Thursday, 24 October 2019

Bergegas Berkemas


Yang kau tuju,⠀
tak pernah mengkhianati perindu⠀

Yang kau cinta,⠀
tak kan membiarkan pencintanya sendiri tanpa peta⠀

Bukankah ini perjalanan ⠀
menuju pertemuan rindu ⠀
yang tak bisa diwakilkan?⠀

Maka bergegaslah, ⠀

Kemasi setiap kekhawatiran,⠀
masukkan ia dalam pengharapan⠀

Rangkul setiap kecemasan,⠀
lalu lepaskan dalam bilik pengaduan⠀

Maka bertawakkallah,⠀
sebab segenap usaha ⠀
dan sekhusyuk apapun doa, ⠀
takkan mampu menawar ketetapanNya⠀

Ini tentang kita⠀
Yang memilih jalan cinta⠀
Soal bagaimana ceritanya nanti di hadapan, ⠀
ah, sekehendak-Nya saja.⠀


***
Natisa, 2019.

----⠀
SHALAWAT ALFA SALAM


صَلَاةٌ مِنَ اللهِ وَاَلْفَ سَلَامْ⠀
عَلَی الْمُصْطَفَی أَحْمَدْ شَرِيْفِ الْمَقَامْ⠀
 Sholâtun minallâh wa alfa salâm ⠀
 ‘Alâl Mushthofâ Ahmad syarîfil maqôm ⠀
Seribu salam, seribu salawat bagimu wahai Ahmad, Nabi pilihan, pemilik kemuliaan⠀

سَلَامٌ سَلَامٌ گمِسْكِ الْخِتَامْ⠀
 Salâmun salâmun kamiskil khitâm⠀
Salam, salam penuh keharuman sejati ⠀

عَلَيْکُمْ أُحَيْبَا بَنَا يَاکِرَامْ⠀
 ‘Alaikum uhaibâ banâ Yâ Kirôm⠀
bagimulah cinta, duhai Manusia Utama ⠀

وَمَنْ ذِکْرُهُمْ أُنْسُنَا فِی الظَّلَامْ⠀
Wa man dzikruhum unsunâ fidh-dholâm
Siapa mengingatmu, mendapatkan cahaya dalam kegelapan, ⠀

وَنُوْرٌ لَنَا بَيْنَ هَذَا الْأَنَامْ⠀
 Wa nûrun lanâ baina Hâdzal anâm⠀
Nur cahayamu penuntun bagi kami di antara manusia yang tersesat⠀

سَکَنْتُمْ فُؤَادِی وَرَبِّ الْعِبَادْ⠀
 Sakantum fu-âdî wa robbil ‘ibâd ⠀
Demi Allah! Engkau menempati tempat di relung hatiku⠀

وَأَنْتُمْ مَرَامِی وَأَقْصَی الْمُرَاد⠀
 Wa antum marômî wa aqshôl murôd⠀
Engkau cita-cita dan keinginan tertinggiku⠀

فَهَلْ تُسْعِدُوْنِي بِصَوْفِ الْوِدَاد⠀
Fahal tus’idûnî bishoufil widâd⠀
Maka berkenankah kau membahagiakanku dengan cinta yang suci⠀

وَهَلْ تَمْنَحُوْنِی شَرِيْفَ الْمَقَام⠀
Wa hâl tamnahûnî syarîfal maqôm
Dan berkenankah kau memberiku kedudukan yang mulia⠀

أَنَا عَبْدُکُمْ يَا أْهَيْلَ الْوَفَا⠀
Anâ ‘abdukum yâ uhailal wafâ⠀
Aku milikmu, duhai Pemilik Kesempurnaan ⠀

وَفِی قُرْبِکُمْ مَرْهَمِی وَالشِّفَا⠀
Wa fî qurbikum marhamî was-syifâ⠀
Kedekatan denganmu adalah penawar dan kesembuhan


Monday, 21 October 2019

Hidup Para Pencinta


Aku saksikan hidup para pencinta, tak sepi dari derita. Justru mereka mengenali dan semakin dekat dengan Sang Cinta, sebab menjadikan beragam derita sebagai jalannya. 

Maka bahagia definisi mereka, adalah tentang hidup yang penuh cinta. 

Mereka lalui, mereka temui Yang Dicintai. 

Demikian pada Nabi Yusuf. Kau pikir mudah menjadi dirinya? Dijebak dan dijerumuskan oleh saudara-saudaranya sendiri. Dijual sebagai budak, terpisah dari Sang Ayah yang dicintai. Difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara oleh ibu angkatnya sendiri. Ia lalui semua kepelikan itu, Ia pun semakin mengenali Tuhannya, yang Maha Esa, Maha Perkasa, Maha Welas Asih, dan berkata dengan amat sahaja, "Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” 

 Ya Rabb, maka salahlah jika menganggap orang kuat itu dari sananya kuat. Sebaliknya. Ia telah lalui ragam kepayahan hidup, kelemahan diri, rayuan untuk memilih putus asa berkali-kali, bahkan bisa jadi ia sering ingin hidupnya diganti. Tapi berkali-kali itu pula, kesusahan hidup membawanya pada pengenalan terhadap yang Maha. Terhadap manusia Yang Terpuji Akhlaqnya. 

Aku saksikan hidup para pencinta justru tak berlimpah memiliki apa yang dipandang baik oleh manusia pada umumnya. Seringnya bahkan sebaliknya. Mereka dihadapkan pada ketiadaan, kesengsaraan, keterdesakan. 

Demikianlah Siti Maryam. Bagaimana ia menjadi seorang abdi Baitil Maqdis. Jauh dari ingar bingar manusia. Ia gadis suci nan jelita. Ia memilih mengabdi pada Sang Maha. Apakah kemudian berbalas kemuliaan serta merta? Bahkan ia tiba-tiba dikabarkan akan memiliki seorang putra tanpa ayah. Bagaimanakah ia menghadapi tudingan sinis penuh penghakiman? Bagaimanakah ia melalui rasa sakit melahirkan seorang diri? Bagaimanakah ia mengajak hatinya berpasrah penuh, tanpa kerisauan pada Tuhan yang telah membawanya di hidup yang tak terduga ini? Namun dengan semua pelik itu, Maryam Gadis Suci mengenali Tuhannya adalah Tuhan yang Maha Berkehendak. Yang tak terikat oleh sebab akibat. Sehingga tak ada sikap yang dimiliki Maryam kecuali berpasrah pada Sang Suka-suka, menjalani ketetapan sepenuh hati tanpa sangsi. Sebab ia yakini pasti, tak ada kehendak Tuhannya yang terjadi, kecuali hamba hanya diminta untuk menjalani. Maka lepaskan segala risau hati, Tuhan yang akan kasih solusi. Cukup jalani. 

