Showing posts with label kisah buku crayon. Show all posts
Showing posts with label kisah buku crayon. Show all posts

Tuesday, 3 January 2017

Reflektif pada Blawuritas Dunia

Kemarin, aku memposting gambar di bawah ini di akun instagram @natisa_23. Lalu mempersilakan kawan-kawan memberikan caption atau tulisan di bawah gambar tersebut. Bebas, apapun. Aku ingat perkataan salah seorang dosenku. Beliau berkata, bisa jadi orang yang menerima perkataan kita dapat lebih memaknai ketimbang makna yang sebenarnya kita miliki. Begitu pun juga maksudku mempersila kawan-kawan followers untuk menuliskan caption di bawah gambar ini, aku ingin mendapatkan kejutan pemaknaan dari mereka. Aku ingin belajar.

Dan betul. Ada dua kawan menuliskan caption indah, lalu aku menuliskan komentar juga di bawahnya, dengan segala keterbatasan pemahamanku terhadap pemaknaan mereka.
@eanggirospidia "Manusia yang lalai, layaknya dedaunan, ia akan berguguran menempa musim. Namun tak begitu dengan iman, ia akan terus bersemi dan kokoh menuju Ilah."
@natisa_23: “Mengapa ranting kering itu seperti ingin menyapa rimbun? Barangkali ia rindu merimbun. Sebab tak pernah ada hati yang mati, jika masih ada kecintaan pada kebaikan, walau setitik.”
@katsurayya “Karena semua makhluk berawal dari ketiadaan, dan akan kembali menuju ketiadaan. Bukankah waktu berjalan begitu cepat? Saat kulihat ranting itu sudah kembali berdaun dan berbunga, hingga akhirnya ditinggalkan kembali oleh daun dan bunganya. Selagi itu, sudah berapa banyak kita berbuat?”
@natisa_23 “Jika ini semua tentang waktu, meranggas ataupun merimbun bukan lagi persoalan. Jika ini semua tentang waktu, betul katamu, ini tentang seberapa giat berbekal; baik ketika kita meranggas atau merimbun.”
---
Inilah yang aku pelajari; satu gambar, banyak pemaknaan. Mana pemaknaan yang benar? Mana pemaknaan yang dikehendakiku sebagai pemilik gambar? Ternyata hidup tidak melulu terkait benar dan salah. 

Mengutip perkataan Mas Sabrang (alias Noe, vokalis band Letto), saat mengomentari hasil penelitian Pak Fahmi Basya terkait Candi Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman. Mas Sabrang bilang, “Bahwa segala sesuatu tidak bisa hanya diringkus dalam dua kotak benar atau salah. Realitas tidak sesederhana itu, kenyataan tidak hitam putih. Seperti lensa fokus sebuah kamera. Ketika kita memotret bunga kalau lensanya tidak fokus, nanti bisa kita lihat hasilnya blawur. Tapi hasil yang blawur itu benar atau salah? Kan hasilnya tetap benar bahwa itu “bunga” meskipun blawur.” 

Aku sering bercengkrama dengan banyak pembaca buku yang kutulis, Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, untuk sekadar menyimak pemaknaan mereka dari buku tersebut. Tidak jarang aku terkejut oleh pemaknaan yang tak pernah terpikirkan oleh aku sendiri sebagai penulis. Aku pun tidak bisa menyalahkan mereka, jika tidak sepemaknaan denganku. Sebagaimana ketika ada yang membaca tulisanku, lalu dia merasa tulisan itu ditujukan untuk dirinya. Padahal? Aku tersenyum saja. Mungkin pemaknaan itulah yang ia dapatkan, yang ia inginkan. Beda lagi jika pembaca dengan tulus bertanya kepada penulis, apa yang dikehendaki penulis dengan menuliskan ini itu. Maka penulis dapat dengan leluasa menjelaskan. Pada kasus ini, aku mempersilakan kawan-kawan membuat pemaknaan sendiri terhadap gambar yang aku posting. Apapun pemaknaan yang lahir, itulah yang dikehendakinya. Aku tidak bisa menyalahkan, walau aku pribadi memiliki pendapat yang lain.

