Showing posts with label buku crayon untuk pelangi sabarmu. Show all posts
Showing posts with label buku crayon untuk pelangi sabarmu. Show all posts

Sunday, 16 October 2016

Ketika Tulisanmu Di-copas

Secara manusiawi mah yah.. Tulisan sendiri dikutip tanpa sumber, dan disebarluaskan, dan dianggap sebagai tulisannya...itu rasanya atiiit... Sakitnya tuh entah dimana. Hehe.
Dan di situlah momen buat kembali nengok niat nulis, apakah untuk diakui-dikenali nama diri atau agar tersampaikan pesan? Jika tujuannya yang kedua, pada kenyataannya pesan tersampaikan bisa dengan atau tanpa nama si penulis. Hanya saja ada yang dilanggar di sini. Pelanggaran tata kaidah pengutipan. Kalau kata temen saya mah, Nisa'ul Fithri Mardani Shihab, ini tentang beradab atau tidak seseorang dalam membuat tulisan. 
Kita memaafkan pelanggaran, dan karena menyayangi dia yang melanggar maka kita memberikannya teguran atau pelajaran.

Kalau alasan tidak mengutip sumber asli itu agar terlihat orisinil hasil pemikirannya, justru sebaliknya..dengan mengutip sumber aslinya di situlah intelektualitas seseorang terlihat.
Pada akhirnya, si saya memahami rasa sakit diplagiasi itu wajar adanya. Dan menasehati diri dengan nasehat Aa Gym bagaimana menyikapi seseorang yang berlaku buruk kepada kita, yaitu dengan menjadikannya:
 Ladang bersyukur bukan kita yang bersikap jelek 
 Ladang menegur diri, agar kita tidak melakukan hal yang sama
 Ladang memaafkan dan mendoakan kebaikan yang berlaku jelek pada kita.

Alhamdulillaah 'alaa kulli haal.. Jadi bener kata guru saya, hidup mah seni bagaiamana MENYIKAPI kejadian-kejadian.
Masih kata Aa Gym, "Ga ada ruginya dibenci, yang rugi itu kalau kita yang jadi pembenci."
Iyah, gak ada ruginya diplagiasi, yang rugi itu kalau kita yang jadi plagiator.
Aa nambahin lagi, "Yang membahayakan diri kita adalah keburukan diri sendiri, bukan keburukan orang lain."
Duh, hatur nuhun yah, hey kamu yang memplagiasi.. Saya jadi ngerasa ngena gini dinasehatin Aa. ^_^

###
Nati Sajidah


Monday, 10 October 2016

Salah Kirim Buku dan Cara Kerja Tuhan yang Tak Terduga

Tadi pagi ngirimin buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu ke salah satu pembaca, sebut saja namanya Bunga, pakai jasa GoSend karena alamatnya masih sekitaran Bandung. Dia ngasih alamat di Perumahan Tentram Indah (tentunya alamat asli disamarkan).
Dikirimlah buku tersebut pagi sekitar jam 7. Setelah Mamang GoSend sampe rumah Bunga, ga ada siapa2, satpam perumahan juga ga ada. Bunga ditelpon juga gak ada jawaban. Mamang GoSend nelpon aku, minta pertimbangan baiknya gimana. Aku tanya di sekeliling situ ada orang atau tetangga yg bisa dititipi tidak, dia jawab, "Ada sih, Teh. Tapi cuma orang lalu lalang aja. Takutnya bukunya ga sampai ke Teh Bunga." 
Aku pikir, iya juga.. ya udah aku minta dia kirim balik lagi aja ke rumahku. Alhamdulillah si mamang gojeknya amanah, ga mau nyerahin buku ke sembarang orang..