Ya Rabb, ternyata tak ada orang kuat yang berpasrah kepadaMu, kecuali telah Kau gulirkan hidup yang penuh kebuntuan, seakan tiada pertolongan, tak ada jalan, dan Kau rontokkan segala kepercayaan, hingga ia akhirnya hanya miliki satu-satunya pilihan: berpasrah padaMu, Tuhan. 

Aku saksikan hidup pencinta, justru sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menyiksa. 

Bagaimana Nabi Ibrahim sang Kekasih Allah dihadapkan pada ketetapan: meninggalkan istri yang dicinta bersama ismail kecil di lembah yang tiada kehidupan, bahkan manusia menghindari melewatinya. Bagaimana bisa tega? Namun ia tahu, ini bukan tentang yang tampak. Melainkan tentang taat. 

Tapi bagi para pencinta, kenyamanan hidup di dunia adalah fatamorgana. Bagi mereka ada yang lebih besar, ada yang lebih menggiurkan, ada yang lebih dinantikan. Ialah pertemuan dengan Sang Maha Cinta. Dengan Kekasih Yang Maha Kasih. 

Alangkah indahnya Al-Mushtofa, hingga para pencinta rela menebus hidupnya untuknya. 

Alangkah terpujinya akhlak Baginda, hingga lelaki Badui yang tadinya canggung menemuinya, menjadi amat melebur sebab sikap Baginda yang mencintainya tanpa syarat. 

Alangkah dermawannya Datuknya Hasan itu, beliau hidup bersama puluhan sahabat faqir di beranda masjid. Tiap harinya ia makan bersama mereka, mengasuhnya, mendidiknya, mendoakannya, mencintainya. 

Alangkah bijaksananya Ayahanda Fatimah itu, tak ada janji yang tak ditepati, tak ada orang asing di mata beliau, tak ada orang berdosa bagi yang mendatanginya penuh harap pengampunan, tak ada orang bodoh bagi beliau selama berusaha menempuh perjalanan.. 

 ya Rabb.. 
Muhammadkan kami.. 

Jika menjadi pencinta selalu menjanjikan terjalnya kehidupan, 

Jika menjadi pencinta selalu diiringi dengan kesedihan, 

Jika menjadi pencinta selalu tak sepi dari hari-hari yang nestapa. 

Ya Rabb, sungguh keindahan Muhammad telah menyirnakan segala duka itu. Sebab yang ada tinggalah cahaya Muhammad, yang darinya setiap ada nampak. 

Yang darinya setiap kegelapan terasa benderang. 
Yang darinya setiap derita tak berarti apa-apa, sebab pertemuan dan kebersamaan dengannya adalah cinta. 

Tiadalah derita. Semua ini tentang cinta. 

Cinta mungkin menagih semuanya; jiwa, raga, keluarga, juga kata-kata. Bagaimana jika aku berkata begini: cinta bukan meminta segala. Namun segala ini adalah tentang cinta. 

Apa pernah kau khawatir orang yang mencintaimu akan menjerumuskanmu pada situasi yang tak bisa kau tangani? Ketahuilah, cinta kita pasti diuji. Namun manisnya cinta akan mengalahkan segala, termasuk luka juga derita di dunia. Sebab hidup sebenarnya nanti di sana. 

Ya Rasul, 
Sungguh bahagia para pencinta, 
Dan mendadak lupa, pernah menderita. 

Tiada penawanan yang lebih membebaskan, kecuali menjadi tawanan cinta Al-Musthofa.
x


Saturday, 5 October 2019

Amalan Yang Disiasati - Kebijaksanaan Guru Yang Tak Terperi

Sore itu aku takjub. Dengan cara guruku mengajari kami bagaimana "menyiasati" amal. Sekilas amat oportunis, namun ternyata amat manis!

***

Korbannya adalah temanku, Eko, dia yang sering membantuku menangani pemebelian buku-buku Natisa. Jadi admin segala macam kegiatan Masjid Darussalam. Jadi panitia apapun kegiatan masjid. Walaupun terkenal dengan julukan Marketing Jahadnya, tapi kami juga aneh masih saja seneng mengandalkan dia dalam segala hal.

Dengan segala kesibukannya itu, aku berniat memberi haknya yang sudah bantu penjualan buku. Saat itu alhamdulillah lumayan keuntungannya, ada buat dia jajan bakso sebulan 😁 (dia makan bakso sehari 2x gaess 🤣).

Niatku itu aku sampaikan ke Guru. Tak disangka, beliau menahanku. Malah meminta gajinya Eko yang akan dibayarkan tersebut untuk dikirimkan ke rekening beliau.

Aku takut kualat kalau banyak nanya. Akhirnya tanpa bertanya lagi, aku kirimkan.

Sorenya, di halaman Masjid yang sedang Guruku bangun, kami bercengkrama mencandai Eko yang super sibuk jadi admin sana sini. Lalu Guruku mengeluarkan sejumlah uang ke Mang Haji, pimpro pembangunan masjid.

"Tah, Mang. 2 juta. Buat beli bahan-bahan yang kurangnya. Ini mah dari Eko, malak gaji si Eko." Kata Guruku ringan menyerahkan setumpuk uang ke Mang Haji.

Si yang empunya nama cuma ketawa-ketawa aja. Aku malah bengong. Gustiii.. ini caramu kok licik sekali, Pak Guru.. Aku malah iri sama Eko! Entah sebesar apa hitungan amalannya sekarang.

