersahutan, dan aliran sungai ayung. Salah seorang panitia Educator Course membimbing kami untuk melakukan Mindfulness. Sebuah metode mirip meditasi-tapi beda, dimana kami dibimibing untuk memusatkan perhatian sedemikian rupa, menghayati apa yang sedang dilakukan, tanpa melakukan penilaian.

Sejenak merasakan badan dengan seutuhnya kesadaran. Mendengarkan suara-suara di sekeliling. Mengulas apa yang terjadi seharian, menerima segala bentuk perasaan, dan let it go. 
Biasanya mindfulness dilakukan oleh para guru GS sebelum memulai pelajaran. Sekitar 10-15 menit.

Mindfulness sore itu terasa istimewa, hampir dua jam kami diberikan waktu untuk s a d a r. Diajak untuk bersatu dengan alam, menyimak apa yang ada dalam diri, dan mensyukuri nikmat-nikmat. Aku merasa diberi waktu untuk "pause", menyimak ke kedalaman diri, tanpa sedikitpun menilai/judge. Diiringi alunan musik yang bernada lambat, para peserta mulai menyanyikan lagu-lagu "pujian".
Aku duduk di samping Michelle, seorang ibu yang berasal dari Sydney. Karena tak ma(mp)u mengikuti nyanyian, aku pilih mindfulness dengan cara sendiri; dzikir sore. Menyimak lamat-lamat dzikir yang terucap, menelisik maknanya, seakan alam ikut bertasbih dengan caranya. Tiba di surat An-Nas, aku terpaku. Allah membahasakan diriNya sebagai Tuhan Manusia. Bukan sekadar Tuhannya orang Islam. Saat itu aku duduk bersama sekitar 30-an orang dari berbagai negara dan juga keyakinan, menyanyikan puja pujian rasa syukurnya. Pikiranku melayang, ya Allah kami semua makhlukMu. Aku yakin, semua hati di sini menyadari adanya Sang Maha yang menggerakkan kehidupan sedemikian rupa. Aku yakin, semua hati di sini bersyukur akan segala nikmat, nikmat yang telah Kau limpahkan. Aku yakin, kami semua adalah makhlukMu, dalam tatapanMu. Dengan bahasa masing-masing, dengan sedikit cahaya kesadaran sebagai makhluk, tunjukkanlah kami jalan yang lurus.. Ihdinasshiraathal mustaqiim..
Michelle melirikku yang sibuk komat-kamit sendiri. Lalu dia terdiam, menghentikan nyanyiannya dan membenarkan posisi duduknya. Dia pun mulai komat-kamit sendiri.
Dua jam berlalu, akhirnya sesi Mindfulness ini selesai.
Sambil berjalan pulang menuju Lodge, aku terus berfikir mengenai mindfulness ini, yang mengajari kesadaran terhadap apa yg dilihat, didengar, dan dilakukan. Tidak sekadar gerak random atau rutinitas, tapi benar-benar living in the moment. Begitu mungkin definisi lain dari khusyu'. Aku bergidik ketika membayangkan, andai di setiap shalat, dzikir, dan doa kita benar-benar hadir, benar-benar sadar. Apa yang akan terjadi?
Tiba-tiba seseorang dari belakang menyusul mensejajarkan langkahnya denganku. Tanpa basa-basi, dia bertanya,
"Nati, who is your God?" 
Dia, Michelle! Wajahnya penuh tanya.
Tadi Michelle bilang apa? Oh, dia bertanya siapa Tuhanku. Mungkin karena tadi dia melihatku tidak mengikuti nyanyian puji-pujian seperti yang lainnya, atau mungkin karena melihat pakaianku yang tertutup beda dengan yang lainnya, atau mungkin penasaran dengan apa yang aku baca? Belum sempat aku jawab, dia kembali bertanya, "is He in heaven or in Earth?"