Mas Sabrang juga kerap ditanya awak media terkait lirik-lirik lagunya yang sarat makna. Bahkan temanku menafsirkan lagunya Sebelum Cahaya, sebagai lagu ajakan untuk tahajjud. Mas Sabrang hanya tertawa dan berujar, “Ya bebas saja. Kalau ada yang memaknai begitu, berarti dia menginginkan pemaknaan begitu. Setiap orang bebas memaknai.”

Aku terdiam saat menyimak komentar Mas Sabrang ini. Ternyata, memersilakan orang untuk berasumsi tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi jika asumsinya itu jauh dari kenyataan yang ada. Ada sisi hati yang ingin membela, atau meninggikan suara. Namun, jika saja kita bisa menarik diri terlebih dahulu, kita akan sadar. Bahwa semua ini tentang menyimak manusia, yang memang dicipta berbeda. Kesalahpahaman ada, karena adanya perbedaan. Sedikit saja kita merayu diri untuk menyimak mereka yang berbeda, maka yang akan kita dapatkan adalah tambahan khazanah berpikir. Dengan begitu, kita akan bereaksi secara proporsional. Menyikapi mereka yang berbeda bukan sebagai musuh, tapi sebagai kesempatan untuk memicu diri membangun jalinan komunikasi yang efektif. Seperti menantang diri; bisa ga lu ngertiin pemahaman dia? bisa ga lu ambil pelajaran dari pemikirannya? bisa ga lu sampaikan pendapat pribadi ke dia dengan baik? 

Sering kali kenyataan yang ada
bukan menuntut kita bersikap reaktif,
melainkan reflektif.
Karena ilmuku masih cetek, aku sadar, apa-apa yang lalu lalang di dunia ini bukan untuk diringkus ke dalam dua kotak; benar atau salah, tapi ini tentang apa yang aku pelajari dari itu semua. Tentang benar dan salah? Ah, ilmuku masih dangkal. Untuk urusan itu aku ikut kata guruku saja. Selebihnya, aku jadikan sebagai pembelajaran. Santri salawasna.

--
Nati Sajidah

3 Januari 2017.


Sunday, 16 October 2016

Ketika Tulisanmu Di-copas

Secara manusiawi mah yah.. Tulisan sendiri dikutip tanpa sumber, dan disebarluaskan, dan dianggap sebagai tulisannya...itu rasanya atiiit... Sakitnya tuh entah dimana. Hehe.
Dan di situlah momen buat kembali nengok niat nulis, apakah untuk diakui-dikenali nama diri atau agar tersampaikan pesan? Jika tujuannya yang kedua, pada kenyataannya pesan tersampaikan bisa dengan atau tanpa nama si penulis. Hanya saja ada yang dilanggar di sini. Pelanggaran tata kaidah pengutipan. Kalau kata temen saya mah, Nisa'ul Fithri Mardani Shihab, ini tentang beradab atau tidak seseorang dalam membuat tulisan. 
Kita memaafkan pelanggaran, dan karena menyayangi dia yang melanggar maka kita memberikannya teguran atau pelajaran.

Kalau alasan tidak mengutip sumber asli itu agar terlihat orisinil hasil pemikirannya, justru sebaliknya..dengan mengutip sumber aslinya di situlah intelektualitas seseorang terlihat.
Pada akhirnya, si saya memahami rasa sakit diplagiasi itu wajar adanya. Dan menasehati diri dengan nasehat Aa Gym bagaimana menyikapi seseorang yang berlaku buruk kepada kita, yaitu dengan menjadikannya:
 Ladang bersyukur bukan kita yang bersikap jelek 
 Ladang menegur diri, agar kita tidak melakukan hal yang sama
 Ladang memaafkan dan mendoakan kebaikan yang berlaku jelek pada kita.

Alhamdulillaah 'alaa kulli haal.. Jadi bener kata guru saya, hidup mah seni bagaiamana MENYIKAPI kejadian-kejadian.
Masih kata Aa Gym, "Ga ada ruginya dibenci, yang rugi itu kalau kita yang jadi pembenci."
Iyah, gak ada ruginya diplagiasi, yang rugi itu kalau kita yang jadi plagiator.
Aa nambahin lagi, "Yang membahayakan diri kita adalah keburukan diri sendiri, bukan keburukan orang lain."
Duh, hatur nuhun yah, hey kamu yang memplagiasi.. Saya jadi ngerasa ngena gini dinasehatin Aa. ^_^

###
Nati Sajidah


Sunday, 3 July 2016

Membeli Buku NATISA

Assalamu'alaikum wr wb

Dear Para Pembaca, 



Saat ini Buku #CrayonUntukPelangiSabarmu sudah HABIS, dan tidak bisa dipesan lagi.
Mohon doanya, semoga ada kesempatan untuk mencetaknya ulang. 