Gimana nggaa.. uang gaji yang tadinya mau aku kasih ke Eko, hanya 300ribuan. Lalu diterima oleh Guruku, yang seorang 'Alim. Kemudian digabungkan dengan uang pribadinya, dan disedekahkan atas nama si Eko. Aku ingat penjelasan Al-Imam Suyuti menuturkan perihal pahala sedekah di dalam Kitabnya Bughiyatul Mustarsyidın, bahwasanya pahala bersedekah ada lima kategori :

(1) Satu dibalas sepuluh (1 : 10) yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani.

(2) Satu dibalas sembilan puluh (1 : 90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu.

(3) Satu dibalas sembilan ratus (1 : 900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan.

(4) Satu dibalas seratus ribu (1 : 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orang tua.

(5) Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang alim yang ahli fiqih (Guru Ngajimu).


Aku mencoba menghitung gotak gatik.

Uang Eko diserahkan kepada Guruku (seorang 'Alim, maka Eko bersedekah kepada Ulama, dia masuk kategori nomor 5! 900ribu kali lipat!).
300.000 x 900.000 = 2.700.000.000 >> 2.7M!

Tunggu, sedekahnya bukan lagi 300ribu. Tapi 2juta!

2 juta × 900ribu = xxxxkutaksanggup menghitung nol-nya 😭.

Kooo.. anda benar-benar Marketing Jahad!!!

Belum selesai sampai di situ. Lalu oleh Guruku digabungkan dengan uang pribadinya, kemudian disedekahkan atas nama Eko, untuk Masjid Darussalam.

Keberkahan apa lagi yang menandingi transaksi ini?! Sedekah Eko kepada Ahli Ilmu, disampaikan oleh Ulama ahli ilmu, untuk tempat menuntut ilmu.

Ekoooo, senyum-senyuma aja diaa.

Barangkali yang Eko inginkan dan butuhkan 300rb. Tapi yang Eko dapatkan lebih daripada itu. Sebab husnuzhon pada apapun dari Guru. Percaya aja.

Kapan lagi bisa sedekah sampai 2.7M, bahkan lebih? Kalau bukan karena Guru yang memiliki mata batin memandang jauh ke depan.

Dan si Eko masih aja cengar cengir, saat Guruku membisiki aku. "Ti, kalau masih ada sisa uang, kasih ke Eko. Buat pegangan."

Guru.. kebijaksanaan dan kasih sayang yang kau ajarkan, semoga terhias juga pada diri kami.

Muridmu yang masih segala terbatas dalam memandang dunia ini.


***
Natisa



Monday, 5 November 2018

Menukar Amalan dengan Kehendak Tuhan


Aku pernah seperjalanan antar kota, dengan seorang kawan yang belasan tahun baru berjumpa lagi. Pertanyaan yang baru sempat aku tanyakan padanya hanya satu: Bagaimana kabarmu?

Tapi ternyata satu pertanyaan itu ia jawab berjam-jam, tahu-tahu kami sudah sampai di kota tujuan. Selama kurang lebih 3 jam itu, dia menceritakan kehidupan selepas masa kami sekolah sampai dia saat ini. Ceritanya penuh dengan bunga-bunga keberhasilan, capaiannya yang bisa ke negeri ini dan itu dengan gratis, dihormati banyak orang, dan dipandang sebagai seseorang yg berilmu. Aku kagum, masyaAllah.. Dia berulang kali menekankan, semua capaiannya itu berkat kebaikan dan doanya. Hampir setiap doanya diijabah percis oleh Allah.
Aku termenung. Meraba hati yang mendadak merasa ada sesuatu mengganjal. Tapi aku coba terus menyimak ceritanya yang berapi-api. Ketika dia tak sedang menceritakan dirinya, dia menceritakan orang lain dari sudut pandangnya. Yang rasanya, dia hanya menceritakan sisi tidak baik dari orang tersebut. Seolah diposisikan, yang lain tidak lebih tinggi darinya. Aku semakin tak nyaman duduk. Aku bertanya pada diriku sendiri kenapa tidak nyaman? Padahal aku suka sekali menyimak cerita keberhasilan orang.. tapi kali ini rasanya ada yang lain. Aku berkali-kali berlindung pada Allah agar dijauhkan dari buruk pikiran dan perasaan. Iya, barangkali ini hanya karena polah hatiku saja yang tak baik. 

Dikehendakinya aku seperjalanan dengannya pastilah ada maksud. Allah ingin aku apa dan gimana, ya?

Singkat cerita, kejadian itu berlalu. Tapi masih saja meninggalkan gelisah dan tandatanya. Sampai akhirnya aku terlibat dalam diskusi antara aku, kawanku yang lain, dan sang Guru.
Kawanku bilang, kerabatnya ada yang ditugaskan ke Palu sehari sebelum musibah melanda bumi Palu. Tapi kerabatnya ini entah kenapa enggan, dan memilih ditempatkan di daerah timur lainnya. Kemudian datanglah musibah itu, dan ketika mengetahuinya, si kerabat ini spontan mengucap syukur tak jadi ke Palu. Lalu kawanku ini bertanya, gimana bisa seseorang terselamatkan ataupun terkena musibah? Itu karena apanya?

Guru kami tersenyum dan menjawab, "Kehendak Allah. Bukan karena amalan kita."
Kawanku mengernyitkan dahi. Aku menegakkan posisi duduk. Ini menarik.

Kemudian Guru menjelaskan lebih lanjut, 
"Kebaikan yang kita dapat, itu bukan karena kebaikan kita. Melainkan karena Allah Maha Baik. Jika diyakini semua capaian karena kebaikan kita, berarti kita menganggap amal kita lebih besar dari Allah. Menganggap doa kita lebih besar dari Sang Pengijabah. Dan itu bahaya."

Deg. Ini.. ini ternyata yang membuatku gelisah selepas pertemuan dengan kawan lama beberapa waktu lalu. Selama 3 jam itu, aku merasa ada yang MahaBesar yang ia ceritakan. Tapi bukan Allah..

Betul juga. Jika kita yakin bahwa kebaikan atau capaian diri lantaran kebaikan diri sendiri, maka saat tak ada balasan kebaikan, kita akan bertanya tanya, mempertanyakan janji Allah yang maha membalas. 

