Showing posts with label kedamaian. Show all posts
Showing posts with label kedamaian. Show all posts

Thursday, 25 May 2017

Pengakuan

Di beberapa episode kehidupan, manusia tak jarang minta pengakuan. Apalagi di zaman serba upload dan share seperti saat ini. Membuka sedikit wilayah privasi kepada publik, untuk mendapat pengakuan. Bahkan tanpa diminta, dia akan dengan sukarela membeberkannya. Memang, motifnya tak selalu mencari pengakuan, tapi bukan tak mungkin hal itu adalah salah satu alasannya. Pe-ng-aku-an. Itu tidak salah, amat manusiawi malah.

Ingin diaku agar begini dan begitu. Ingin disamakan dengan yang lain, bahwa "aku" pun begini dan begitu. Keinginan itu bisa berasal dari rasa tidak-aman, unsecure. Merasa diri harus sama, merasa diri harus menegaskan, merasa diri terancam. 

Lalu tak lama lagi kita akan disapa oleh Bulan Ramadhan. Di bulan ini ada satu amal ibadah yang memusnahkan pe-ng-AKU-an. Dimana kita diminta untuk memberikan yang terbaik tanpa dapat meng-upload atau share amalan tersebut. Apakah itu? Puasa. Siapakah yang dapat mengetahui dengan benar kualitas puasa kita? Kita bisa saja mengatakan saya sedang berpuasa, tapi itu hanya ucapan. Bukan lahiriah seperti gerakan shalat, atau besaran zakat/infaq. Mengenani kualitas puasa itu sendiri hanya Allah yang tahu.

Itulah kenapa puasa menjadi satu-satunya ibadah paling intim. Hanya Allah dan hambaNya yang tahu. Kalkulator pahala bagi ibadah puasa ini tidak lagi berlaku. Allah Swt menegaskan, puasa dinilai langsung oleh Allah. Tak lagi pakai hitungan. Maka musnahlah keinginan untuk diaku oleh manusia, yang ada tinggal pengakuan dari yang sejati: Tuhan Semesta Alam. Pengakuan dari-Nya dapat berbuah keridhaan. Jika Ia telah ridha, apalagi yang kita butuhkan?

Seseorang berpuasa atas kesadarannya sebagai hamba. Ia tak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga merayu diri agar hati dan panca indra ikut berpuasa. Mengikis keinginan untuk diaku, dan memutlakkan hati agar segala ibadah sejatinya untuk mendapatkan pengakuan dari Tuhan yang Satu.

Ramadhan membimbing manusia untuk mendapatkan pengakuan sejati. 
Biarlah sunyi di mata manusia, sebab ridha dan pengakuan Allah di atas segala-galanya.



Marhaban ya Ramadhan 🌷

===

Natisa
Pelabuhan Badas, 1438 H.


Friday, 5 May 2017

Kau Bertahan, Kau Diam?

Hasil dari perjuangan bisa jadi tak melulu berupa kemajuan. 

Kau dapat bertahan, pun sebuah perjuangan. Sebab bukan sesuatu yang mudah untuk mampu bertahan di tengah kondisi yang tak nyaman. Berapa banyak soalan di luar dugaan dapat kau damaikan? Sekali lagi, itu bukan hal yang mudah.



Di balik kebertahanan seseorang, ada harap dan juang yang tak putus walau berkali dihantam ombak keputusasaan. Namun baginya hanya ada dua pilihan; terus bergerak maju, atau tegar bertahan. Tak ada pilihan mundur ke belakang.


Apalagi jika kau terus tersenyum saat mampu bertahan. 

Tersenyum pada target-target yang seakan mengolokmu, karena tak mampu mencapainya. 

Tersenyum pada anggapan orang bahwa kau seakan tak ada kemajuan. 

Tersenyum pada standar masyarakat yang mengharuskanmu menyamai mereka. 

Tersenyum, sebab dugaan itu salah. 



Kau bertahan, bukan berhenti. 

Kau bertahan, karena masih terus berjuang. 

Dan untuk terus berjuang kita tak perlu pengakuan. 


Tersenyum saat kau berusaha merenda asa yang baru, lagi dan lagi, setiap saat asa itu redup tak berjawab. Kau tersenyum, sebab bagimu perjuangan bukan sekadar memperoleh hasil yang diinginkan. Sebab bagimu, perjuangan adalah caramu menunjukkan kehidupanmu. Keberadaanmu. Kecintaanmu pada Pemberi kehidupanmu. 


Tersenyum saat kembali menyadari bahwa perjuangan adalah ranahmu, sedangkan hasil mutlak wilayah-Nya. 

Tersenyum saat kembali merayu diri; biarlah aku tetap menjadi makhluk yang bertuhan, bukan makhluk yang merebut peran Tuhan.


Tersenyumlah, karena kau tak mau bertemu Tuhanmu dengan muka tertekuk, bukan? 

Tersenyumlah, sebab kebertahananmu bermakna megah. 


---
Natisa,
Papua, 2017.


Thursday, 23 March 2017

Linglung Seharian yang Ujungnya Buat Ngedapetin Pembelajaran Berhargaaaa

Hari ini dicoba sama kelinglungan.. Grasak grusuk berangkat dari rumah jam 4 pagi menuju stasiun.. di tengah perjalanan, ngecek dompet KTP gak ada. Alamat gak akan bisa masuk kan.. akhirnya pulang lagi ke rumah. Obrak abrik tetep gak ada, yaudah pasrah ambil passport aja. Sambil nyiapin foto KTP yang tersimpan di email.

Di tengah jalan, baru inget nyimpen KTP di salah satu saku ransel yang dibawa. Bener aja ada.. hiks, tau gitu ga usah pulang dulu ke rumah (yakan ga tauu). Sampai stasiun masih dengan terengah-engah menuju check in online, cus ngetik kode booking yang baru semalam pesen tiketnya, dan... FAILED. Gak bisa check in! Apa karena telat? Segera tanya petugas Loket, tau ngga knp? ternyata aku salah pesen tanggal, harusnya mesen tiket hari ini, malah tanggal besok 😫😓😷. Mbak2nya nawarin reschedule ke hari ini, iya juga aku baru kepikiran, eh tapi apa masih ada kursi? Alhamdulillaah ada.
Akhirnya tambah biaya reschedule, dan bernafas sedikit lega.

Cus ke Jalur 6 nyari kereta Argo Parahyangan. Ga tau kenapa pikiran ama kaki lagi gak sinkron, asal masuk gerbong aja. Taunya salah gerbong dong.. dari gerbong paling ujung ke ujungnya lagi, 2 KALI nyari baru ketemu. 
Kirain drama udah selesai.. Ternyata masih lanjut. Sampai di Gambir-Jkt jam 08.30an pesen Ojek, 2x fail sementara waktu mefet banget meeting jam 9. Akhirnya dapet, jalan deh menuju daerah Kuningan. Belum jauh jalan, tiba-tiba si Mamang berhenti. Kirain ada apa, taunya? Dia ga hapal jalan 😓.. setelah berdrama abis di jalanan, sampe juga di gedung tujuan. 

Udah sampe di Lantai 10, nelpon temen-temen kok pada ga ada. Kok bisa Nati duluan? Bener aja, aku SALAH GEDUNG. Gemeterrrr pengen nangisss. Ya Salaaaam. 
Tahan tahan tahan.. Nahan diri buat ga maki-maki diri sendiri yang ceroboh ga lihat seksama nama gedung di undangan meeting, nahan diri buat nangis sesenggukan di depan mbak2 resepsionis yang prihatin lihat bocah bawa dua gembolan. Tahannn. Fokus, harus segera ke gedung yang benernya. Alhamdulillah si Mbak yang tadi berwajah prihatin itu bantu aku buat pesen Ojek, dan nunjukin jalannya arah kemana. 

Lanjut pesen ojek menuju gedung yang BENER, yang jaraknya mayan 20 menit pakai motor. Sampai di gedung yang bener, kaki udah lemes, muka kusut masai. Apalagi hati, jangan ditanya. Baru duduk ambil nafas, mataku tertuju ke semua orang yang duduk rapi dengan masing-masing laptop di depannya. Eh, bukannya meeting kali ini koordinasi aja ya? Kok pada bawa laptop? "Kan hari ini sekalian tes sistem eLearning terbaru, Nat. Laptop kamu mana?" jawabn temenku yang di samping. DUERRRRR! Laptopku ga dibawa...lemes... kenapa.. kenapa.. Drama ini... kapan kau berakhir.    