Kabar baiknya, buku kedua Natisa, yaitu MEREBUT PERAN TUHAN, masih bisa dibeli di Toko Buku Gramedia (tertentu, di beberapa kota sudah habis) atau bisa juga dipesan ke:

WA/SMS:
EKO
0895-3576-11691




Terima kasih,
Semoga menjadi jalan kebaikan :)

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Natisa


Membeli Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu

Assalamu'alaikum wr wb

Dear Para Peneguh Kesabaran,



Saat ini Buku #CrayonUntukPelangiSabarmu sudah sulit ditemui di toko buku beberapa kota.
Bagi yang membutuhkan dan ingin membelinya, dapat langsung memesan ke:

WA/SMS/Line: 0857-8092-3932

atau
klik link ini:



Terima kasih,
Semoga menjadi jalan kebaikan :)

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Natisa


Wednesday, 11 November 2015

Bedah Buku di MAN Cipasung


Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, saya bedah buku di lingkungan pesantren yang didirikan seorang Kiai yang juga pahlawan penggerak, Abah Ruhiat. Seakan semangat tinggi beliau ikut hadir di hari itu, 300an peserta memenuhi Aula PSBB MAN Cipasung. Antrian registrasi sampai mengular. 




Di balik panggung saya gugup bukan main. Apa yang akan saya sampaikan di hadapan mereka yang luar biasa? Dan selalu, kalimat pamungkas untuk memulai sesuaitu itu berbunyi; bismillah. Sekadar hadir untuk ngalap barokah di tempat mulia ini. Hidup ini untuk mengumpulkan kebaikan diri, maka berikan yang terbaik dari yang kita bisa. Apakah kemudian nantinya jadi bermanfaat untuk orang lain, itu kehendak Allah. Tugas kita hanya: BERKEBAIKAN buat diri sendiri. *mantra itu yang akhirnya aku tancapkan. Bismillah, ini kesempatan untuk ngaji diri.


Alhasil tema itu pula yang dibahas di hadapan adik-adik ceria dan semangat itu. Jadilah EGOIS, melakukan kebaikan ini itu untuk mengumpulkan pundi kebaikan. Alhamdulillah, liar-luar biasa! Menangkap "aha-moment" di mata mereka. Buku CUPS ludes tak bersisa. 

Terima kasih tak terhingga kepada Ibu Kepsek MAN Cipasung, Ibu Hj. Ida Nurhalida yang telah memberikan kesempatan belajar kepada saya. Terima kasih Bu atas nasehat Ibu ini, "Tulis apa yang kamu kerjakan, dan KERJAKAN apa yang kamu tulis." *netes...
Ibu Hj. Ida Nurhalida memberikan sambutan dan nasehat jlebb. Such a present for me..
Terima kasih kepada tim pelaksana dari Ex-cool Broadcast BROWNIS MAN Cipasung yang dipimpin oleh Pak Edo. Terima kasih kepada kawan-kawan dari Bandung yang turut hadir. Terima kasih MC keceee, Fauzi Noerwenda.
Tim Broadcast BRONIS MAN Cipasung
Keseruan acara berlanjut setelah ditutup. Adik-adik menyerbu saya dengan buku tulis dan buku CUPS yang mereka beli. Semoga bisa menjadi jejak untuk kita saling mengingatkan kebaikan. Terima kasih, Bulan Utuh!







Terima kasih semuanya. Kalian liar-luar biasa! MasyaAllah 😙


###
Natisa
November, 2015





Wednesday, 4 November 2015

Di Balik Cover Buku ‪

Barusan ada sahabat kirim BBM. Dia baru saja menyelesaikan membaca Crayon dan berkata, "Sempurna, Nati, bukunya! Typography, ilustrasi, layout, konsep dan isinya... sempurna!"
Tentu saja sahabatku ini berlebihan, buatan manusia tidak ada yang sempurna, bukan? 
😊
 Segala puji hanya milik dan ditujukan kepada Allah Swt.