Akhirnya kita frustasi dengan hasil yang tak memuaskan. Sudah belasan rakaat dhuha tiap hari, tapi rizki masih terasa seret. Sudah kirim sholawat ribuan kali untuk hajat tertentu, tapi tak kunjung didapat. Sudah doa siang dan malam, tapi masih saja tak berubah. Begitulah, seolah kita sedang barter amalan dengan kehendak Tuhan. Menagih-nagih, mendikte Tuhan.

Ah, ternyata. Sekerdil itu diri, menganggap kehendak Tuhan bisa ditukar dengan amalan yang tak seberapa.

Tapi, bukankah Tuhan berjanji balasan kebaikan adalah kebaikan? 


"Betul. Dan itu diberikannya di akhirat kelak. Karena dunia ini tempat bercocok tanam, hasil atas kebaikan manusia ya di akhirat. Adapun kebaikan-kebaikan yang kita cecapi sekarang, itu atas karunia Allah. Kasih sayangnya Allah.. bukan karena kebaikan kita, jangan GR." Tukas Guru.

Ya Allah. Ternyata karena kebodohan diri, kita sering menuhankan yang lain. Seakan bisa mengatur Tuhan, membarter kehendakNya dengan amalan yg tak seberapa. Jadi kita harus bagaimana?

"Beramal ya beramal saja. Bisa beramalnya saja itu karena kebaikan Allah."
Jadi apa yang kita bisa? Gak ada ternyata. Apalagi menentukan bisa mendapat balasan kebaikan yang begini begitu.

Sekarang ramai orang menafsirkan bencana di Palu dan di tempat lainnya. Yang orang lupa, itu semua kehendak Allah, yang mengerti kehendakNya hanya Allah. Soal adanya tanda-tanda suatu kaum diazab Allah, itu untuk berkaca diri sendiri, bukan lantas dijadikan alat menghakimi orang lain mendapatkan surga atau neraka.

Obrolan kami berlanjut, semakin menarik. Tentang redaksi isi AlQuran yang beragam tema; dari peringatan, azab, sampai berita gembira. Itu untuk siapa? Guruku menjawab dengan kalimat pendek, dan seperti biasa, merenunginya perlu waktu yang sangat panjang.

Semoga lain waktu, aku bisa menuliskannya lagi, untuk mengingatkan diri.


---
Natisa
2018


Tuesday, 9 January 2018

Bagaimana Bisa Cinta Buta dan Tuli


Bagaimana bisa cinta itu buta,
padahal ia yang membuat segalanya terlihat ada?

Bagaimana bisa cinta itu menyesatkan,
padahal ia yang menjadikan pencinta menempuh jalanan kebenaran betapapun sulit.

Bagaimana bisa cinta itu tuli,
padahal ia yang melahirkan gemuruh rindu yang tak bertepi,
mengalunkan milyaran puisi.

Bagaimana bisa cinta membuatnya kehilangan logika,
padahal ialah yang menjadikan semuanya masuk akal untuk ada.

Cinta, salah satu dari asma-Nya.
Bagaimana mungkin ku sematkan buta dan tuli pada-Nya? Mahasuci Ia.



Berkata guruku,
Jika ada yang salah dengan cinta, maka bukan cinta yang jadi terdakwa. Melainkan sang pencinta yang tak mengikuti alur Cinta.
Maka untuk cinta, berdoalah …

‎اللَّهُمَّ ارزُقني حُبَّكَ، وحُبَّ مَنْ يَنْفَعُني حُبُّهُ عندَك، اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَني مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لِي فِيمَا تُحِبُّ، اللَّهُمَ مَا زَوَيْتَ عَنِّي مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ فَرَاغاً لِي فِيمَا تُحِبُّ .


ALLAAHUMMARZUQNII HUBBAKA, WA HUBBA MAN YANFA'UNII HUBBUHU 'INDAKA. ALLAAHUMMA MAA RAZAQTANII MIMMAA UHIBBU FAJ'ALHU QUWWATAN LII FIIMAA TUHIBBU. ALLAAHUMMA WA MAA ZAWAITA 'ANNII MIMMAA UHIBBU FAJ'ALHU FARAAGHAN LII FIIMAA TUHIBBU .


"Ya Allah, rizkikanlah kepadaku kecintaanMu, dan kecintaan orang yang memberiku manfaat kecintaannya di sisiMu.


Ya Allah, apa yang Engkau rizkikan kepadaku di antara yang aku cintai, maka jadikanlah kekuatan untukku melakukan apa yang Engkau cintai. .


Ya Allah, dan apa yang Engkau jauhkan dariku di antara apa yang aku cintai, maka jadikahlah kesempatan bagiku untuk melakukan apa yang Engkau cintai." (HR. Tirmidzi 3413)



---
Natisa
2018


Thursday, 21 December 2017

Dari Motto "An Australian School.."

Anak-anak di Al-Siraat Islamic College siang itu begitu ceria dan percaya diri menceritakan apa yang mereka sukai dari sekolahnya, kata mereka, "I love the teachers, they play with us and made a lot of games! And I love all people here, they come from many countries." Binar mata mereka jujur sekali menyatakan ekspresi tersebut.



Muslim Australia berasal dari banyak kebangsaan. Masing-masing unik dengan perbedaannya, dan hal itu tidak jadi masalah buat anak-anak ini. Mereka malah seneng dengan "warna-warni" kawan-kawannya. Karena perbedaan tersebut dihadirkan secara akrab di kehidupan, dipandang sebagai sesuatu yang fitrah adanya. 
Hal ini dilakukan Al-Siraat College karena mereka memiliki motto: An Australian School in the Islamic Tradition. Jadi pendidikan yang mereka lakukan bertujuan mendampingi proses belajar anak didik dengan islamic methode, agar siap hidup sebagai seorang Australian di negara nan penuh dengan keberagaman. 