Hiks.. aku teh kunaon atuuh. Baru dicoba dengan dicabut konsentrasi aja rasanya kepayahan. Butuh Akua? Bukan butuh akua, atau galon, atau torn aer sekalian. Ini mah kudu banyak istighfar. Kaki, pikiran, hati, semuaaa butuh pengendali. Sebaik-baik pengendali ya Tuhan Pemelihara.. astaghfirullaah.. jeda dulu jeda dulu.. melipir, biar hidup ga ketar ketir.. kata guru saya, ini indikasi hati butuh asupan dzikir lebihhhhhhh luber lagi.. 😭

Akhirnya nekat minta rekan di Kantor kirimin laptop via Ojek online. Nekat banget. Itu laptop yang baru dibeli sama perusahaan, kalau misal terjadi apa-apa bakal lebih gede lagi drama yang terjadi (apasiiiih). Bismillaah.. Aku titipin sama Engkau ya Allah.. aku mah udah lelah pisan mengandalkan kemampuan diri. Aku nyerah ya Allah.. semua bisa-ku gak ada apa-apanya. Semua itu karena Kuasa-Mu.. Nangis. Selang 30 menitan, laptop yang diantar tiba, masyaAllah.. amannnn.. makasih ya Allah.. Makasih mbak2 ojek (iya, dapet driver ojeknya perempuan yang baik hati banget.. semoga berkah berlimpah buat Mbaknya..) 

Siang hari pas adzan dzuhur, aku nyari mushola di gedung yang luas itu. Ketemu ruangan luas dan besar. Di pintunya tertulis; MUSHOLLA. Pas masuk, nyesss.. 

Ya Allah.. udah gak punya kata-kata lagi. Aku gak akan menyalahkan hari, atau mengatakan ini hari yang sial. Ngga akan. Takut makin kualat memaki waktu yang Engkau saja menjadikannya sebagai salah satu sumpah dalam AlQuran. Ngga... Semua ini semata-mata karena kelalaian diri. Astaghfirullah.. Selepas shalat dzuhur, datang kedua temanku yang akan mengerjakan shalat. Mereka heran sama aku, yang mungkin, berwajah nelangsa pisan. Aku ceritain kejadian-kejadian seharian itu. Pas nyeritaian tiket yang salah tanggal, satu temenku nyeletuk, "Alhamdulillaah ya masih tersedia kursi di tanggal ini..". Deg. Iya.. Alhamdulillah.. Iya, banyak yang harus aku syukuri di tengah-tengah kelinglungan ini.

Alhamdulillah ada yang anter-anter dari rumah ke stasiun, pas nyampe stasiun penjaga loketnya baik nawarin reschedule, alhamdulillah masih trsedia tiket hari itu, alhamdulillah walaupun sampai 2x bolak balik ke rumah dan stasiun tapi ttep kekejar waktunya. Waktu nyusurin gerbong dan bolak-balik juga, pas ketemu tempat duduknya ternyata dapet yang luas-yang disampingku kosong jadi bisa tiduraaaan sepanjang jalan.. pas naek ojek juga walaupun lieur muter2 tapi alhamdulillah aman dan selamat.. Bisa kan kalau Allah berkehendak keselamatan dan keamanannya dicabut. Astaghfirullah.. 
pas salah gedung juga para karyawannya baikkkk nunjukin aku jalan.. pas nyampe gedung yang bener juga alhamdulillah meetingnya belum mulai.. jadi punya waktu buat bernafas.. pas laptop ketinggalan, dan ada yang anterin, alhamdulilaah dapet driver yang amanah.. 


Masya Allah 😄😍.. ALHAMDULILLAAAH... banyaaaaak banget yang bisa disyukuri. Cuma kadang kemanusiaan yang dikuasai hawa nafsu ini selalunya fokus ama yang kurang-kurangnya. Padahal banyakkkkkk banget nikmat lainnya. Masya Allah.. mungkin ini hikmahnya..

Selalu cari yang baiknya.. pasti ada. Semuram apapun keadaannya, pasti ada kebaikan yang ingin Allah kehendaki buat kita. Pasti ada yang bisa di-syukuri. Yakiiiiinnnn. Dan ketika hati kita mulai jernih dapat mensyukuri sesuatu di antara rentetan kemuraman, seketika itu juga nyesssss jadi lebih tenang, damai... Alhamdulillaah.


---
Natisa
21 Maret 2017



Sunday, 25 December 2016

Ya Sudahlah .. Sampai Mati


Keingininan kita untuk menggapai sesuatu, sebab menganggap sesuatu tersebut itu amat indah, amat megah jika kita raih. Lalu benak dipenuhi angan yang mengandai. Membayangkan bagaimana diri berada di posisi yang diinginkan. Meraih apa yang diimpikan. Seakan surga dunialah di sana; jika semua yang diinginkan tercapai. Layaknya seorang anak kecil yang dihadiahi baju lebaran oleh ibunya. Jauh hari sebelum hari raya tiba, matanya tidak pernah lepas dari pakaian barunya itu. Membayangkan bagaimana eloknya ia, semua mata memandang padanya, dan ia merasa menjadi anak yang paling bahagia. Oh indahnya bermimpi. 

Nyatanya, sering kali apa yang diimpikan lebih indah daripada ketika menempuhnya. Mengapa? Karena ketika kita memimpikannya, kita tak harus melewati aral rintang, tikungan-tanjakan. Seperti ketika kau melihat pegunungan yang indah dari kejauhan. Indah. Apakah mau menuju ke sana? Siapkah dengan segala kejutannya? Ketika terus menempuh menujunya, terus menghadapi segala rintangannya, tapi seakan tak pernah jua sampai, apa yang akan dilakukan? Aku akan berdendang lagu Ya Sudahlah dari Bondan Prakoso feat Fade2Black ini...
Ketika mimpimu yang begitu indah,
tak pernah terwujud..ya sudahlah
Saat kau berlari mengejar anganmu, 
dan tak pernah sampai..ya sudahlah
Ya sudahlah, nikmati saja perjalanan ini, sambil terus memiliki kekaguman pada apa yang diangankan. Adapun capaian yang tak sesuai target waktu, hey, bukankah kita bisa membuat target yang baru? Atau sekalian saja tak usah lagi membuat target, dan mulailah menikmati perjalanan ini. 

Kawan, langkah kita menuju apa yang diimpikan tetaplah terhitung sebagai usaha. Tengok ke belakang, begitu banyak yang telah kita lakukan dan taklukan. Ego diri, ketakutan yang mencekam, keputuasaan yang datang tiba-tiba; kita telah banyak melalui itu semua. Dan betapa indah kepribadian yang telah terbentuk dari semua tempaan itu. Jika kau lelah memandang ke impian di depan yang seakan tak pernah tercapai, bolehkanlah dirimu menengok ke belakang. Berikan keistimewaan pada dirimu, dengan apresiasi segala capaiannya. Sungguh, betapa berharganya seorang diri yang terus berusaha dan bersabar atas segala ambisi yang ada. 
Apapun yang terjadi, ku kan slalu ada untukmu
Janganlah kau bersedih..coz everything’s gonna be OKAY

Yak. Kau tak pernah sendiri. Ada 'aku' di dalam aku. Ada AKU pada aku. 
Semua akan baik-baik saja, selama kita berusaha dan miliki keyakinan. Jika pun impian itu tak pernah tercapai, bukankah indah memandang pegunungan itu dari kejauhan? Ikhlaskan diri pada kondisi kini, dengan tak berhenti mengayuh langkah lagi. Barangkali kita tak disampaikan ke sana dengan tepat, sebab Tuhan melindungi kita dari bahaya yang tak pernah kita tahu. Bukankah kita sepakat, sering kali Tuhan menguji sekaligus melindungi. Menolak, tapi sebenarnya memberi. Banyak sekali yang kita dapat dari permintaan yang (seakan) ditolak, seperti kejadian-kejadian yang bisa saja tidak pernah terjadi jika kita tidak ditolak; pertemuan-pertemuan yang istimewa, hati yang berbicara penuh bijaksana. Semua itu pemberian ketika permintaan ditolak. Sadari begitu banyak yang kita peroleh, melebih apa yang kita minta dan impikan. 