Pertanyaan tentang Tuhan.. Ya Allah, hanya Engkau yang dapat menjelaskan siapa Engkau.. 
"My God is who created me, dan yang menciptakan surga juga bumi." Jawabku. Wajahnya masih menyimpan tanda tanya besar. Aku berusaha untuk menahan penjelasan yang lebih rumit, padahal di kepala ini udah pengen jelasin 20 sifat wajib Allah yang di antaranya Allah berbeda dengan makhlukNya yang membutuhkan tempat, atau letupan2 tafsir surat Alfatihah dimana Allah mengenalkan Zat-Nya dari ayat pertama sampai ayat ketiga. Aku tahan. Dia membutuhkan jawaban dari yang dia tanyakan, bukan semua isi kepalaku, dan aku belum tahu arah pertanyaannya kemana. Seperti yang kuduga dia kemudian bertanya, "Tadi kamu baca apa?"

"Tadi aku baca doa-doa yang diajarkan Tuhanku lewat nabinya, Nabi Muhammad Saw. Doa-doa itu ada dalam kitab suci kami, Al-Qur'an."
Kerutan di dahinya bertambah, "Tuhanmu berkata-kata? Apa isi dari doa-doa itu?"
Aku mereview kembali apa yang kubaca tadi; alfatihah, penggalan ayat-ayat surat AlBaqarah, surat-surat pendek, dan beberapa doa dari hadits Nabi. Jadi apa isi semua doa itu?
"Iya, Tuhanku berfirman kepada Nabi kami, seluruh firmanNya adalah petunjuk hidup bagi kami. Doa-doa yang tadi aku baca isinya meminta perlindungan kepada Allah Swt, memujaNya, dan menyampaikan rasa syukur kepadaNya yang telah menciptakan, melindungi, dan memelihara makhluk-Nya."
Raut muka Michelle seketika cerah, "So beautiful, Nati!"
Aku bertanya balik, "Michelle, tadi selama dua jam kamu membaca apa?"
Michele tersenyum manis. Mata beningnya ikut berbicara,
"Aku menyampaikan rasa terima kasihku, rasa syukurku kepada My Jesus, He saves my life. Suamiku meninggal dalam usia muda pernikahan kami. Aku membesarkan anak-anakku sendirian. Aku bersyukur aku dapat melalui masa-masa sulit. Jika tanpaNya sepertinya aku gak akan bisa melalui semua itu."

Lalu mengalirlah cerita hidupnya yang luar biasa. Sambil menyimak ceritanya tanpa sengaja mataku menangkap ukiran tato di lengannya. Sebuah kalimat yang indah, "Don't cry because it's over, smile because it happened." Kalimat yang penuh kekuatan dan penerimaan.
Dia menceritakan kesedihan hidupnya, tapi sama sekali aku tak menangkap raut kesedihan melainkan kebahagiaan. Hati yang penuh syukur. Bayangkan, dia selama dua jam tadi komat-kamit mengucapkan rasa syukurnya, dengan bahasanya sendiri. Apakah aku bisa dalam waktu dua jam melakukan hal yang sama? "Bercengkrama" dengan Tuhan selama itu, tidak meminta apa pun-tidak mengkomplain apa pun-tidak merajuk sedikit pun, hanya bersyukur. Apakah bisa? Apakah rasa syukur ini yang membuatnya mampu melalui cobaan-cobaan hidupnya? Allah Swt menjanjikan kepada yang bersyukur, niscaya akan Ia tambah nikmatNya. Apakah hati yang kuat adalah bentuk lain "tambahan nikmat" bagi makhluk-Nya yang bersyukur? Semakin aku sadar, bahwa bersyukur ialah cara termudah untuk bersabar.
Aku menggenggam tangannya yang lembut, "Michele, you really own beautiful heart, beautiful soul!" Aku berkaca-kaca, dan tak menyangka wanita 50 tahunan itu pun sama harunya. Dia menghentikan langkahnya, dan memelukku, mencium kedua pipiku. "Oo Nati! Aku baru kali ini bertemu orang seperti kamu. Baru kali ini aku merasa berharga!" 
Kami terhanyut bahagia yang ambigu. Masih terdekap keheranan mengapa dia begitu terharu. Aku hanya mengungkapkan rasa kagumku kepada hatinya yang penuh syukur. Rasa cemburuku.