Baru deh pas siangan, Bunga bales WA. Dia baru ada di rumah.. Cus aku pesen GoSend lagi. Beberapa menit kmudian dijemput sama si Amang gojek, ga sampe sepuluh menit ada laporan kalau buku udah sampe di alamat tujuan. Tapi Bunga bilang belum nerima. Bingung deh.. Mana si Amang GoSendnya sulit dihubungi pulak.
Dua jam kmudian ada yang nelpon.. Nomor yang ga dikenal.. Dia ngaku namanya BUNGA. Karena aku belum pernah kontak langsung dengan Bunga jadi aku kira ini Bunga yang pesan Buku. Ternyata eh ternyata.. Dia emang nerima buku tsb, dan merasa aneh dapat buku ini karena ngerasa ga pernah ngasihin alamatnya ke siapapun, dia juga baru pindah kos ke tempat tersebut. Dia malah nanya aku dapat alamatnya dari siapa? Lah, makin bingung, masak iya seseorang semalam sebelumnya pesan buku trus ngasihin alamat, lalu keesokan harinya mendadak amnesia kalau dia udah ngasihin alamatnya..
Dia juga sama-sama bingung dan berusaha menjelaskan,
"Namaku juga BUNGA, Teh. Rumahku bukan di Perumahan Tentram Indah No A1, tapi di JALAN Tentram Indah No 1A!"

Oalaaaaah.. Ini kebetulan yang cantik benerrr!
Bunga yang asli tinggal di PERUMAHAN Tentam Indah, Bunga-yang-salah-sasaran tinggal di Jalan Tentram Indah, yang manaaa itu cuma beda belokan aja, gak sampe 1km! Dan ada dua Bunga di sana.
Karena masing-masing ga tau jalan, jadinya si saya ngirimin GoSend lagi dari Bunga-yang-salah-sasaran ke Bunga-yang-seharusnya-dituju, dan jarak mereka cuma beda belokan. Hehe.
Ini teh sesuatu pisan ih..
Padahal yah si Mamang GoSend yang pertama itu bisa aja asal ngasihin buku ke orang yang ada, dan beres tugasnya. Tapi dia milih untuk hati-hati. Gimana pun juga orang nitipin sesuatu ke kita atas dasar kepercayaan, bukan cuma mindahin barang dari titik A ke titik B. 
Bunga-yang-salah-sasaran juga sebenarnya kalau dia mauuu, ya terima aja bukunya, toh nama dia juga Bunga. Kan asik dapet buku gratisan. Tapiii dia bilang, "Maaf ya Teh, bukunya udah Bunga buka plastiknya, kirain beneran buat Bunga. Tapi ini aneh banget. Bunga ga mesen apa-apa, dan Bunga baru pindahan ke sini. Takutnya penerima aslinya malah kebingungan pesanannya ga sampai-sampai."

Superb.
Emang bener yah, gak ada kebetulan di dunia ini. Yang ada adalah kejadian yang sama sekali di luar prediksi kita. Karena setiap kejadian disetting sama Tuhan yang Maha Kuasa, yang cara kerjaNya ga akan bisa dipikirin sama logika akal manusia. Kitanya aja yang dikit-dikit pengen tercerna secara logika, padahal ga semua bisa diukur logika manusia, logikanya sendiri ciptaan. Dipikir-pikir cukup absurd juga, mau ngukur pola kerja Pencipta dengan selalu menggunakan ciptaan.. Dan karena ga ada kebetulan di dunia ini, maka tiap kejadian pastiiii bawa sesuatu untuk dipelajari. Gak gitu aja terjadi.

Mungkin salah satunya adalah biar si saya bersyukur.. Dipertemukan dengan orang-orang baik itu emang jenis lain dari rizki. Alhamdulillaah.. 
Nuhun ah..


###
Nati Sajidah


Sunday, 3 July 2016

Membeli Buku NATISA

Assalamu'alaikum wr wb

Dear Para Pembaca, 



Saat ini Buku #CrayonUntukPelangiSabarmu sudah HABIS, dan tidak bisa dipesan lagi.
Mohon doanya, semoga ada kesempatan untuk mencetaknya ulang. 