Lalu ada sahabat lain yang mengirimkan pesan di inbox. "Nati, aku suka cover bukumu! Itu siapa yang bikin?"
Pertanyaannya membuat aku menarik mundur mengingat saat-saat pembuatan cover. Aku bersama kawanku yang ahli desain, Suhaeli Hamdhawi, selama sebulan otak-atik cover. Selama sebulan itu pula hampir 10 cover jadi, tapi tak juga cocok. Sampai-sampai ada kawanku yang selalu menyapa di BBM tiap kali aku ganti DP cover Crayon, "Ganti lagi covernya?" 
😵😂
Akhirnya jalan keluar itu datang melalui nasihat guru kami. Dibuatlah cover Crayon yang kini sudah jadi. Filosofinya begitu dalam. Warna putih yang dijadikan latar adalah lambang kesucian hati yang selalu berusaha untuk bersabar. Warna apapun akan indah di atas latar putih. Begitu pula kehidupan. Sedahsyat apapun ujian, akan terasa indah jika memiliki hati yang sabar. Kita hadirkan warna putih, agar warna-warna kehidupan timbul dengan keindahannya. 
Tulisan 'CRAYON' yang tersusun oleh crayon warna-warni serta arahnya yang tidak sama adalah simbol dari banyak sekali dalam kehidupan ini yang dapat kita lakukan untuk meneguhkan kesabaran. Dalam hal ini, isi Buku Crayon terdiri dari variasi judul adalah CRAYON itu sendiri, yang hadir untuk meneguhkan hati. Buku ini memuat banyak 'crayon'; tentang bagaimana menerima ketetapan Tuhan, bagaimana mengisi jeda antara doa dan yang diharapkan, bagaimana mengusahakan agar hati ridha, tentang bagaimana berpasrah, bagaimana meneguhkan kesabaran agar tak hanya dapat bersabar tapi juga mendapat kebahagiaan. Sebelum naskah ini diterima dengan hangat oleh Quanta Emk, naskah ini sempat ditolak oleh salah satu penerbit yang sedang bertumbuh. Katanya, isinya terlalu variatif. Satu sama lain judulnya seperti tidak saling berkaitan, tidak satu arah. Penerbit ini memintaku merombak ulang sesuai dengan keinginannya. Aku tak mau. Karena justru di sinilah warna-warninya. Ujian manusia beragam. Ketika manusia diuji dengan ujian berat, itulah yang dapat menjadi washilah seseorang mendapat warna yang indah bagi hidupnya. Semua itu tergambarkan dalam tulisan capital CRAYON, tersusun oleh batang-batang crayon yang warna-warni. 


Guru kami pernah berkata, "Ketika kita melakukan kesalahan atau disalahsangkai, maka bersyukurlah. Itu tandanya kita manusia; bukan malaikat yang selalu benar, bukan juga iblis yang selalu salah. Kita manusia."
Ini yang kami tuangkan dalam bentuk coretan pelangi di pojok kanan atas cover. Seperti sebuah coretan kesalahan, tapi justru menjadi indah, karena dimaknai sebagai kemanusiaan yang dapat mengusahakan hati agar selalu sabar dan syukur. Putih.
Sempat editorku, Luky, mengusulkan perubahan cover karena beberapa alasan. Sekali lagi, aku tak mau. Karena ini bukan semata judul, tapi ada pesan yang ingin disampaikan, ada cerita di baliknya. Jika tanpa pengertian Mbak Linda Razad dan Luky buku ini mungkin takkan lahir. Karena kengototan penulisnya 🙈.
Kini Crayon Untuk Pelangi Sabarmu sudah dapat diperoleh di seluruh Toko Buku Gramedia. Beberapa sudah sampai di tangan pembaca. Doa terdalamku, semoga memperoleh kebaikan di dalamnya, semoga berkah, semoga Allah Swt ridha.
Aamiin ya Allah...
###
Natisa


Thursday, 20 August 2015

API SEJARAH dan Kebaikan yang Tak Kasat

Yang dibayangkan jika bersilaturahim ke sejarawan pastilah perbincangan seputar sejarah, kan? Alhamdulillah, bahkan saya mendapatkan lebiih! Ini dia yang namanya barokah. Hari Rabu, 19 Agustus 2015, saya bersama 20an kawan-kawan yang tergabung di Gerakan Husnuzhon bersilaturahim ke rumah Pak Ahmad Mansur Suryanegara, sejarawan dan penulis buku fenomenal API SEJARAH. Yang kami peroleh bukan hanya wawasan kenegaraan tapi juga tuturan nasihat dan hikmat yang luar biasa. Kami benar-benar merasakan keberkahan; kebaikan yang bertambah.