Masya Allah.. 
Teringat perkataan Imam At-Tabari dalam kitab tafsirnya. Makna Rabb tak sekadar Tuhan. Rabb ialah Al-Khaaliq; yang menciptakan. Rabb ialah Al-Maalik; yang Menguasai. Rabb ialah Sang Pemelihara. Dan Allah adalah Rabbul 'aalamiin.. Tuhan Pencipta-Penguasa-Pemelihara semesta alam.

Dialah Rahman Rahim. Yang kasihNya dirasakan oleh semua makhluk-Nya, baik yang beriman ataupun tidak. Senja itu, aku menyaksikan kuasa dari Kasih SayangNya, yang mengokohkan hati rapuh menjadi sekuat senyuman indah di langit jingga.
Bila manusia benar-benar khalifah Allah di muka bumi, wakil Allah di muka bumi, dan Allah adalah Rahman Rahim; maka semoga aku termasuk dari sekumpulan para pecinta yang menghadirkan Rahmatan lil 'alamin ...


###
Nati Sajidah
27 Sept 2016

Memori dari Educator Course yang diselenggarakan Green School Bali, 29 Agustus - 2 September 2016.


Saturday, 3 September 2016

Antara ISIS, Islam, dan Kedamaian

"And how about ISIS? Are they representation of Islam?" 
Tanyanya setelah menanyakan tentang gerakan shalat; apakah shalat menghadap ke satu arah atau bebas mengarah kemana saja; apakah shalat sama dengan meditasi, apa kegunaannya, dll. She is from Hongkong, one of my buddies study during Educator Course last week. 
Karena tempat tidur kami bersebelahan, dia yang selalu melihat saat aku melaksanakan shalat. Memerhatikan apa yang dibaca, dan mengapa menghadap "tembok". Aku perlihatkan gambar Ka'bah yang dikelilingi jutaan manusia. Dengan terkejut dia bertanya untuk meyakinkan, "Itu semua manusia? Jadi semua manusia muslim di seluruh dunia shalat menghadap benda itu? Mengapa menyembah benda hitam itu?"
"Ya! Ka'bah sebuah bangunan, kami tidak menyembah bangunan mati. Melainkan itu simbol bahwa kami hamba dari Tuhan yang Maha Satu. Apapun warna kulit kami, dari mana pun asal kami, di hadapan Dia kami sama-sama hamba." Jawabku sambil memerlihatkan gambar Ka'bah yang lain. Dia masih terpana dengan fenomena jutaan manusia mengelilingi satu titik. Beberapa saat kemudian dia sedikit memundurkan posisi tempat duduknya, dan bertanya, "And how about ISIS? Are they representation of Islam?"

Ini dia... Seperti seluruh pertanyaan yang lainnya, aku selalu merasa harus sangat hati-hati menjawab. Memohon kepada Allah agar di setiap jawaban yg keluar ini mengandung kebaikan, tidak menyakiti perasaan siapapun. 
Selama seminggu merasakan menjadi minoritas, sebuah pengalaman yang warrbiyasah. Gak bisa berprilaku seenaknya, harus selalu memerhatikan yang lain. Teringat pesan Abi sebelum pergi haji bersamaan dengan aku harus pergi ke acara ini. Abi bilang, "Membaur tanpa harus melebur." Bergabung dengan 25 peserta Educator Course dari 12 negara berbeda di tanah subur Bali, dan menjadi satu di antara dua peserta muslim, memberikanku banyak pelajaran. Bahwa hal pertama yang orang lain rasakan dari kehadiran kita adalah perilaku diri. Bukan hafalan teori, dalil, dan segudang argumen. Melainkan akhlaq, bagaimana kita membawakan diri kita di antara sebuah komunitas. Aku punnn masih jauuuuh dari akhlaq terpuji. Tapi sangat terpatri dengan pepatah sunda, "Someah, Hade Ka Semah", atau "ramah, berlaku baik kepada tamu." 
Temanku ini seorang pencinta hewan. Di pagi hari ketiga Course aku kehilangan dia, ternyata dia berjalan-jalan sendiri di sekitaran hutan. Menemukan seekor babi, yang menurutnya sangat lucu, sedang makan dan mengorek-ngorek tanah. Dengan bahagianya dia memerlihatkan kepadaku video babi-lucunya itu, dan aku? "Ahya, lucu banget!" Sambil menahan meringis.. Rupanya dia sedang merindukan ternak babi dan anjingnya di Hongkong.