“An Australian School in the Islamic Tradition”


Saya tertarik dengan motto ini. Bagaimana menjadi seorang Australia? Menjadi seorang Australian berarti siap dengan perbedaan. Jangan bayangkan penduduk Australia hanya mereka yang berkulit putih. Kami peserta Muslim Exchange Program (MEP) selama dua minggu di Australia dipertemukan dengan orang-orang Australia beragam warna. Yang Chinese, Indian, Afghan, Pakistani, Turkish, Libanian, dll. Saat perkenalan, selalu saja kami bertanya, “Where do you come from?” karena tampilan fisik mereka yang beragam. Jawaban mereka selalu sama dan tegas, “I am Australian.” Pemandu kami  hanya tertawa, katanya, “Memang butuh waktu bagi orang Indonesia untuk menyadari bahwa orang Australia bukan hanya yang berkulit putih. Mereka yang wajahnya asia atau middle east, walaupun lahir dan besar di sini, tetap saja disangka pendatang.”

Rombongan MEP disambut di Istana
Gubernur Jenderal New South Wales
Dari sanalah, saya mencoba untuk meralat pertanyaan tersebut, dan mengendapkan dalam pikiran kalau orang Australia memang beragam. Warnanya, agamanya, etnisnya, dll. Dalam kesempatan penyambutan terhormat dari Gubernur Jenderal New South Wales, Jenderal David Hurley, menegaskan kepada kami betapa beragamnya Australia. Sebagai pimpinan negara bagian NSW, beliau selalu berusaha untuk dapat mengayomi setiap kebutuhan keberagaman tersebut.


Maka motto di sekolah Al-Siraat College tadi begitu menarik dan penting. “An Australian School in the Islamic Tradition”. Keunikan negara Australia yang penuh dengan perbedaan membuat tantangan sendiri bagi penyelenggaraan pendidikan di sana. Setidaknya ketika membacanya pertama kali, saya yang bergulat di dunia pendidikan ini langsung mendapat kesan begini, “Berarti sekolah ini menyiapkan anak didiknya untuk bisa hidup di Australia dengan segalam macam kondisinya; penuh perbedaan baik perbedaan etnis, agama, bahasa, dll.”

Benar saja. Di sekolah islam ini, perbedaan itu tidak dihindari atau ditutupi. Anak-anaknya berasal dari beragam etnis. Gurunya? Tidak semua muslim, padahal sekolah Islam. Bahkan Kepala Sekolahnya pun bukan muslim. Ini sesuatu yang baru bagi saya, karena belum menemukannya di Indonesia. Saat mempresentasikan profil sekolahnya, dengan rendah hati beliau menyilakan guru-guru muslim menjelaskan bagian konsep keislaman. Mereka juga menerima pelamar guru yang beragama lain, asal bukan untuk mengajar di pelajaran agama, dan mau mengikuti aturan sekolah. Seperti, bagi guru perempuan bersedia menggunakan pakaian tertutup termasuk berkerudung. Apa tidak merasa terpaksa? “Saya suka! Karena setiap pagi tidak harus memikirkan bagaimana menata rambut. Tinggal ditutup pakai kerudung, siap deh mengajar ke sekolah!” begitu kata salah satu testimoni guru yang non muslim mengajar di sekolah Islam.

Menyelenggarakan pendididkan untuk siap menjadi seorang Australian juga berarti menyiapkan murid dengan lingkungan dan profesi yang beragam, serta memiliki pikiran terbuka. Saat dibawa keliling seputar ruangan-ruangan sekolah, kami melewati ragam ruangan workshop. Ada ruangan memasak lengkap dengan alat masaknya yang canggih-canggih. Ruangan seni, pembuatan material dari logam dan plastik, olahraga, bahasa, dll.  

Setiap kelas selalu dilengkapi dengan jendela besar-besar. Dengan jendela besar itu, pemandangan langit biru dan hamparan padang hijau terlihat sangat indah menemani pembelajaran berlangsung. Anak tidak dibatasi dengan ruang kotak tertutup, tapi dibiasakan dengan distraksi-distraksi alami dari alam. Toh, hidup memang penuh dengan tantangan, kan? Pendidikan yang terbaik adalah yang bukan hanya menyiapkan anak untuk hidup, tapi membiarkan mereka mencecapi langsung bagaimana kehidupan itu.


Desain sekolah ini juga dibuat terbuka. Banyak ruangan terbuka di antara kelas-kelas dengan langit-langit yang tinggi membuat ruangan semakin terkesan lapang. Saat memasuki gedung SD, saya dibuat jatuh cinta dengan dinding ruangan yang tak dibiarkan kosong. Dinding-dinding itu penuh dengan hasil karya seni murid yang warna-warni. Tidak ada yang seragam, semuanya beragam. Dengan begini setiap anak akan merasa berharga, dan di waktu yang bersamaan mereka menghargai karya orang lain yang berbeda dengannya.

Ada satu lagi yang menarik dari bangunan sekolah Al-Siraat. Beberapa bangunan seperti bangunan ruang karyawan, guru dan toilet dibuat dari bekas kontainer. Sebenarnya ini bangunan sementara sambil menunggu bangunan permanen jadi. Kontainer-kontainer ini bisa dipindahkan kapan saja. Iya, portabel gitu. Sangat fleksibel. Menghadapi kehidupan yang penuh perbedaan memang butuh fleksibilitas yang tinggi. An Australian School banget..



Balcombe Grammer School


Sekolah kedua yang kami kunjungi adalah Balcombe Grammar School. Apa yang saya temui di sini membuat saya terkejut berkali-kali. Seakan kompakan dengan Al-Siraat Islamic Colege, sekolah inklusif kristen ini juga menyiapkan anak-anaknya agar siap menjadi seorang Australian juga.
Sebagaimana klaim saya sebelumnya, sekolahnya orang Australia haruslah sekolah yang menyiapkan anak didiknya akrab dengan perbedaan. Bagaimana bisa akrab dengan perbedaan jika tidak didahului dengan pengetahuan tentang masing-masing perbedaan tersebut?

Di Balcombe Grammar School ini dipelajari berbagai keragaman etnis, agama, dan sejarah. Kami berkesempatan terlibat aktif di kelas sejarah dan kelas perbandingan agama. Di sana ada 10 murid SMA yang sudah menunggu kami, siap dengan pertanyaan-pertanyaannya tentang Islam. Mereka antusias, karena mereka senang mempelajari sesuatu yang berbeda. Bagi mereka, adanya perbedaan adalah untuk saling mengenal. 