Penampilan beliau untuk mengenang jasa ulama yang berjihad untuk kemerdekaan Indonesia

Hari itu Pak Mansur  menyambut kami dengan sumringah. Beliau memakai baju koko merah, sarung dan jas, bersurban putih yang dililitkan ke kepala, dan surban merah putih yang melingkari lehernya dibiarkan menjuntai. Mengenai penampilannya yang kearaban ini beliau menjelaskan, "Sehari-hari bapak tidak berpenampilan seperti ini, hanya sekarang-sekarang saja pada Bulan Ramadhan dan Syawal. Mengingat peristiwa proklamasi yang berlangsung Bulan Ramadhan, dan mengingat ada ribuan ulama di belakang Bung Karno saat proklamasi. Para ulama itu berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dengan menggelorakan jihad. Jadi penampilan ini bukan karena arabnya, tapi karena Islam dan keindonesiaannya." tutur beliau penuh takdzhim saat menyebut ulama yang amat berperan pada kemerdekaan Indonesia. Dari pemaparan beliau, tersirat jelas peran ulama dan santri amat besar di kemerdekaan Indonesia. Beliau menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia ini, seperti yang dikatakan para kiai penyusun UUD,  adalah berkat rahmat Tuhan yang Maha Esa. Diraihnya atas perjuangan, bukan hadiah. Adakah negara yang memiliki banyak pejuang melebihi Indonesia? Tanah ini penuh keberkahan karena mengalir di atasnya darah-darah pejuang, yang tak sedikit di antaranya adalah para Kiai. 

Saat memaparkan tentang kebaikan-kebaikan negeri ini baik yang tampak ataupun tidak, beliau membahas ayat "yu'minuuna bil ghaib.. beriman kepada yang ghaib"
Surat Al-Baqarah ayat 1 s.d. 3; AlQuran ini diturunkan sebagai petunjuk bagi yang bertaqwa. Siapakah yang bertaqwa ini? Mereka yang beriman kepada yang ghaib (ayat 3). Ghaib: yang tak nampak. Pak Mansur menuturkan, jika seorang lelaki telah melafalkan akad menikahi seorang wanita, maka sejak itu ia mengikrarkan perjanjian yang amat berat. Jika berpuluh tahun kemudian, ketika istrinya telah menua dan tak lagi cantik, sang suami menyakiti istrinya, artinya dia tidak yu'minuunal bil ghaib. Tidak mampu melihat kebaikan yang kasat mata. 

Aku terhenyak di sini. Pak Mansur memberikan pemaknaan lain yang tak terduga dari kalimat yu/minuuna bilghaybi. Bukan hanya mengimani makhluk atau kejadian ghaib, tapi lebih dari pada itu. Alquran menjadi petunjuk manusia agar mendapatkan kebaikan dari apa yang tak nampak sebagai kebaikan sekalipun. Seringnya kita manusia lebih sibuk pada apa yang lahir, yang kasat mata. Kita menyukai pujian, karena terasa baik dan menyenangkan. Kita menyukai waktu lapang, karena terasa bebas melakukan apa saja. Kita menyukai keberlimpahan uang, karena merasa dapat leluasa. Kita menyukai hal-hal yang indah dipandang mata. Semua itu indah karena terlihatnya indah. Dan kita manusia tak menyukai yang lahirnya terlihat seperti keburukan, tak indah, tak menyenangkan. Padahal di situlah ujian keimanan; menemukan kebaikan dari yang ghaib, dari yang tak nampak sebagai kebaikan. Sebaliknya, sering kali pada apa-apa yang kasatnya indah-baik malah tersimpan bahaya yang harus kita waspadai. Ini pun hal yang ghaib. 
Mata hati seorang mukmin dituntut untuk dapat menembus yang kasat. Tidak hanya berhenti bahwa sesuatu itu indah, tapi dapat menembus di baliknya, dapat memperoleh kebaikan darinya. Tidak hanya melihat lahirnya bahwa sesuatu itu tak menyenangkan, tapi juga dapat memperoleh kebaikan darinya. Tentu untuk menembus hal-hal ghaib ini bukan perkara yang mudah. Itulah mengapa, AlQuran ada. Kita diberikan alatnya agar memperoleh kebaikan yang tak kasat, yaitu AlQuran. 