Lalu tentang pertanyaannya tadi.. Sejujurnya aku takut saat menjawab pertanyaan ini, akhirnya aku menjawab, "Well, do you know what ISLAM means? Islam taken from arabic word, its means: PEACE. Why? Karena Islam mengajarkan kedamaian. Dalam kitab suci kami tertulis tentang tujuan mengapa manusia dihidupkan adalah untuk menjadi seorang Leader yang spread love and kindness on earth. Not only to human, but to the mother nature, and even the animals! Dalam agama kami, ada kisah yang ditutur; seorang wanita pezina yang sudah lumur dengan dosa dia masuk surga karena kasih sayangnya kepada seekor anjing. Dia memberikan minum saat anjing itu kehausan. Dan saya belajar banyak bagaimana menyayangi binatang dari kamu looh..!" Dia tersenyum bahagia, "Oh, really?!"

"Tentang ISIS, aku ga bisa menjawabnya. Terorisme tidak memiliki agama, artinya bisa saja terjadi di agama mana pun, dan mengaku-aku sebagai agama mana saja. Islam agama yang penuh kasih sayang, nabinya aja bermakna "Yang Terpuji".. Jadi kamu bisa menilai mana yang sebenarnya yg merepresentasikan Islam. Agama kami tidak mengajarkan kekerasan, sebaliknya, agama kami agama yang penuh kasih sayang dan kebaikan."

Temanku mengangguk-angguk menyimak dengan simpati, lalu menimpali, "Terima kasih, Nati. Ini baru kali pertama aku punya teman muslim. Selama ini aku dengar Islam hanya tentang ISIS dan terorisme. Itulah kenapa aku menanyakan hal ini, karena apa yang aku dengar tentang Islam teroris sangat berbeda dengan yang aku saksikan langsung dengan praktek bagaimana kamu beragama!"


Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad.. Jadi kangen sama Junjungan yang Terpuji..



###
Nati Sajidah

Memori dari Educator Course yang diselenggarakan Green School Bali, 29 Agustus - 2 September 2016.


Thursday, 1 September 2016

Sebagai Tanda Cinta


"Are you believe in One God?" tanya teman dari Brazil sepulang aktivitas Educator Course menuju tempat kami menginap. Sambil berjalan menyusuri komplek hijau Green School dan Sungai Ayung, kami terus berdialog dengan pertanyaannya yang berkembang terus; apa kamu yakin ada kehidupan setelah kematian?; Apa manusia hanya punya satu kesempatan?; Apa kamu percaya Jesus anak Tuhan?;

Dan sampailah pada pertanyaan, "I am sorry to asking you this question, kenapa kamu menutup seluruh badanmu kayak gini?" langkahnya dihentikan dan menunjuk aku yang berjilbab.
Mungkin ini pertanyaannya yang paling membuatnya penasaran. Di tengah cuaca Bali yang fanas, ditambah aktivitas selama Educator Course yang padat mudah banget ngucurin keringat, tapi aku malah memakai baju tertutup. Aku mencoba menjawabnya dengan bahasa inggris seadanya, pacampur dengan lintasan kosakata Bahasa Arab dan Bahasa Sunda yang suka ojol-ojol eksis. 
"Kenapa aku menutup badanku seperti ini? Karena Tuhan memintaku untuk melakukannya, sebagai tanda cintaNya Dia menjaga hambaNya."
Kelopak matanya membulat, "Apa kamu merasa terjaga dengan berpakaian seperti ini?"
"Sure. Bukan hanya merasa terjaga, tapi juga merasa dicinta. Tuhanku selalu menginginkan yang terbaik bagi hamba-Nya."
Kali ini dia menghentikan langkahnya, "Nice! His obligation make you feeling loved. Its so amazing!"