Selama diskusi berlangsung, ada seorang Bapak-bapak yang terus mengamati diskusi kami. Saya berbisik bertanya kepada murid yang jadi pasangan diskusi, siapakah beliau? Dengan nada bangga, anak itu mengenalkan bahwa beliau adalah guru sejarahnya. Guru yang mengajarkan agama-agama di dunia. Yang selalu terbuka mengajak anak didiknya menganalisa dan berdialog sehat tentang perbedaan agama. Dari sanalah rasa penasaran saya terjawab. Tadinya saya penasaran bagaimana cara guru mereka mengajar hingga anak didiknya memiliki pemikiran terbuka dan dengan dewasa berdialog. Ternyata gurunya membiasakan mereka melakukan riset, dan dialog terbuka face to face seperti ini. Dari pengetahuan inilah si anak diharapkan bisa memiliki keterbukaan terhadap keberagaman yang ada di sekitarnya. Dan itu saya rasakan sendiri. Menyaksikan mereka dengan terbuka menerima penjelasan saya tentang isu-isu Islam seperti jihad, terorisme, dll. Saya juga melihat proses pendidikan di sini menjadikan murid sebagai pelaku utama, sehingga menumbuhkan kepercayaan diri mereka dalam memiliki pendapat dan bersikap.


Kepercayaan diri itu membuat mereka mengetahui apa yang dibutuhkan bagi dirinya sendiri. Saat saya bertanya kepada Jameela, siswa kelas 10 SMA, mengenai alasannya memilih kelas interfaith, dia menjawab dengan mantap, “Aku pilih kelas Interfaith karena ke depannya aku bakal bekerjasama dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu aku harus tahu tentang agama-agama. Ini berguna banget buat masa depanku. Berguna agar bisa bergaul dengan banyak orang.” Seumur dia karakternya sudah begitu kuat. Sudah tahu ke depannya akan menjadi apa, dan tahu juga apa yang dibutuhkannya. Saya semakin penasaran ingin bertemu dengan para guru, dan pimpinannya.

Selesai berdiskusi seru dengan mereka, kami diajak ke ruangan hall lagi. Dari ruangan tersebut kami bisa melihat langsung hamparan laut biru, sebab lokasi sekolah ini di atas bukit. Bertambah sempurna dengan udara pegunungannya yang sejuk. Pantas saja murid-murid di sini amat betah, kreatif, dan ekspresinya keluar. Alam sungguh memainkan peranan penting dalam pendidikan.
Di ruangan hall sekolah, ternyata makan siang sudah disiapkan. Menu makanannya amat nikmat. Mereka sengaja memesan menu makanan halal dari Burma yang dimasak oleh orangtua salah seorang muridnya.

Di sanalah kami bertemu dengan Kepala Sekolah yang ramah dan enerjik. Beliau disertai beberapa guru serta pengurus sekolah. Dalam santap siang yang hangat itu saya sampaikan kepada Kepala Sekolahnya, Mr. Matthew Dodd, tentang rasa kagum saya terhadap karakter murid-murid Balcombe School. Selama tur lingkungan sekolah, kami dipandu oleh murid-murid SMP yang dengan cakap menjelaskan tiap detil area sekolah, menjelaskan kegiatan-kegiatan yang berlangsung, dan dengan bangga juga memperkenalkan karya seni siswa dari berbagai level. Menyaksikan karya seninya, saya tidak percaya bahwa itu dibuat oleh anak-anak usia sekolahan. Sangat kreatif. Pemaparan mereka juga sopan, dalam dialog interfaith mereka kritis namun tetap sopan, terbuka, menghormati tamu, dan mengapresiasi pendapat. Akhirnya saya bertanya kepada Kepala Sekolah, apa kunci dari semua kesuksesan ini?
Mr. Matthew Dod berdasi biru sedang menceritakan filosofi sekolahnya.

Beliau tersenyum menyimak kesan kami, dan berkata, “Kami selalu berusaha menyambut tamu dengan hospitality, maka segala cerita di sekolah kami dapat tersampaikan dengan baik. Saya rasa itu diajarkan semua agama, ya?”
Semua pemaparannya rasanya layak dijadikan kata-kata mutiara dunia pendidikan. Tiap yang saya saksikan dan rasakan dari sekolah inklusif ini ternyata memang cerminan dari jati diri kepala sekolahnya. Beliau ingin tamu yang berkunjung ke sekolahnya, lalu bisa bertemu para muridnya as a person, not as a place. Beliau yakin setiap orang akan merasa berharga ketika diajak berpartisipasi. Karena itulah para muridnya dilibatkan dalam penyambutan, dan para tamunya dilibatkan dalam proses pembelajaran mereka. Pada proses pembelajaran pun para murid dijadikan sebagai pelaku utama. Kepala sekolah yang rendah hati ini bercerita bagaimana dia mendidik muridnya agar menghargai proses. Dengan memberikan sejumlah uang yang nilainya besar, beliau menantang muridnya untuk membuat café di lingkungan sekolah. Mulai dari desain ruangan, apa yang akan dijual, rencana anggaran, strategi marketingnya, hingga ke pelaporannya, semua dilakukan oleh murid. Bapak yang mengepalai bagian kurikulum menambahkan, bahwa pendidikan di sekolah ini terpusat dari dua poin utama, yaitu integrated (banyak pelajaran terintegrasi dalam satu tema) dan experience based (anak-anak meng-alam-i langsung pembelajaran).
Cafe yang dibuat oleh Siswa Balcombe Grammar School

Desain furniture, produksi makananya, dan strategi marketingnya juga dilakukan oleh para siswa
Begitu juga dengan hukuman. Ada salah satu hukuman di sekolah ini yaitu dengan memberikan benih tumbuhan. Murid yang terkena hukuman harus menanam benih tersebut, dan merawatnya hingga berbuah. “Let them growing, enjoy, and learn from the process,” satu kata mutiara lagi yang keluar dari Bapak Kepala Sekolah.