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."  
(Al-Baqarah: 216) 

Sebuah kehormatan dan semoga barokah
Obrolan selama dua jam lebih itu tak terasa, dan sarat pembelajaran. Rasanya gak ingin pamit, ingin terus mendapatkan limpahan ilmu beliau. Sebelum pamit, aku malu-malu memberikan bingkisan kecil Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu kepada Pak Mansur. Malu sekali sebenarnya, karena jika dibandingkan dengan buku beliau yang selama penulisannya tak batal wudhu dan dalam kondisi puasa, apalah arti coretan buku sederhanaku ini. Jauh. Karena ketawadhuannya, beliau menyambut buku itu. Membuka halaman demi halamannya, dan bertanya buku ini inspirasinya dari mana? Aku jawab dari Surat Ali Imran ayat 200 dan firmanNya tentang kebersamaan Allah Swt beserta hamba yang bersabar. Tak diduga, wajah Pak Mansur langsung terangkat dan berkata sungguh-sungguh kepadaku, "Ayat ini sering dilupakan oleh orang-orang, terkhusus pada kata bersama-nya." Beliau mulai lagi menjelaskan panjang lebar, aku yang tadinya dalam posisi berpamitan kembali duduk sempurna siap menyimak limpahan ilmunya. 

"Saya pernah makan jamuan yang sangat nikmat di Istana Presiden bersama beliau. Dikawal sejak dijemput dari rumah Bandung sampai ke Istana, tidak merasakan macet sama sekali. Tiba di istana jamuan yang terhidang semuanya nikmat. Ice creamnya nikmat sekali. Bapak Presiden juga hadir saat itu bersama saya. Itu baru hidangan yang dibersamai Presiden. Kita sering lupa ayat "Sesungguhnya Allah bersama orang yang bersabar." Kita lupa kalimat BERSAMA-nya. Baru dibersamai Presiden saja sudah luar biasa nikmatnya, apalagi dibersamai Allah. Menjadi hamba sabar itu kenikmatan luar biasa. Diberikan hidangan yang nikmat dan juga bersama Allah Sang Maha Pemberi Nikmat."

Subhanallah. Betul sekali. Ketika kita bersabar atas sesuatu, sering kali kita lupa bahwa saat itu kita sedang dibersamai Allah. Yang kita ingat hanyalah penderitaannya, sehingga kesabaran yang ada pun hanya sebatas menahan derita, bukan membersamakan diri dengan Sang Kuasa. Jika sabar yang dilaksanakan sesuai bimbingan Allah, tentulah kita akan merasakan manisnya hidangan Allah, manisnya kebersamaan dengan Allah walau sedang dalam himpitan. 

Gerakan Husnuzhon bersama Pak Ahmad Mansur Suryanegara, Sejarawan penulis Buku API SEJARAH.
Pak Mansur, terima kasih banyak atas kebaikan Bapak menerima kami. Semoga rahmat dan ridha Allah senantiasa menyertai Bapak. Terima kasih telah mendirikan masjid di hati kami. 






Wednesday, 12 August 2015

Crayon Untuk Pelangi Sabarmu: Top Ten Islamic Book



"Berharap punya santri mah satu saja." 
-Abah Ruhiat, Cipasung.

Hari ini dapet laporan penjualan Crayon Untuk Pelangi Sabarmu (CUPS) dari Bagian Promo Elexmedia. Berapa banyak? 

Menggembirakan untuk aku yang gak niat nerbitin buku. Apalagi punya banyak pembaca yang mengirimkan kesan-kesannya setelah membaca. Ada yang merasa tertolong dengan CUPS, merasa memiliki sahabat menguatkan kesabaran, menghibur di tengah kesusahan, membimbing harus kemana melanjutkan kehidupan, dll. (kumpulan kesan pembaca di sini )

Setiap mendapatkan kiriman kesan-kesan itu, setiap itu pula takjub pada Allah yang Maha Berkehendak. 
Aku juga terharu saat ada yang lantas membeli lagi dengan jumlah yang tak sedikit, katanya untuk dihadiahi kepada sahabat-sahabatnya yang perlu dikuatkan kesabarannya. 