Aku tersenyum. Mengingat di hari sebelumnya, salah seorang teman dari Portugal juga bertanya, "Apa kamu gak ngerasa kepanasan? Kelihatannya ngga yaa, pasti karena kamu udah biasa."
Waktu itu aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Hari ini aku sadar. Bukan karena hanya sudah terbiasa, tapi ini tanda cinta Tuhan pada hamba. Dia selalu inginkan yang terbaik, maka Ia menjaga.



###
Nati Sajidah
*Memori dari Educator Course yang diselenggarakan Green School Bali, 29 Agustus - 2 September 2016.


Tuesday, 16 August 2016

Dalam Kendaraan Bernama INDONESIA

Melewati jalanan Jakarta yang pucuk gedung-gedung tingginya menyentuh langit hitam. Di sana menggantung bulan hampir utuh. Halte-halte Transjakarta dipenuhi mereka yang pulang bekerja.

Sebuah bis Transjakarta berlalu dengan kecepatan sedang. Aku terpaku di mulut pintu halte. Jendela bus itu panjang, memajang anak manusia. Ada yang duduk, dan tidak sedikit yang menggelantungkan tangannya. Dari kejauhan bus itu seperti akuarium manusia. Bedanya kaca jendela panjang itu bertuliskan satu kalimat:

DIRGAHAYU RI KE-71

Tiba-tiba berdegup. 
Esok tanah airku berulangtahun ke 71. Aku, dan anak manusia lainnya, seperti penumpang bis Transjakarta. Menumpang dalam kendaraan bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami terus berjalan, di kendaraan yang telah dibangun oleh para pendahulu. Dengan tenaga, pikiran, dan bahkan darah. 

Di kendaraan ini, ada yang ikut berkarya mempercantik, ada yang mencaci mengapa tak seperti kendaraan lain, tapi di waktu yang bersamaan dia tetap tak beranjak, tak berbuat apapun. 
Kendaraan ini tetap melaju. Tak lantas pilih kasih hanya membawa penumpang yang memuja atau menurunkan penumpangnya yang mencaci. Tak. Ia tetap melaju, dengan terus memberikan kebaikannya sebagai tempat tumpangan. 

Digerakkan oleh para pemimpin bangsa, yang memang tak sepenuhnya kami kenal betul. Hanya berbasis percaya, bahwa mereka siap memimpin, maka seharusnya pula kami siap dipimpin. Sesekali kami bertanya-tanya hendak kemana kami kan dibawa? Ada yang bertanya dengan berteriak, ada yang membuat gaduh memukul-mukul jendela dan menghentakkan kakinya, ada yang diam bergumam terserah saja akan dibawa kemana, ada pula yang dengan bijak merangkak bertanya kepada petugas-petugas yang berwenang. Berusaha memberi saran semampunya, dan kembali memupuk percaya. Tak mengingkari dengan segala kekurangan yang ada di sana-sini, sambil tak lupa mengapresiasi setiap kebaikan dan kemajuan yang ada. Bukankah itu makna terdalam dari a-d-i-l ? Kebencianmu pada sesuatu tak menjadikanmu kemudian berlaku semena-mena.

Kendaraan ini terus melaju. 
Negeriku esok berulangtahun ke-71. Para pendahulu telah bersusah payah membuat kendaraan ini berbentuk. Para Kiai menggelorakan semangat jihad bela-negaranya kepada santri-santri. Para negarawan mencurah pikir dan siasatnya untuk mempertahankan negeri. Maka segala kurangnya bukan lagi tanggungjawab mereka, melainkan untuk itulah kita berada.