Jika menoleh ke belakang sudah dilakukan, mari kita melaju lagi. Ini sebuah perjalanan yang menyenangkan, bukan? Kau dapat berjeda untuk beristirahat, atau memperbaiki perbekalan yang ada.

Hey, mari kita berdendang lagi. Kali ini dari Letto, Sampai Nanti Sampai Mati:

Kalau kau kejar mimpimu...salut
Kalau kau ingin berhenti..  ingat tuk mulai lagi
Tetap semangat, dan teguhkan hati
Di setiap hari, 
sampai nanti, 
sampai mati
...
Tetap semangat dan teguhkan hati
Di setiap hari sampai nanti
Tetap melangkah dan keraskan hati
Di setiap hari
sampai nanti, sampai nanti, 

sampai mati.
Selama nafas dihembus, selama itu pula kita akan berusaha. Sampai mati.
Sebab kita ketahui pasti, Tuhan tak pernah membebani agar kita capai sebuah status. Melainkan hanya diperintah berusaha. Tuhan tak pernah membebani agar kita pintar, hanya meminta untuk selalu terus mencari ilmu. Dia pun tak pernah memerintah kita untuk kaya, hanya meminta kita untuk selalu menjemput rizki-Nya. Dia sayangi kita, Dia hanya meminta kita berusaha. Sampai mati.



***
Natisa
Bandung, 25 Desember 2016





Tuesday, 27 September 2016

"NATI, SIAPA TUHANMU?"

Sore itu kami diajak duduk melingkari sebuah batu kristal yang dipercantik dengan kalung bebungaan. 
Suasana menjelang matahari tenggelam di dalam komplek Green School, Sibang Kaja, Bali, terasa sangat tenteram dengan alunan nyanyian alam, gesekan dedaunan bambu, suara-suara serangga bersahutan, dan aliran sungai ayung. Salah seorang panitia Educator Course membimbing kami untuk melakukan Mindfulness. Sebuah metode mirip meditasi-tapi beda, dimana kami dibimibing untuk memusatkan perhatian sedemikian rupa, menghayati apa yang sedang dilakukan, tanpa melakukan penilaian.

Sejenak merasakan badan dengan seutuhnya kesadaran. Mendengarkan suara-suara di sekeliling. Mengulas apa yang terjadi seharian, menerima segala bentuk perasaan, dan let it go. 
Biasanya mindfulness dilakukan oleh para guru GS sebelum memulai pelajaran. Sekitar 10-15 menit.

Mindfulness sore itu terasa istimewa, hampir dua jam kami diberikan waktu untuk s a d a r. Diajak untuk bersatu dengan alam, menyimak apa yang ada dalam diri, dan mensyukuri nikmat-nikmat. Aku merasa diberi waktu untuk "pause", menyimak ke kedalaman diri, tanpa sedikitpun menilai/judge. Diiringi alunan musik yang bernada lambat, para peserta mulai menyanyikan lagu-lagu "pujian".
Aku duduk di samping Michelle, seorang ibu yang berasal dari Sydney. Karena tak ma(mp)u mengikuti nyanyian, aku pilih mindfulness dengan cara sendiri; dzikir sore. Menyimak lamat-lamat dzikir yang terucap, menelisik maknanya, seakan alam ikut bertasbih dengan caranya. Tiba di surat An-Nas, aku terpaku. Allah membahasakan diriNya sebagai Tuhan Manusia. Bukan sekadar Tuhannya orang Islam. Saat itu aku duduk bersama sekitar 30-an orang dari berbagai negara dan juga keyakinan, menyanyikan puja pujian rasa syukurnya. Pikiranku melayang, ya Allah kami semua makhlukMu. Aku yakin, semua hati di sini menyadari adanya Sang Maha yang menggerakkan kehidupan sedemikian rupa. Aku yakin, semua hati di sini bersyukur akan segala nikmat, nikmat yang telah Kau limpahkan. Aku yakin, kami semua adalah makhlukMu, dalam tatapanMu. Dengan bahasa masing-masing, dengan sedikit cahaya kesadaran sebagai makhluk, tunjukkanlah kami jalan yang lurus.. Ihdinasshiraathal mustaqiim..
Michelle melirikku yang sibuk komat-kamit sendiri. Lalu dia terdiam, menghentikan nyanyiannya dan membenarkan posisi duduknya. Dia pun mulai komat-kamit sendiri.
Dua jam berlalu, akhirnya sesi Mindfulness ini selesai.
Sambil berjalan pulang menuju Lodge, aku terus berfikir mengenai mindfulness ini, yang mengajari kesadaran terhadap apa yg dilihat, didengar, dan dilakukan. Tidak sekadar gerak random atau rutinitas, tapi benar-benar living in the moment. Begitu mungkin definisi lain dari khusyu'. Aku bergidik ketika membayangkan, andai di setiap shalat, dzikir, dan doa kita benar-benar hadir, benar-benar sadar. Apa yang akan terjadi?
Tiba-tiba seseorang dari belakang menyusul mensejajarkan langkahnya denganku. Tanpa basa-basi, dia bertanya,
"Nati, who is your God?" 
Dia, Michelle! Wajahnya penuh tanya.
Tadi Michelle bilang apa? Oh, dia bertanya siapa Tuhanku. Mungkin karena tadi dia melihatku tidak mengikuti nyanyian puji-pujian seperti yang lainnya, atau mungkin karena melihat pakaianku yang tertutup beda dengan yang lainnya, atau mungkin penasaran dengan apa yang aku baca? Belum sempat aku jawab, dia kembali bertanya, "is He in heaven or in Earth?"

Pertanyaan tentang Tuhan.. Ya Allah, hanya Engkau yang dapat menjelaskan siapa Engkau.. 
"My God is who created me, dan yang menciptakan surga juga bumi." Jawabku. Wajahnya masih menyimpan tanda tanya besar. Aku berusaha untuk menahan penjelasan yang lebih rumit, padahal di kepala ini udah pengen jelasin 20 sifat wajib Allah yang di antaranya Allah berbeda dengan makhlukNya yang membutuhkan tempat, atau letupan2 tafsir surat Alfatihah dimana Allah mengenalkan Zat-Nya dari ayat pertama sampai ayat ketiga. Aku tahan. Dia membutuhkan jawaban dari yang dia tanyakan, bukan semua isi kepalaku, dan aku belum tahu arah pertanyaannya kemana. Seperti yang kuduga dia kemudian bertanya, "Tadi kamu baca apa?"

"Tadi aku baca doa-doa yang diajarkan Tuhanku lewat nabinya, Nabi Muhammad Saw. Doa-doa itu ada dalam kitab suci kami, Al-Qur'an."
Kerutan di dahinya bertambah, "Tuhanmu berkata-kata? Apa isi dari doa-doa itu?"
Aku mereview kembali apa yang kubaca tadi; alfatihah, penggalan ayat-ayat surat AlBaqarah, surat-surat pendek, dan beberapa doa dari hadits Nabi. Jadi apa isi semua doa itu?
"Iya, Tuhanku berfirman kepada Nabi kami, seluruh firmanNya adalah petunjuk hidup bagi kami. Doa-doa yang tadi aku baca isinya meminta perlindungan kepada Allah Swt, memujaNya, dan menyampaikan rasa syukur kepadaNya yang telah menciptakan, melindungi, dan memelihara makhluk-Nya."
Raut muka Michelle seketika cerah, "So beautiful, Nati!"
Aku bertanya balik, "Michelle, tadi selama dua jam kamu membaca apa?"
Michele tersenyum manis. Mata beningnya ikut berbicara,
"Aku menyampaikan rasa terima kasihku, rasa syukurku kepada My Jesus, He saves my life. Suamiku meninggal dalam usia muda pernikahan kami. Aku membesarkan anak-anakku sendirian. Aku bersyukur aku dapat melalui masa-masa sulit. Jika tanpaNya sepertinya aku gak akan bisa melalui semua itu."