Balcombe Grammar School juga memiliki program homestay dalam rangka menjembatani dua budaya yang berbeda. Di program homestay ini, host family yang berasal dari Australia menyambut student yang berasal dari luar sebagai bagian dari keluarganya. Kedua belah pihak saling mempelajari keberagaman satu sama lain. Dan program ini amat melibatkan emosi. “Dengan melibatkan emosi, proses pembelajaran apapun akan lebih mendalam. Khususnya program homestay ini, bisa menjembatani dua budaya yang berbeda akan sangat intensif. Ini juga usaha kami mewujudkan sekolah inklusif.” Kata Kepala Sekolah menjelaskan.

Betul sekali. Terlebih yang terlibat di sini bukan hanya anak didik saja, tapi juga keluarga. Salah satu contohnya, ada murid yang berasal dari keluarga Australia menjadi host family murid asal Cina. Dengan program homestay ini, di antara keduanya terjalin hubungan emosi yang kuat. Saling mempelajari budaya dan agama satu sama lain. Saya jadi teringat dengan seorang kawan yang penah satu tahun menjadi murid pertukaran di Amerika. Antara kawan saya ini dengan host familynya terjalin ikatan yang kuat hingga sekarang. Host family-nya menjadi paham tentang agama Islam, karena sehari-hari menyaksikan langsung bagaimana kawan saya mempraktikkan ajaran Islam. Dari pemahaman tersebut, host-family-nya punya respect yang tinggi terhadap Islam.
Saat memberikan cinderamata "Si Cepot" kepada Sekolah Balcombe. Saya menemukan persamaan antara sekolah ini dengan karakter Cepot yang disukai oleh semua orang karena keterbukaan dan kerendahanhatinya.

Bersama siswa-siswi SMP Balcombe yang menjadi pemandu kami.

Setiap poin penting yang saya dapat dari kesuksesan sekolah ini, rasanya seperti ditarik balik kepada apa yang sudah saya lakukan bersama tim dalam dunia pendidikan. Selama membuat konsep besar untuk tiga sekolah dari berbagai level ataupun melatih para guru dan menjalankan pembelajaran, Mentor kami selalu menekankan pentingnya memahami sesuatu yang berbeda, perbedaan justru jadi bahan pembelajaran yang kaya, menghargai manusia dengan memanusiakannya, baik itu murid ataupun guru. Memanusiakan murid dengan menjadikannya lakon utama pembelajaran. Memanusiakan guru dengan terus memberikan mereka media belajar dan penghargaan yang mulia. Mentor kami juga senang sekali membuat pembelajaran yang melibatkan emosi manusia yang paling intim; bahagia, sedih, terkejut, menyesal, bahkan marah. Dengan emosi-emosi itu pembelajaran yang didapat lebih melekat.

Menyaksikan kebaikan-kebaikan yang ada pada Balcombe Grammar School membuat saya optimis terhadap apa yang sudah dan tengah dilakukan. Barangkali saat ini belum terlihat hasilnya, malah Allah perkenankan melihat hasil orang lain dulu yang memiliki pendirian yang sama. Jadi semakin mantap terhadap apa-apa yang sudah, sedang, dan akan dilakukan kami di dunia pendidikan.

Semua nilai yang disebutkan di atas adalah nilai-nilai yang sangat islami. Jika Al-Siraat Islamic College memiliki motto “An Australian School in the Islamic Tradition”, kalau dibolehkan saya ingin memberikan motto pada Balcombe Grammar School, yaitu, “An Australian School, with islamic values”. Setidaknya itulah kesan yang saya rasakan. Kehangatan mereka menyambut tamu menempati ruang tersendiri di hati kami. Tidak aneh sekolah ini bisa tumbuh dalam kurun waktu kurang satu dekade. 

Dari Motto "An Australian School..." ke Pesantren

Dari motto “An Australian School in the Islamic Tradition”, saya melihat pengejewantahannya adalah dengan menyelenggarakan pendidikan yang seirama dengan peribahasa, dimana kaki berpijak, di situ langit dijunjung. Pendidikan kedua sekolah ini terterima di Australia, karena mereka memiliki pengetahuan yang baik akan adat istiadat setempat.

Saya seperti diajak bercermin tentang pendidikan di Indonesia. Kita memiliki lembaga pendidikan tertua dan orisinil yaitu Pesantren. Banyak pesantren salaf dinamakan para kiainya dengan nama dusunnya. Seperti Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, Pesantren Babakan Ciwaringin di Cirebon, Pesantren Tebu Ireng di Jombang, dll. Agar apa? Penghormatan terhadap masyarakat setempat. Di Pesantren juga terkenal budaya ngalogat, yaitu memberi makna pada Kitab Kuning. Bahasa yang digunakan saat ngalogat tergantung pada lokasi pesantrennya. Jika pesantrennya ada di tanah sunda, maka memberi makna pada Kitab Kuning dengan bahasa Sunda. Begitu pula jika di tanah Jawa. Soal pendidikan karakter, Pesantren telah memulainya jauh-jauh hari. Santri tidak hanya belajar mengaji, tapi juga mengaji diri. Mandiri mengurus diri, berinteraksi dan melayani masyarakat. Di Pesantren pun seorang santri terbiasa dengan perbedaan, karena santri-santri di sebuah pesantren berasal dari berbagai daerah Indonesia. Mereka juga dibuat akrab dengan perbedaan mazhab dan ikhtilaful ulama. Semua itu dilakukan karena para Kiai tahu betul, bahwa pesantren benar-benar an Indonesian school. Sekolah untuk orang Indonesia, yang mempelajari keindonesiaan, agar dapat hidup dan berkarya untuk Indonesia.

Pendidikan yang begni, yang menurut hemat saya, pendidikan terbaik. Pendidikan yang memanusiakan manusia, setiap pihak tidak pernah berhenti belajar, kepemimpinan yang penuh teladan, dan komitmen terhadap nilai-nilai yang diusung.




***
Nati Sajidah
Konsultan Pendidikan
Alumni Muslim Exchange Program (MEP 2018) Australia-Indonesia


Monday, 17 July 2017

Menyalakan Kembali dengan Mematikan

Dulu, berselancar di dunia internet waktunya terbatas. Sepulang ngampus, mampir di Warnet 1-2 jam untuk mencari hal-hal yang sedang ditelusuri. Di antara tab browser yang terbuka, tab Facebook dibuka untuk sekadar hiburan. Mengintip kabar sahabat dan kerabat. Jika sedang kelebihan inspirasi, aku menulis notes atau status. Menulis berparagraf-paragraf, dan membaca banyak tulisan sahabat. Kita saling mengapresiasi, berdiskusi, dan berbalas komen.