Seperti bulan yang hampir utuh di langit malam ini. Ia tak lantas mengundurkan diri karena belum purnama. Ia memilih menerangi dengan apa yang ada dalam diri. Ia memilih menyalakan setitik cahaya, tak sekadar mengutuk kelam gulita.
Bus yang kutumpangi terhenti di depan bendera Merah-Putih yang berjejer. Tingginya kalah oleh gedung-gedung pencakar langit itu. Namun apalah kami, tanpa tanah air ini. Setinggi apapun, sebesar bagaimanapun, tak ada artinya jika tak memiliki tempat berpijak.

Merah-putihku, Indonesiaku. Terima kasih untuk tetap berkibar. Salam takzhimku kepada para pahlawan bangsa. Tanah ini tanah para syuhada. Bagaimana bisa aku membencimu, padahal kau tempat segala cinta bermula. 
Indonesia, 
Aku akan tetap mencintaimu, dengan keras kepala.

***
Nati Sajidah,
Transjakarta, 16 Agustus 2016.


Tuesday, 9 August 2016

Dulu, Aku Suka Gereget Sama Orang yang Terlalu Sholeh

Dulu, aku suka gereget sama orang yang terlalu sholeh
Dia dianiaya, tapi tidak ngotot membalas atau menjelaskan dengan gamblang sampai si lawan bicara benar-benar mengerti. Gereget, karena sebenarnya dia bisa saja membalas dengan lebih pedas, sampai si lawan keok mati kutu, tapi dia ga melakukannya. Gereget, karena kok rela aja dihinakan. Kenapa ga membalas? Kenapa ga terus menjelaskan bahwa sebenarnya dia bersih, tidak seperti yang orang lain pikirkan. Iya sih, dia tidak menerima begitu saja. Dia menjelaskan, tapi tidak terus menerus sampai si lawan mengerti dan menghentikan segala sikap aniayanya.

Dulu, aku ga ngerti dan gereget pakai bangat. Sekarang, aku mulai mengerti.
Ternyata, usaha yang paling melelahkan adalah bicara dengan orang yang ga ngerti, dan parahnya dia juga ga mau ngerti. Orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, dan dia tidak mau tahu. 
Jadi sebusa apa pun menjelaskan, dia akan tetap begitu dengan segala sangkanya. Lebih baik memilih jadi orang waras, biarkan dia dengan ketidakngertiannya. 
Karena ternyata, tidak semua penjelasan harus keluar dari mulut kita. Tidak semua penjelasan harus disampaikan saat itu juga. Tidak semua penjelasan itu berbentuk kata-kata.
Allah swt bekerja dengan cara yang jauuuuuh dari jangkauan pikiran manusia. Makin ke sini aku makin banyak menyaksikan, bagaimana cara Allah menolong hamba-Nya yang dizholimi. Bagaimana Allah memutarbalikkan keadaan, awalnya si yang dizholimi yang dihinakan, kemudian dibalik yang menghinakan malah jadi hina dan dihinakan orang lain atas perilakunya. Ini bukan karma. Ini kehendak Allah yang luar biasa tak kan pernah ada yang bisa memprediksi. Tidak sesempit sebab akibat. Tidak sesempit setelah angka tiga adalah empat.

Dulu aku gereget, karena merasa semua pembalasan harus melalui tangan kita. Ternyata memendam rasa ingin membalas dendamnya saja udah bikin hati ga tenang, apalagi benar-benar balas dendam. Itulah kenapa diri ini harus berlapang dada memaafkan, perkara bagaimana membuat si penganiaya sadar biarlah diserahkan ke Allah. Dia Maha Adil, Maha Bijaksana. Yang pembalasan-Nya lebih waw dari yang bisa kita lakukan. Lagi pula bisa jadi memang ada yang salah dengan prilaku kita, sehingga mengakibatkan terjadinya kejadian aniaya tersebut. Jadi sambil intropeksi diri, sambil memaafkan orang lain. 
Toh, memaafkan itu bukan tentang mengalah. Justru memilih memenangkan kedamaian hati. Memaafkan itu gak ada urusannya dengan orang lain. Memaafkan adalah pilihan hati, untuk kedamaian hati.
(Tentang memaafkan, aku pernah menuliskannya di sini)