Lalu mengalirlah cerita hidupnya yang luar biasa. Sambil menyimak ceritanya tanpa sengaja mataku menangkap ukiran tato di lengannya. Sebuah kalimat yang indah, "Don't cry because it's over, smile because it happened." Kalimat yang penuh kekuatan dan penerimaan.
Dia menceritakan kesedihan hidupnya, tapi sama sekali aku tak menangkap raut kesedihan melainkan kebahagiaan. Hati yang penuh syukur. Bayangkan, dia selama dua jam tadi komat-kamit mengucapkan rasa syukurnya, dengan bahasanya sendiri. Apakah aku bisa dalam waktu dua jam melakukan hal yang sama? "Bercengkrama" dengan Tuhan selama itu, tidak meminta apa pun-tidak mengkomplain apa pun-tidak merajuk sedikit pun, hanya bersyukur. Apakah bisa? Apakah rasa syukur ini yang membuatnya mampu melalui cobaan-cobaan hidupnya? Allah Swt menjanjikan kepada yang bersyukur, niscaya akan Ia tambah nikmatNya. Apakah hati yang kuat adalah bentuk lain "tambahan nikmat" bagi makhluk-Nya yang bersyukur? Semakin aku sadar, bahwa bersyukur ialah cara termudah untuk bersabar.
Aku menggenggam tangannya yang lembut, "Michele, you really own beautiful heart, beautiful soul!" Aku berkaca-kaca, dan tak menyangka wanita 50 tahunan itu pun sama harunya. Dia menghentikan langkahnya, dan memelukku, mencium kedua pipiku. "Oo Nati! Aku baru kali ini bertemu orang seperti kamu. Baru kali ini aku merasa berharga!" 
Kami terhanyut bahagia yang ambigu. Masih terdekap keheranan mengapa dia begitu terharu. Aku hanya mengungkapkan rasa kagumku kepada hatinya yang penuh syukur. Rasa cemburuku.

Masya Allah.. 
Teringat perkataan Imam At-Tabari dalam kitab tafsirnya. Makna Rabb tak sekadar Tuhan. Rabb ialah Al-Khaaliq; yang menciptakan. Rabb ialah Al-Maalik; yang Menguasai. Rabb ialah Sang Pemelihara. Dan Allah adalah Rabbul 'aalamiin.. Tuhan Pencipta-Penguasa-Pemelihara semesta alam.

Dialah Rahman Rahim. Yang kasihNya dirasakan oleh semua makhluk-Nya, baik yang beriman ataupun tidak. Senja itu, aku menyaksikan kuasa dari Kasih SayangNya, yang mengokohkan hati rapuh menjadi sekuat senyuman indah di langit jingga.
Bila manusia benar-benar khalifah Allah di muka bumi, wakil Allah di muka bumi, dan Allah adalah Rahman Rahim; maka semoga aku termasuk dari sekumpulan para pecinta yang menghadirkan Rahmatan lil 'alamin ...


###
Nati Sajidah
27 Sept 2016

Memori dari Educator Course yang diselenggarakan Green School Bali, 29 Agustus - 2 September 2016.


Saturday, 3 September 2016

Antara ISIS, Islam, dan Kedamaian

"And how about ISIS? Are they representation of Islam?" 
Tanyanya setelah menanyakan tentang gerakan shalat; apakah shalat menghadap ke satu arah atau bebas mengarah kemana saja; apakah shalat sama dengan meditasi, apa kegunaannya, dll. She is from Hongkong, one of my buddies study during Educator Course last week. 
Karena tempat tidur kami bersebelahan, dia yang selalu melihat saat aku melaksanakan shalat. Memerhatikan apa yang dibaca, dan mengapa menghadap "tembok". Aku perlihatkan gambar Ka'bah yang dikelilingi jutaan manusia. Dengan terkejut dia bertanya untuk meyakinkan, "Itu semua manusia? Jadi semua manusia muslim di seluruh dunia shalat menghadap benda itu? Mengapa menyembah benda hitam itu?"
"Ya! Ka'bah sebuah bangunan, kami tidak menyembah bangunan mati. Melainkan itu simbol bahwa kami hamba dari Tuhan yang Maha Satu. Apapun warna kulit kami, dari mana pun asal kami, di hadapan Dia kami sama-sama hamba." Jawabku sambil memerlihatkan gambar Ka'bah yang lain. Dia masih terpana dengan fenomena jutaan manusia mengelilingi satu titik. Beberapa saat kemudian dia sedikit memundurkan posisi tempat duduknya, dan bertanya, "And how about ISIS? Are they representation of Islam?"

Ini dia... Seperti seluruh pertanyaan yang lainnya, aku selalu merasa harus sangat hati-hati menjawab. Memohon kepada Allah agar di setiap jawaban yg keluar ini mengandung kebaikan, tidak menyakiti perasaan siapapun. 
Selama seminggu merasakan menjadi minoritas, sebuah pengalaman yang warrbiyasah. Gak bisa berprilaku seenaknya, harus selalu memerhatikan yang lain. Teringat pesan Abi sebelum pergi haji bersamaan dengan aku harus pergi ke acara ini. Abi bilang, "Membaur tanpa harus melebur." Bergabung dengan 25 peserta Educator Course dari 12 negara berbeda di tanah subur Bali, dan menjadi satu di antara dua peserta muslim, memberikanku banyak pelajaran. Bahwa hal pertama yang orang lain rasakan dari kehadiran kita adalah perilaku diri. Bukan hafalan teori, dalil, dan segudang argumen. Melainkan akhlaq, bagaimana kita membawakan diri kita di antara sebuah komunitas. Aku punnn masih jauuuuh dari akhlaq terpuji. Tapi sangat terpatri dengan pepatah sunda, "Someah, Hade Ka Semah", atau "ramah, berlaku baik kepada tamu." 
Temanku ini seorang pencinta hewan. Di pagi hari ketiga Course aku kehilangan dia, ternyata dia berjalan-jalan sendiri di sekitaran hutan. Menemukan seekor babi, yang menurutnya sangat lucu, sedang makan dan mengorek-ngorek tanah. Dengan bahagianya dia memerlihatkan kepadaku video babi-lucunya itu, dan aku? "Ahya, lucu banget!" Sambil menahan meringis.. Rupanya dia sedang merindukan ternak babi dan anjingnya di Hongkong.

Lalu tentang pertanyaannya tadi.. Sejujurnya aku takut saat menjawab pertanyaan ini, akhirnya aku menjawab, "Well, do you know what ISLAM means? Islam taken from arabic word, its means: PEACE. Why? Karena Islam mengajarkan kedamaian. Dalam kitab suci kami tertulis tentang tujuan mengapa manusia dihidupkan adalah untuk menjadi seorang Leader yang spread love and kindness on earth. Not only to human, but to the mother nature, and even the animals! Dalam agama kami, ada kisah yang ditutur; seorang wanita pezina yang sudah lumur dengan dosa dia masuk surga karena kasih sayangnya kepada seekor anjing. Dia memberikan minum saat anjing itu kehausan. Dan saya belajar banyak bagaimana menyayangi binatang dari kamu looh..!" Dia tersenyum bahagia, "Oh, really?!"

"Tentang ISIS, aku ga bisa menjawabnya. Terorisme tidak memiliki agama, artinya bisa saja terjadi di agama mana pun, dan mengaku-aku sebagai agama mana saja. Islam agama yang penuh kasih sayang, nabinya aja bermakna "Yang Terpuji".. Jadi kamu bisa menilai mana yang sebenarnya yg merepresentasikan Islam. Agama kami tidak mengajarkan kekerasan, sebaliknya, agama kami agama yang penuh kasih sayang dan kebaikan."

Temanku mengangguk-angguk menyimak dengan simpati, lalu menimpali, "Terima kasih, Nati. Ini baru kali pertama aku punya teman muslim. Selama ini aku dengar Islam hanya tentang ISIS dan terorisme. Itulah kenapa aku menanyakan hal ini, karena apa yang aku dengar tentang Islam teroris sangat berbeda dengan yang aku saksikan langsung dengan praktek bagaimana kamu beragama!"


Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad.. Jadi kangen sama Junjungan yang Terpuji..



###
Nati Sajidah

Memori dari Educator Course yang diselenggarakan Green School Bali, 29 Agustus - 2 September 2016.