Jauh sebelum ini, aku yakin betul; jika buku CUPS menyampaikan kebaikan, maka penerima pertama itu haruslah aku. Pengamal pertama itu haruslah aku. Buku ini ditulis untuk ngaji diri. Dengan santrinya adalah diri sendiri. 
Tidak berharap memiliki 'santri' yang lebih. Cukup satu; diri sendiri. Jika ada orang lain yang mau bergabung menjadi santri? Ayok. Jika pun tidak ada, lah niatnya juga punya santri satu aja. 
Ini yang diajarkan oleh Kiai sekaligus pejuang kemerdekaan, almarhum Abah Ruhiat, kepada santri-santrinya. 
Keinginan untuk memiliki santri yang banyak akan membawa perasaan kecewa saat yang datang ternyata sedikit. Tapi jika keinginannya hanya satu, berapapun yang datang, bahkan hanya satu, tetap semangat. 


Kemarin sore menemukan Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu di rak top ten buku islami. Lagi-lagi aku takjub pada kuasa Allah yang membawa pesan; tetaplah ngaji diri, tetaplah menjadi santri.


Wednesday, 8 July 2015

Launching Buku di Gramedia Paris Van Java Bandung

Book Launch, Rabu 8 Juli 2015.

Alhamdulillah masuk kategori number one best seller Gramedia PVJ dan Quanta Best Book.

Alhamdulillah, setelah resmi terbit tanggal 25 Mei 2015, Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu menempati rak buku best seller dan Top Ten Islamic Book. No 6 di Gramedia Merdeka, dan Number Uno (1) di Gramedia Paris Van Java, Bandung. Syukur berlimpahhh. Alhamdulillaah. Atas izinNya..


Semua ini pastinya karena dukungan banyak pihak. Doa tulus Umi dan Abi, pihak penerbit dan Editor yang selalu full support, para pembaca yang luar biasa, sahabat-sahabat yang sukarela jadi marketer dadakan, para guru yang gak pernah henti mendukung, sampai Akang-akang Gramedia yang murah hati sekali. Terima kasiiih.. Hanya Allah yang dapat membalas. 



Hari Rabu hari yang utama untuk memulai amal baik saya pilih sebagai hari pelucuran Buku #CUPS. Rabu, 8 Juli 2015 bertempat di Gramedia PVJ. Acara berlangsung lancar alhamdulillah. Terharu dengan kedatangan guru-guru, sahabat-sahabat, rekan yang sudah sekian tahun tak berjumpa, mereka menyempatkan hadir.


Fauzi Noerwenda sebagai MC yang menjadikan bedah buku ini rasa talk show.
Salah seorang pembaca buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu yang berbagi kesan-kesannya.


Acara dikemas oleh MC handal, Fauzi Noerwenda, dengan amat apik berbentuk talk show interaktif. Saya hanya memaparkan sedikit saja tentang CUPS, selanjutnya peserta bebas bertanya. Dari pertanyaan-pertanyaan itulah pemaparan tentang behind the scene CUPS terungkap. Jawaban-jawabannya keluar dengan sendirinya, tak direncanakan. Beberapa tercengang dengan fakta berapa lama saya menulis CUPS, apa yang paling sulit dalam kepenulisannya, bagaimana proses sampai jadi sebuah tulisan yang ternyata melewati berbagai fase tak biasa. Kuasa Allah..



Guru sastraku, Pak Taufik Fatahillah, membacakan salah satu puisi dalam CUPS berjudul "Bila Sabar Tak Lagi Sabar".. Sebuah kehormatan! Merinding..
Book Signing
Sebagian sahabat yang melengkapi kebahagiaan.


Akhir kata, terima kasih banyakkk kepada 50an peserta yang hadir. Sampai-sampai standing party, karena biasanya acara serupa di tempat yang sama tak pernah lebih dari 15 peserta yang hadir. Sehingga kursi yang disediakan amat terbatas. Mohon maaf, dan terima kasiiih. 



Hari itu, Akang MC punya jargon baru menutup acara, "Karena kesabaran perlu terus..?" "Diteguhkan!" jawab seluruh peserta serentak.



MaasyaaAllaah..
Semoga tercatat jadi kebaikan, yang Allah ridhai atasnya. 



Terima kasiih,
Terima cintaa.. 



Salam,
Natisa