Aku juga jadi beranjak mengerti, bahwa memilih merelakan tindakan lawan --setelah usaha menjelaskan dan melawan-- adalah bukan sikap kalah dan tanpa daya. Melainkan sikap seorang pemberani. Berani memutuskan kebahagiaan diri sendiri. Dia paham bahwa tidak ada gunanya berurusan dengan orang yang gak tahu bahwa dirinya gak tahu. Dia paham bahwa hidup akan lebih berguna dengan tidak mengurus hal-hal yang hanya akan memakan waktu saja. 
Dia paham, bahwa seseorang tidak lantas menjadi hina hanya karena dihinakan. Seseorang dapat menjadi mulia bukan karena dia menghinakan orang lain. Dia paham, seseorang menjadi hina ketika dia menghinakan diri sendiri dengan menghinakan orang lain. Dia paham, bahwa seseorang menjadi mulia adalah karena memilih sikap yang mulia untuk membalas sikap penghinaan pada dirinya. 
Dia memutuskan untuk tidak menyamakan dirinya dengan si penghina. Dia memilih membalas penghinaan dengan kebaikan. Karena dia cintai dirinya. Tak rela dirinya melakukan sikap hina. Tak rela dirinya sama hinanya dengan sikap si penghina.

Aku juga makin mengerti, bahwa aku banyak ga ngertinya. 
Itulah mengapa sikap terbaik memandang sikap orang lain adalah diawali dengan landasan husnuzhon. Misalnya saat memandang sikap penganiayaan; mungkin dia tidak tahu bahwa sikapnya itu menganiaya orang lain. Atau, mungkin dia tahu tapi dia tidak tahu cara lain yang bisa dilakukan kecuali dengan cara yang kemudian mengakibatkan orang lain rugi. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Jika sudah menjadikan husnuzhon sebagai landasan berpikir, maka kita akan bisa menyikapi penganiayaan atau si penganiaya dengan cara terbaik.

Aku juga jadi mengerti, kenapa doa yang dizholimi mustajab? 
Bisa jadi sebenarnya itu adalah tantangan dari Allah. Seolah-olah berbunyi: sekarang kamu dianiaya, dan doamu mustajab. Coba, apa yang akan kamu doakan? Kejelekan atau kebaikan?
Jika doa keburukan yang kita panjatkan, dan itu mustajab, maka apa bedanya kita dengan si penganiaya yang melakukan keburukan?

Teringat kisah Abiku tentang Aki R. H. M. Karta Mangkualam, kakek buyutku. Beliau dulu bekerja di sebuah bengkel milik orang luar. Suatu hari juragannya memaki-maki Aki Karta. Menghinanya sampai keluar kata-kata yang tidak pantas. Aki Karta sakit hati bukan main. Sambil menahan panas amarah dalam dadanya, Aki Karta memanjatkan doa, "Ya Allah, hari ini aku dihina. Semoga Engkau jadikan anak cucuku menjadi orang yang sholeh, mulia, dan dimuliakan!"
Allah Maha Kuasa, Maha Mendengar. Aki Karta memiliki 3 anak lelaki, dan semuanya menjadi Kiai terpandang di masyarakat. Masing-masing putranya memiliki keturunan yang banyak, dan hampir semuanya menjadi Ustadz serta memiliki lembaga pendidikan. Cicit-cicitnya berprofesi macam-macam, menempati jabatan penting dan dimuliakan. Masya Allah, berkah doa dari yang dianiaya. 
Jika kita imani benar doa yang dianiaya itu dikabulkan, maka mengapa tak menjadikannya sebagai kesempatan emas untuk berdoa kebaikan?
Ya Allah, 
Aku makin ngerti dengan banyaknya ketidakmengertianku tentang rahasia-rahasiaMu. 
Tolong bikin aku terus kecanduan untuk mengenal-Mu.. 
Tolong bikin aku kalem memandang segala persoalan dengan kacamata husnuzhon dan keimanan. 
Karena ternyata ke-gereget-an dan sikap reaktif hanya akan berbuah rasa malu serta penyesalan.


---
Natisa,
Bandung, Agustus 2016