Thursday, 1 September 2016

Sebagai Tanda Cinta


"Are you believe in One God?" tanya teman dari Brazil sepulang aktivitas Educator Course menuju tempat kami menginap. Sambil berjalan menyusuri komplek hijau Green School dan Sungai Ayung, kami terus berdialog dengan pertanyaannya yang berkembang terus; apa kamu yakin ada kehidupan setelah kematian?; Apa manusia hanya punya satu kesempatan?; Apa kamu percaya Jesus anak Tuhan?;

Dan sampailah pada pertanyaan, "I am sorry to asking you this question, kenapa kamu menutup seluruh badanmu kayak gini?" langkahnya dihentikan dan menunjuk aku yang berjilbab.
Mungkin ini pertanyaannya yang paling membuatnya penasaran. Di tengah cuaca Bali yang fanas, ditambah aktivitas selama Educator Course yang padat mudah banget ngucurin keringat, tapi aku malah memakai baju tertutup. Aku mencoba menjawabnya dengan bahasa inggris seadanya, pacampur dengan lintasan kosakata Bahasa Arab dan Bahasa Sunda yang suka ojol-ojol eksis. 
"Kenapa aku menutup badanku seperti ini? Karena Tuhan memintaku untuk melakukannya, sebagai tanda cintaNya Dia menjaga hambaNya."
Kelopak matanya membulat, "Apa kamu merasa terjaga dengan berpakaian seperti ini?"
"Sure. Bukan hanya merasa terjaga, tapi juga merasa dicinta. Tuhanku selalu menginginkan yang terbaik bagi hamba-Nya."
Kali ini dia menghentikan langkahnya, "Nice! His obligation make you feeling loved. Its so amazing!"

Aku tersenyum. Mengingat di hari sebelumnya, salah seorang teman dari Portugal juga bertanya, "Apa kamu gak ngerasa kepanasan? Kelihatannya ngga yaa, pasti karena kamu udah biasa."
Waktu itu aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Hari ini aku sadar. Bukan karena hanya sudah terbiasa, tapi ini tanda cinta Tuhan pada hamba. Dia selalu inginkan yang terbaik, maka Ia menjaga.



###
Nati Sajidah
*Memori dari Educator Course yang diselenggarakan Green School Bali, 29 Agustus - 2 September 2016.


Tuesday, 9 August 2016

Dulu, Aku Suka Gereget Sama Orang yang Terlalu Sholeh

Dulu, aku suka gereget sama orang yang terlalu sholeh
Dia dianiaya, tapi tidak ngotot membalas atau menjelaskan dengan gamblang sampai si lawan bicara benar-benar mengerti. Gereget, karena sebenarnya dia bisa saja membalas dengan lebih pedas, sampai si lawan keok mati kutu, tapi dia ga melakukannya. Gereget, karena kok rela aja dihinakan. Kenapa ga membalas? Kenapa ga terus menjelaskan bahwa sebenarnya dia bersih, tidak seperti yang orang lain pikirkan. Iya sih, dia tidak menerima begitu saja. Dia menjelaskan, tapi tidak terus menerus sampai si lawan mengerti dan menghentikan segala sikap aniayanya.

Dulu, aku ga ngerti dan gereget pakai bangat. Sekarang, aku mulai mengerti.
Ternyata, usaha yang paling melelahkan adalah bicara dengan orang yang ga ngerti, dan parahnya dia juga ga mau ngerti. Orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu, dan dia tidak mau tahu. 
Jadi sebusa apa pun menjelaskan, dia akan tetap begitu dengan segala sangkanya. Lebih baik memilih jadi orang waras, biarkan dia dengan ketidakngertiannya. 
Karena ternyata, tidak semua penjelasan harus keluar dari mulut kita. Tidak semua penjelasan harus disampaikan saat itu juga. Tidak semua penjelasan itu berbentuk kata-kata.
Allah swt bekerja dengan cara yang jauuuuuh dari jangkauan pikiran manusia. Makin ke sini aku makin banyak menyaksikan, bagaimana cara Allah menolong hamba-Nya yang dizholimi. Bagaimana Allah memutarbalikkan keadaan, awalnya si yang dizholimi yang dihinakan, kemudian dibalik yang menghinakan malah jadi hina dan dihinakan orang lain atas perilakunya. Ini bukan karma. Ini kehendak Allah yang luar biasa tak kan pernah ada yang bisa memprediksi. Tidak sesempit sebab akibat. Tidak sesempit setelah angka tiga adalah empat.

Dulu aku gereget, karena merasa semua pembalasan harus melalui tangan kita. Ternyata memendam rasa ingin membalas dendamnya saja udah bikin hati ga tenang, apalagi benar-benar balas dendam. Itulah kenapa diri ini harus berlapang dada memaafkan, perkara bagaimana membuat si penganiaya sadar biarlah diserahkan ke Allah. Dia Maha Adil, Maha Bijaksana. Yang pembalasan-Nya lebih waw dari yang bisa kita lakukan. Lagi pula bisa jadi memang ada yang salah dengan prilaku kita, sehingga mengakibatkan terjadinya kejadian aniaya tersebut. Jadi sambil intropeksi diri, sambil memaafkan orang lain. 
Toh, memaafkan itu bukan tentang mengalah. Justru memilih memenangkan kedamaian hati. Memaafkan itu gak ada urusannya dengan orang lain. Memaafkan adalah pilihan hati, untuk kedamaian hati.
(Tentang memaafkan, aku pernah menuliskannya di sini)

Aku juga jadi beranjak mengerti, bahwa memilih merelakan tindakan lawan --setelah usaha menjelaskan dan melawan-- adalah bukan sikap kalah dan tanpa daya. Melainkan sikap seorang pemberani. Berani memutuskan kebahagiaan diri sendiri. Dia paham bahwa tidak ada gunanya berurusan dengan orang yang gak tahu bahwa dirinya gak tahu. Dia paham bahwa hidup akan lebih berguna dengan tidak mengurus hal-hal yang hanya akan memakan waktu saja. 
Dia paham, bahwa seseorang tidak lantas menjadi hina hanya karena dihinakan. Seseorang dapat menjadi mulia bukan karena dia menghinakan orang lain. Dia paham, seseorang menjadi hina ketika dia menghinakan diri sendiri dengan menghinakan orang lain. Dia paham, bahwa seseorang menjadi mulia adalah karena memilih sikap yang mulia untuk membalas sikap penghinaan pada dirinya. 
Dia memutuskan untuk tidak menyamakan dirinya dengan si penghina. Dia memilih membalas penghinaan dengan kebaikan. Karena dia cintai dirinya. Tak rela dirinya melakukan sikap hina. Tak rela dirinya sama hinanya dengan sikap si penghina.

Aku juga makin mengerti, bahwa aku banyak ga ngertinya. 
Itulah mengapa sikap terbaik memandang sikap orang lain adalah diawali dengan landasan husnuzhon. Misalnya saat memandang sikap penganiayaan; mungkin dia tidak tahu bahwa sikapnya itu menganiaya orang lain. Atau, mungkin dia tahu tapi dia tidak tahu cara lain yang bisa dilakukan kecuali dengan cara yang kemudian mengakibatkan orang lain rugi. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Jika sudah menjadikan husnuzhon sebagai landasan berpikir, maka kita akan bisa menyikapi penganiayaan atau si penganiaya dengan cara terbaik.

Aku juga jadi mengerti, kenapa doa yang dizholimi mustajab? 
Bisa jadi sebenarnya itu adalah tantangan dari Allah. Seolah-olah berbunyi: sekarang kamu dianiaya, dan doamu mustajab. Coba, apa yang akan kamu doakan? Kejelekan atau kebaikan?
Jika doa keburukan yang kita panjatkan, dan itu mustajab, maka apa bedanya kita dengan si penganiaya yang melakukan keburukan?

Teringat kisah Abiku tentang Aki R. H. M. Karta Mangkualam, kakek buyutku. Beliau dulu bekerja di sebuah bengkel milik orang luar. Suatu hari juragannya memaki-maki Aki Karta. Menghinanya sampai keluar kata-kata yang tidak pantas. Aki Karta sakit hati bukan main. Sambil menahan panas amarah dalam dadanya, Aki Karta memanjatkan doa, "Ya Allah, hari ini aku dihina. Semoga Engkau jadikan anak cucuku menjadi orang yang sholeh, mulia, dan dimuliakan!"
Allah Maha Kuasa, Maha Mendengar. Aki Karta memiliki 3 anak lelaki, dan semuanya menjadi Kiai terpandang di masyarakat. Masing-masing putranya memiliki keturunan yang banyak, dan hampir semuanya menjadi Ustadz serta memiliki lembaga pendidikan. Cicit-cicitnya berprofesi macam-macam, menempati jabatan penting dan dimuliakan. Masya Allah, berkah doa dari yang dianiaya. 
Jika kita imani benar doa yang dianiaya itu dikabulkan, maka mengapa tak menjadikannya sebagai kesempatan emas untuk berdoa kebaikan?
Ya Allah, 
Aku makin ngerti dengan banyaknya ketidakmengertianku tentang rahasia-rahasiaMu. 
Tolong bikin aku terus kecanduan untuk mengenal-Mu.. 
Tolong bikin aku kalem memandang segala persoalan dengan kacamata husnuzhon dan keimanan. 
Karena ternyata ke-gereget-an dan sikap reaktif hanya akan berbuah rasa malu serta penyesalan.