Dalam waktu yang terbatas itu pula, aku membuka aplikasi YM. Janjian dengan beberapa sahabat untuk ngobrol di YM di waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Obrolan menjadi sangat hangat dan berbobot, sebab kami hanya memiliki waktu yang terbatas. Emoji-emoji YM menjadi hiburan tersendiri untuk mewakili perasaan kami; rindu, terbahak-bahak menertawakan obrolan yang tidak terkira, atau bahkan menangis. 

Dulu, scrolling kepoin hidup orang ada waktunya, ngobrol atau chatting ada waktu dan tempatnya.
Hanya 2 jam, atau 3 jam jika sedang punya uang lebih, setelah itu aku keluar dari Warnet dengan hp jadulku. Kembali ke dunia nyata. Bercengkrama dengan sahabat, berdiskusi asik tentang beragam hal, khusyuk menyelesaikan target hafalan dan bacaan, atau sekadar duduk santai menikmati sepi. Tanpa terdistraksi oleh notifikasi. Dulu, jika ada waktu menunggu biasanya akan digunakan untuk membaca atau menulis di layar hape yang ukurannya tak lebih dari 3 cm. Sekarang, waktu menunggu berjam-jam seakan tidak terasa karena dihabiskan dengan scrolling.. scrolling.. scrolling.. sampai mata pening. And then just realized that ourself dind't do anything. 

Hari ini, rasanya live in the moment menjadi sangat mahal harganya. Sebab dunia maya seakan tak lagi punya waktu, tapi keseluruhan waktu bisa dijadikan ruang untuk dunia maya. Atau kita yang sudah ditarik ke dalamnya?  Kepala dan hati disesaki oleh limpahan informasi yang tak bisa dibendung. Limpahan informasi tersebut seakan menjadi sampah yang mengendapkan inspirasi-inspirasi diri. Jika tak bisa mengendalikannya, tontonan itu semua akan menjadikan diri sebagai penonton yang bodoh. Yang memuja pada apa yang tampak, yang mengritik padahal tak tahu yang sebenarnya, yang kehabisan waktu dan belum melakukan apa-apa sebagai karya.

Sadar tidak sadar, tampilan yang kita lihat, baca, atau ikuti, menjadi gumpalan dalam jiwa. Diri menjadi sibuk dengan kehidupan orang lain. Sibuk mengomentarinya, sibuk membandingkan kondisi diri dengannya. Lalu kita lalai dengan kondisi sendiri. Apa yang sudah didapat? Apa yang akan dilakukan? Apa yang sudah diperbuat?

Sebab rindu pada ruang dan waktu yang dahulu dimiliki. 
Sebab rindu pada nyala-nyala inspirasi diri. 
Sebab rindu "menjadi aku" di "waktu yang ada", 
maka sepanjang tahun ini aku melakukan beragam puasa secara bertahap. Menonaktifkan notifikasi pada Handphone, dan memasang mode diam. Menengok hape jika mau saja. Tidak ada notifikasi grup WA, BBM, atau social media. Smartphone-ku seperti hape jadulku dulu. Untuk social media, aku berpuasa dengan deaktivasi Facebook, dari awal tahun 2017 sampai sekarang. Dan beberapa kali berpuasa Instagram, dari mulai tidak memposting, tidak scrolling, dilanjutkan dengan mencopot aplikasi, dan ujungnya; deaktivasi. Di waktu yang bersamaan, setiap ada keinginan untuk "berbuka", aku alihkan ke hal-hal nyata, seperti; membaca buku, menulis, menelaah, berdiksusi, berjalan-jalan, atau sekadar duduk manis dan say hallo pada orang-orang sekitar. Apa yang aku rasakan? I feel more ALIVE than ever! Jadi banyak tulisan yang tertulis dan buku yang terbaca, diskusi yang lebih hidup dan berbobot, dan merasakan live in every moment. Ternyata frasa hidup jadi lebih hidup itu bukan bohong. 

Kok bisa begitu? Aku tidak tahu apakah ada teorinya, tapi tidak sekali aku merasakan, ketika kita mengajak diri untuk bersosialisasi, berbaur dengan manusia lainnya, maka ada sisi dalam hati yang bersorak gembira. Bahagia yang tidak bisa digambarkan. Memang betul di dunia maya kita pun bersosialisasi, tapi panca indera kita tak merasakannya secara langsung. Tidak merasakan hangatnya genggaman tangan kawan saat kita menjabat tangannya, apalagi pelukannya, Tidak merasakan secara langsung bagaimana hati merekah melihat senyum manisnya. Panca indera kita ada dan ingin memainkan perannya. Hanya dengan bersosialisasi di dunia nyata kita bisa melakukannya. 

Dari berpuasa ini pula, aku merasa hidup menjadi lebih sederhana. Tidak rumit. Tidak banyak "diganggu" oleh hal-hal yang kita tidak bisa mengendalikannya. Sesederhana; jika ingin buka jendela, tinggal buka. 

Lalu kemarin, ada sebuah pesan masuk ke WA. Dari nomor yang tidak aku simpan dalam Hp. Beliau berucap salam, dan bertanya kemana akun-akun social mediaku? Karena sedang galau, jadi beliau mencari akun instagramku. Berharap dapat termotivasi atau tercerahkan, katanya. 

Aku membalasnya dengan mengucapkan terima kasih, dan.. "Iya, maaf Mbak. Lagi sedikit berpuasa." 

Dari pesan tersebut pula, aku sadar. Sesuatu di dunia ini pasti memiliki beberapa sisi. Di sisiku, aku harus berpuasa. Di sisi lain, ternyata keberadaan kita di dunia maya ada manfaatnya untuk sebagian orang. 

Semoga Allah Swt memberikan bimbinganNya pada kita semua.. Kapan membuka jendela, kapan menutupnya, atau kapan kita keluar darinya. 



---
www.pelangisabar.blogspot.co.id
Natisa
yang sedang berpuasa