---
Natisa,
Bandung, Agustus 2016


Tuesday, 26 July 2016

Bagaimanakah Kondisi Hati Nabi Yusuf Saat itu?

Bagaimanakah kondisi hati Nabi Yusuf saat itu?

Ia tertampan di antara saudaranya,
Ia terkasih di mata ayahnya,
Namun apa daya, sepuluh saudaranya membencinya.

Dengan gagah, para abangnya ingin mengajaknya bermain.
Yusuf kecil girang bukan kepalang.
Ia merasa dilibatkan.
Namun apa nyana, di tengah padang pasir ia dimasukkan ke dalam sumur.
Perih tak terperi. Ia dianiaya saudara sendiri.

Berhari-hari dilalui,
Ia seorang diri tanpa pakaian melindungi,
Lembab, juga sunyi.
Datanglah sekelompok kafilah.
Ia berseri menyambut ketetapan Ilahi.
Tali dijuulur,
Akhirnya ia keluar dari sumur,
Namun apa yang terjadi, ia dijual jadi budak dengan harga yang teramat rendah.

Yusuf kecil menerimanya,
ia beralih dari satu ketetapan Allah ke ketetapanNya yang lain.

Datang seorang pejabat membelinya
Bahkan ia dibeli bukan untuk dijadikan budak,
Pejabat itu ingin menjadikannya sebagai anak,
Akhirnya Yusuf kecil terbina di keluarga mulia,
Namun apa sesudahnya, ia disayang ia pun jadi mangsa.

Ibu tirinya terpikat
oleh pesona Yusuf
dimintanya agar memenuhi syahwatnya

Yusuf berlari,
dan berkata, "Penjara lebih aku sukai"

Yusuf menjadi tahanan,
Lalu selesaikah di sini segala ujian?
Ia seorang yang mulia, anaknya dari Nabi Ya'qub yang mulia, dari kakeknya Nabi Ishaq yang mulia, dan Datuknya Nabi Ibrahim yang mulia,
Ayah-kakek moyangnya seorang Nabi,
Kemuliaan apa lagi yang kurang untuk mendapatkan hidup tanpa ujiaan?
Nabi Yusuf seorang yang penuh kemuliaan harus berlapang mendekam di penjara.
Di sinilah terpampang,
Bahwa ujian Allah bukan berarti penghinaan, 
melainkan tanda cinta, tanda kemuliaan, tanda kasih-sayangNya..
ujian adalah tangga untuk dipijaki.

Berbelas tahun lamanya Nabi Yusuf ditahan,
Ia hampir saja bebas,
2 tahanan yang ia bantu,
berjanji akan membantu Yusuf keluar dari penjara itu,
Namun ketika bebas, lupalah meraka pada jasanya yang dulu.

Lihatlah,
Bagaimanakah kondisi hati Nabi Yusuf saat itu?
Dari harapan yang tinggi, kemudian jatuh.
Berkali-kali..

Tak sekali,
Tapi tiap kali ia berharap, dan merasa seolah keadaan akan membaik,
tiap kali itu pula Allah mencandainya.

Duhai,
Benarlah kata Ulama,
Surat Yusuf adalah surat yang banyak mencerita tentang putus asa,
Nabi Yusuf harusnya sudah terputus asanya.
Sebaliknya, keyakinannya semakin berlipat tebalnya
Pada pertolongan Allah.
Pada janji Allah.

Atas dasar apa Yusuf dianiaya?
Apakah karena buruk perangainya?
Sekali-kali tidak.
Ia Yusuf sang pemilik hati yang lembut.
Bahkan manusia seperti Yusuf saja dibenci,
apatah lagi kita yang kebaikannya bisa dihitung jari.

Jika hari ini kita dibenci, disalahsangkai,
katakan pada diri,
Berbahagialah, duhai hati.. 
Kebencian orang padamu tak membuatmu dijerumuskan dalam bahaya, 
tak membuatmu dipisahkan dari orang yang dicintai berpuluh tahun lamanya, 
dan kau tak dibenci oleh saudara sendiri.
Berbahagialah, duhai hati.. 
sangka buruk orang lain padamu sekali-kali tak membuatmu lantas jadi buruk, 
lihatlah Yusuf, ia disangka sedemikian buruk, namun ia tetap terpilih dan termuliakan.


Nabi Yusuf, yang lembut..
Ajari kami mengobati hati,
yang berkali disakiti,
bahkan oleh orang yang dicintai,
Bagaimanakah memberikan penawar padanya?
Bagaimanakah memaafkan, tanpa hati mendendam?


Nabi Yusuf, terkasih..
Ajari kami agar tak pernah putus asa,
pada pertolongan Allah yang Maha Kuasa,
pada kebenaran janji-Nya yang tak pernah alpa.

Duhai,
Benarlah kata Ulama;

Yusuf dipenjara, karena ketampanan parasnya,
Yusuf bebas dari penjara, karena ketampanan hati dan akhlaknya.

Apakah itu pertanda,
Kunci menghadapi ujian adalah mempersolek hati dan perangai kita?

Duhai, Nabi Muhammad Al-Musthofa,
Kini kami tahu, mengapa surat ini turun ketika Baginda dilanda kesedihan tak berujung,
Ialah karena Nabi Yusuf seolah menghibur,
Bahwa cerita duka yang bertubi-tubi pun pasti miliki akhir.

Duhai, Nabi Muhammad Al-Musthofa,
Kini kami tahu, atas sabdamu; sesiapa yang membaca Surah Yusuf maka hilanglah kesedihan,
Karena kami menjadi malu, kesedihan dan luka kami belum seberapa dibanding segala ujian Nabi Yusuf.

dan kami jadi mengerti, 
sering kali Allah sedang menguji, 
di waktu yang bersamaan Ia pun sedang melindungi.


***
Natisa,
Bandung, Syawal 1437 H.



Sunday, 3 July 2016

Waktu dan Kekhawatiran-kekhawatiran Itu

Waktu yang telah ditetapkanNya tak bisa disegerakan atau ditangguhkan. Walau seluruh makhluk bumi berusaha mengerahkan.

Kemarin saya ketinggalan travel jam 3.45 dini hari. Jam pemberangkatan selanjutnya jam 04.30. Sedangkan saya harus sudah berada di bilangan daerah Jakarta Pusat pk. 08.30. Setelah tiket digenggam, hati saya masih terus khawatir. Sampai ga ya jam 08.30? Perjalanan Bandung-Jakarta sekarang susah diprediksi. Bisa jadi di tol lancar, tapi di tol dalam kotanya yang ramai. Atau pernah juga ada kecelakaan di tengah tol Cipularang, menyebabkan kemacetan yang panjang. Serba gak pasti. Gimana kalau saya telat dan Pak Boss menunggu lama, lalu berdampak ke acara kacau karena saya telat? Astaghfirullah. Kok seneng betul terus mengoleksi kekhawatiran. Apa semua kekhawatiran itu membantu agar saya datang lebih cepat? Ngga. Akhirnya saya ngatur nafas yang ritmenya tak beraturan tanda hati penuh khawatir.
Bismillah. Kalau Allah sudah berkehendak maka jadilah. Allah yang punya waktu. BagiNya mudah menahan atau menyegerakan. Toh kita sering mengalami kondisi seperti ini: waktunya sama sekian jam tapi di beberapa kondisi sekian jam itu akan sangat terasa lama dan membosankan. Di waktu yang lain sekian jam itu terasa sangat singkat. Allah Maha Kuasa mengatur waktu. Hanya Dia yang memiliki kunfayakun. Terserah Allah sajalah. SekehendakNya sajalah..
Kalaupun saya telat, ya memang harusnya begitu. Gak usah terus menyesali. Tinggal ambil pelajaran agar jangan terlalu last minutes, harus disiapkan betul-betul.
Nafas panjang keluar dengan tenang. Iya, segimana Allah saja..
Akhirnya saya bisa istirahat di setengah perjalanan. Bangun-bangun melihat jam, alhamdulillah lancar. Mata saya terus melihat GPS. Berapa lama lagi jarak sampai, sambil memperhitungkan waktu dan kecepatan pak supir membawa mobil.
Mata saya menangkap jalanan berwarna biru di layar aplikasi Maps. Itu jalanan yang sudah ditempuh di belakang. Sedangkan jalanan kuning dan merah menunjujkkan jalanan ke depan yang akan ditempuh mobil. Tiba-tiba saya merasa waktu berhenti sesaat oleh sebuah kesadaran yang menohok. Allahu akbar! 
Sering sekali kita mengkhawatirkan apa yang ada di hadapan, dan di waktu yang bersamaan kita abai mensyukuri ribuan kilo "jalanan" yang telah berhasil dilalui di belakang. 
Kita sibuk khawatirkan ini dan itu, lalu lupa bahwa untuk sampai di titik yang sekarang dipijak ini kita telah melalui banyak rintangan. Melampaui dari segala yang dikhawatirkan. Bahkan kekhawatiran-kekhawatiran serupa telah pernah kita atasi. Maka kenapa masih terus mengulum kekhawatiran, sedangkan kita memiliki Tuhan yang Maha Memampukan.
Sekali lagi kesadaran ini menghujam; bahwa kekhawatiran sama sekali takkan membantu atau mengubah apa-apa di masa yang akan datang. Tidak.Justru hati yang penuh dengan kepasrahan akan membuat diri bersikap dengan sebaik-baik sikap.
Memasuki Jakarta jalanan padat merayap. Kekhawatiran itu tetap terdengar bersahutan di hati. Saya pejamkan mata. Ya Allah, terima kasih telah menyampaikanku di sini. TanpaMu, segala usaha semaksimal apa pun takkan ada pengaruhnya. Allah, jadikan aku hamba bersyukur atas nikmat-nikmatMu yang tak terukur. Allah, hilangkan kekhawatiran-kekhawatiran di dalam hati, karena ku tahu aku memilikiMu.
Pukul 08.10 Pak Supir menawarkan siapa yang ingin turun di halte sebelum shuttle resmi. Saya memutuskan turun di sana, lanjut menyambung menggunakan kendaraan bermotor. Menepuk abang ojek untuk memilih jalan tikus paling cepat. Waktu terasa diremas maju mundur. Rasanya sudah tak berbilang detik menit lagi. Kecuali hanya ritme: Allah, Allah, Allah. Kau Penguasa Waktu..
Pukul 08.33 tiba di salah satu gedung pencakar langit di Jakarta Pusat. Alhamdulillah. Berlari sekencang mungkin dari halaman depan yang luas memasuki gedung, sambil melirik handphone, takut Pak Bos menunggu. Satu pesan masuk dari beliau, "Nati, saya telat. 45 menit lagi sampai."
Amboi. Betulah, Kau amat mudah mengendalikan segalanya, ya Allah..
Nyatanya, yang menyampaikan kita di titik yang sekarang bukanlah kekhawatiran. Atau kemampuan diri. Bukan. Melainkan semata hanya karena Allah menghendaki.
Jika kekhawatiran itu terus saja menggerogoti, bawalah ia ke hadapan Allah Rabbul 'izzati. Mohonkan hati yang penuh keberpautan, kepasrahan, ketenangan.

Semoga kita dikaruniai hati yang bersyukur, dan terkikislah segala kekhawatiran itu.
###

Nati Sajidah
Kereta Argo Parahyangan, 27 Mei 2016.


Friday, 24 June 2016

JIWA-JIWA MENARA


Kekhawatiran adalah sangkaburuk yang diiyakan.

Jika Ramadhan adalah sekolah bagi jiwa, maka kekhawatiran pun dapat dibinanya. Dengan apa?

Dengan meyakini, bahwa setiap apa-apa ada masanya. Ada waktu untuk berbekal diri, saat sahur. Ada waktu untuk menahan; saat imsak dan berpuasa. Ada waktu untuk berbuka; saat maghrib tiba. Semua kita lakukan tepat pada waktunya. 


Mengapa terjadi kekhawatiran? Karena kita hidup di hari ini, tapi malah merisaukan masa depan. Atau sebaliknya, kita hidup di hari ini, tapi terus menggelisahkan masa lalu. Semacam berusaha keras mengintip masa depan, dan menarik-narik benang masa lalu. Akhirnya tak pernah benar-benar hidup di hari ini.
Mengkhawatirkan sesuatu tak kan mengubah apa pun di masa depan dan masa lalu. Tak.
Mengikis kekhwatiran dapat dimulai dari paling asas; jangan iyakan sangka buruk yang datang. Nabi Musa khawatir saat diperintah mendakwahi Fir'aun, lalu ia datang dengan pengaduannya kepada Allah. Nabi Yunus khawatir dengan tiga kegelapan yang menyelimutinya, lalu ia datang dengan menyimpuhkan diri dan hatinya.
Bedanya kita dengan para nabi mulia itu ada pada bagaimana cara menyikapi sangkaan buruk yang datang. Apakah akan segera diiyakan, lalu tetawan olehnya. Ataukah membawanya kepada Allah Sang Maha Meliputi, lalu adukan kelemahan diri dalam mengelola prasangka dan memohon petunjuk-Nya.
Karena bersangka baik bukan sebuah sikap yang dapat diaktifkan oleh tombol ON-OFF, melainkan ia olah jiwa dan olah rasa. Memenangkan iman atas nafsu. Memenangkan kendali diri atas sikap terburu-buru.
***

Menara Masjid Agung Bandung itu tinggi menjulang. Terik matahari yang menyengat membuat si menara melahirkan bayangan yang melebar di lapangan hijau. Bayangan itu dimanfaatkan orang-orang untuk berteduh. Jika dilihat dari angkasa akan sangat kontras sekali kumpulan manusia membentuk shape menara, berteduh di bawah bayangannya.
Menjadilah seperti menara. Ia tegak dan kokoh, karena pondasi imannya yang kuat. Menginsyafi diri sebagai makhluk lemah yang memiliki Tuhan yang Maha Kuasa. Hidup bertuhan, dan tak sekali-kali merebut peran Tuhan.
Menjadilah seperti menara. Ia meninggi bukan untuk angkuh. Melainkan agar seruan adzannya dapat menjangkau lebih luas lagi. Ia meninggi, melangitkan segalanya kepada Sang Penguasa.
Menjadilah seperti menara. Saat terik matahari menerpanya, ia malah melahirkan bayangan yang kemudian dijadikan tempat berteduh oleh manusia. Karena ia kokoh pondasi (imannya), tinggi (pengharapannya). Maka "jiwa-jiwa menara" itu, tak kan lantas rapuh oleh sangkaburuk, apatah lagi runtuh oleh seonggok kekhawatiran.
Sebab ia yakini, ada Tuhan yang Maha Meliputi.
***

Nati Sajidah
Inspirasi dari Milad 1 Tahun ‪#‎GerakanHusnuzhon‬
Masjid Agung Bandung, Jum'at, 18 Ramadhan 1437 H.


Sunday, 27 March 2016

Menjadi Musafir atau Penyeberang Jalan di Dunia

Tempat asal kita adalah surga, kawan. Itulah mengapa Nabi terkasih Muhammad SAW bersabda kepada Ibnu Umar ra, 

"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau penyeberang jalan.”  (HR. Bukhari)

Orang asing yang melakukan perjalanan atau musafir memiliki 5 sifat:

1. Setiap orang yang tinggal bersama keluarganya akan merasa serba kecukupan terhadap kebutuhannya. Sedangkan seorang musafir jauh dari hal-hal tersebut, maka ketergantungan dirinya hanya kepada Allah swt dan sangat besar. Jadi hadits ini mengajarkan kepada kita agar hati kita selalu dalam kondisi tergantung dan berharap hanya kepada Allah Swt.

2. Seorang Musafir dalam perjalanannya tidak membawa seluruh hartanya, kecuali yang ia perlukan dalam perjalanannya. Karena apabila ia membawa itu semua akan menyebakan ia tidak bisa melanjutkan perjalannya, atau paling tidak akan membuatnya lambat dalam meneruskan perjalannya. Begitu pula seorang mukmin wajib mengambil di dunia ini apa-apa yang bisa membantunya dalam meraih kebahagiaan di akherat dan harus meninggalkan yg dapat merusak kedudukannya di sisi Allah.

3. Seorang musafir tidak melihat jalan sebagai tujuan, namun dia melihatnya hanya sebagai sarana yang akan mengantarkannya menuju sebuah tujuan utama. Begitu pula seorang mukmin dia harus berinteraksi dengan dunia sebagai sebuah sarana untuk mencapai tujuan yg besar yaitu bertemu dengan Allah Swt dalam kondisi ridha dan diridhai.

4.  Seorang musafir merasakan setiap langkah yang diayunkan dan setiap menit yang dilewatkan, berarti dia telah menjauh dari titik tolak perjalanannya yang pertama dan mulai mendekat ke titik akhir dari perjalanannya. Begitu pula seorang mukmin, setiap saat seorang mukmin mendekati kematian, untuk melanjutkan kehidupan di negeri keabadian.

5. Seorang musafir ketika menempuh perjalanannya ia harus berhenti di terminal-terminal yang di situ ia mengisi perbekalannya. Jika tidak melakukannya maka ia tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Begitu pula orang beriman harus selalu memenuhi dirinya dengan perbekalan agar ia dapat menempuh perjalanannya dengan baik. Dan perbekalan tersebut didapatkan diterminal ilmu, ibadah, serta bergaul dengan orang-orang shalih.

Semoga kita dapat kembali ke tempat asal, dalam keadaan ridha dan diridhai-Nya. Kita ini musafir yang melakukan perjalanan, yang mana mungkin boleh betah menetap  di perjalanan. Ada yang kita tuju; tujuan. Bahkan kita hanya sekadar penyeberang jalan. Jika berlama-lama berdiri, kita bisa ditabrak. Jika tak mawas diri, bisa berakhir tanpa arti.

Wallahu a'lam bis showaab.
*
Nati Sajidah


Friday, 11 March 2016

Bapak Becak yang Kaya

Pulang dari rumah Bibi, saya diantar becak langganan Bibi. Sebelumnya, Bibi cerita tentang keistimewaan Bapak Becak langganannya ini.

Beliau punya 4 anak, dan salah satu anaknya Haafidzhul Qur'an (penghafal AlQuran). MãsyãAllãh. Anaknya tersebut beliau pesantrenkan di salah satu pesantren AlQuran di Semarang. Untuk kebutuhan SPP tiap bulannya yang hampir mencapai nominal 1juta, Bapak Becak mengumpulkan setiap rupiah dari hasil kayuhan becaknya. Seadanya uang beliau kirimkan. Dicicil, namun TAK PERNAH NUNGGAK.

Bibi juga bilang, Bapak Becak ini selalu siap bertugas kapan pun ditelpon. Untuk tugas antar-antar atau pun beli makanan kebutuhan taklim di rumah Bibi. Uniknya, kalau beliau belanjain belanjaan Bibi dan Bibi tidak sempat ketemu beliau, beliau beli semua pesanannya kemudian diantarkan ke rumah bibi, lalu pulang. Tanpa menunggu Bibi membayar upahnya. "Gampang Mi. Besok lagi aja." katanya tiap kali Bibi minta maaf tak sempat ketemu membayar langsung.

Bapak Becak selalu siap siaga kapan pun ditelpon, kecuali saat-saat adzan berkumandang. Pasti beliau tak menjawab panggilan telpon. Beliau khusyuk menjawab panggilan dari Tuhannya terlebih dahulu.
Seperti sore ini yang sedang diguyur deras hujan. Bibi menelponnya untuk mengantarkan saya. Panggilan pertama tak diangkat. Panggilan kedua beliau menjawab. Ternyata benar, baru selesai shalat. Beberapa menit kemudian sebuah becak sudah parkir di depan rumah. Bapak becak itu berperawakan tinggi kurus. Betisnya mengkilat dan kokoh.

Selama saya di dalam becak yang dikayuhnya, rasanya  ikut tergenjot oleh kesahajaannya yang mewah. Betapa pun beliau membutuhkan uang, tapi tak lantas menjadi budak uang. Beliau masih mengutamakan panggilan adzan untuk shalat 5 waktu, membantu bukan untuk segera dibayar upahnya.
Ketika pun uang sudah ada di tangannya, beliau gunakan untuk sarana ibadah. Jadi tak berlebihan ya kalau punya kesan bahwa beliau orang kaya, sangat kaya.. Bukankah disebut kaya jika tak lagi menghiraukan uang? Disebut kaya kan ketika uang dijadikan alat, bukan tujuan.


Pak, Bapak memiliki kesahajaan yang megah.
Sudah berapa kilometer kau kayuh, Pak? Mungkin terhitung. Tapi tidak dengan doa dan semangatmu menyekolahkan anakmu, dunia akhirat.


***
Nati Sajidah


Tuesday, 1 March 2016

Ingin Marah Ingin Balas Dendam



Selalu ada pertanyaan bagaimana cara meredam amarah atau dendam? Seperti saat acara bedah buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu 2 hari berturut-turut kemarin di Gramedia TSM Bandung (27/2) dan Cipasung Tasikmalaya (28/2).

Secara nafsu pengen banget marah bahkan balas dendam sama si penyebab masalah.. Pengeeen banget, kan? Tapi mana bisa, mana boleh.. Kenapa mau mensejajarkan diri dengan pembuat masalah? Biarlah. Tanpa adanya dia sebagai penyebab masalah pun, kehidupan yang akan terjadi ya terjadi jika Allah sudah menghendakinya begitu. Adanya orang yang jadi penyebab (padahal Allah kuasa membuat suatu kejadian terjadi tanpa ada sebab akibat) adalah mungkiiin untuk menguji kita. Sikap apa yang akan kita lakukan kepada mereka? Sikap inilah yang akan menentukan kualitas kita sebagai hamba. Sikap kita ini yang akan dihisab di pengadilan nanti. Sikap kita ini yang akan jadi penentu. Bukan tentang seberapa sakit hati, atau seberapa sakti kita bisa membalas.

Mereka para penyebab itu sudah melanjutkan kehidupan, tanpa tahu apa yang mereka tinggalkan.. Itu perih bagi kita saat menahan membalas, pasti. Hanya bisa memohon pertolongan Allah, agar Ia dapat meredamkan segala gejolak amarah di dalam dada. Memohon Ia mengganti hati yang luka, dengan hati yang penuh hikmah. Memohon hati yang penuh dendam dengan hati yang penuh cinta. Hanya dapat memohon dan terus berusaha memperbaiki kehidupan. Karena dia si penyebab pun sudah melenggang tak menoleh sedikit pun ke belakang, lalu apa kita masih mau terus memeluk duka?

Allah Maha Kuasa memperbaiki kehidupan yang sudah hancur dengan tanpa kita membalas dendam pada si penyebab. Yakin, akan datang satu masa dimana si penyebab mendapatkan pelajaran dari perbuatannya, apakah itu lewat tangan kita ataupun orang lain.

Antara membalas dengan memberikan pelajaran itu jelas beda. Sebelum bisa memberikan pelajaran dengan anggun, mari redamkan emosi saja dulu. Nabi Yusuf dianiaya para saudara kandungnya, ia tak mendendam tak membalas. Nabi Yusuf dijebloskan ke penjara oleh ibu angkatnya sendiri, ia tak mendendam tak membalas. Lalu Allah kehendaki Nabi Yusuf dapat memberikan pelajaran kepada mereka. Di waktu yang tepat, dengan cara yang tepat. Tidak hanya menohok, tapi juga meninggalkan kebaikan bagi si penyebab.

Mari lanjutkan kehidupan. Menjalani taqdir yang telah Allah pilihkan. Adanya penyebab bukan berarti kita harus mengubah orientasi hidup kita dengan menjadikan kehidupan ini hanya diisi penyesalan atau perasaan dendam. Bukan. Capek sekali jika begitu. Adanya sesosok penyebab pembuat masalah adalah untuk menguji kita; menguji kelapangan hati untuk memaafkan dan terus memperbaiki kehidupan. Allah Maha Kuasa kok membuat segalanya lebih baik dengan tanpa kita membalas. Tugas kita menyikapi kehidupan ini dengan sebaik-baik sikap.


###
Natisa