Kabar baiknya, buku kedua Natisa, yaitu MEREBUT PERAN TUHAN, masih bisa dibeli di Toko Buku Gramedia (tertentu, di beberapa kota sudah habis) atau bisa juga dipesan ke:

WA/SMS:
EKO
0895-3576-11691




Terima kasih,
Semoga menjadi jalan kebaikan :)

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Natisa


Membeli Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu

Assalamu'alaikum wr wb

Dear Para Peneguh Kesabaran,



Saat ini Buku #CrayonUntukPelangiSabarmu sudah sulit ditemui di toko buku beberapa kota.
Bagi yang membutuhkan dan ingin membelinya, dapat langsung memesan ke:

WA/SMS/Line: 0857-8092-3932

atau
klik link ini:



Terima kasih,
Semoga menjadi jalan kebaikan :)

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Natisa


Saturday, 12 December 2015

TALK SHOW: MENEMBUS BATAS-BATAS SABAR




Batas-batas itu dari mana datangnya?
Sehingga ingin begitu saja berteriak, dan berhenti.
=============

InsyaAllah akan berbincang :
"Menembus Batas-batas Sabar"
Pada Hari Minggu, 13 Desember 2015, di Gramedia Asia Plaza, TASIKMALAYA! 
Jam 13.00 - 15.30 WIB 
😊

Dipandu oleh perempuan super Nurasiah Jamil

Yuk gabung, free dan untuk umum.
Kita hadir untuk saling menguatkan, menembus batas-batas.


Tuesday, 17 November 2015

Ketika Menjadi Sebab dan Akibat

Di kehidupan ini, kadang kita menjadi sebab bagi hidup orang lain. Di lain waktu, kita menjadi akibat dari tindakan orang lain.

"Bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi."
Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Ketika menjadi sebab bagi orang lain, ada kalanya kita sadar, ada kalanya kita tak menyadarinya sama sekali bahwa saat itu kita sedang menjadi penyebab bagi perubahan kehidupan orang lain. Karena kita manusia yang tak pernah selamanya memegang kendali kesadaran akan setiap laku diri, maka sikap terbaik mengisi rantai sebab-akibat itu adalah selalu mengisi setiap kesempatan dengan kebaikan.

Kita tak pernah tahu kebaikan mana yang akan menyelamatkan diri kita, atau yang berdampak pada kehidupan orang lain, maka berbuat baiklah terus. Seperti sahabat agung, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, ternyata yang membuatnya masuk surga adalah suatu ketika ia pernah menyelamatkan seekor burung pipit yang sekarat. Kebaikan mana yang berdampak, kita tak pernah tahu. Yang kita tahu dan bisa lakukan hanyalah terus mengisi kehidupan dengan kebaikan.

Itu ketika kita menjadi sebab.

Kehidupan juga mempergilirkan kita sebagai akibat dari tindakan orang lain.
Parahnya adalah ketika orang tersebut tidak menyadari bahwa tindakannya telah menyebabkan permasalahan berefek domino pada kehidupan kita. Berkepanjangan. Merumit di setiap fasenya. Dan dia melenggang, tak menyadarinya. Apa yang bisa dilakukan jika kita menjadi akibat dari sebab yang orang lain perbuat?

Di saat seperti itu sikap yang paling spontan ingin dilakukan pastilah menyalahkan. Menyalahkan dia yang telah membuat semua kerumitan ini terjadi. Namun apakah selesai dengan menyalahkan? Semua telah terjadi.

Di sinilah kita mainkan sudut pandang. Saat kita menjadi akibat, cobalah untuk memahami kondisi ini dengan mulai berpikir dari sudut pandang penyebab. Bahwa kita, seperti yang kita sepakati sebelumnya, tak pernah selalu menyadari sikap mana yang akan  mengubah hidup diri atau orang lain. Begitu pula ia yang menjadi sebab kerumitan hidup kita. Dia tak menyadari efeknya sebesar ini. Maka tinggalkan ia. Yang ada di hadapan kita tinggal kondisi yang harus disikapi. Dengan atau tanpa dia yang menjadi sebab semua ini, kondisi ini sudah ada dalam ketetapan-Nya yang harus terjadi. Yang bisa kita lakukan? Sikapi dan hadapi. Tinggalkan ia yang menjadi sebab semua ini, karena kita memutuskan untuk menjadi akibat yang baik.

Pada nyatanya, kehidupan ini dipergilirkan Allah tak sesempit sebab-akibat. Ada tindakan-Nya yang di luar spektrum sebab atau akibat. Karena sebab-akibat hanyalah teori yang kita kenal, sedangkan ketetapan Allah lebih luas daripada itu. Seperti kita sering bertanya-tanya, mengapa Dia seakan mudahkan jalan bagi keburukan? Mengapa seakan pelik untuk mewujudkan kebaikan? Dimana keadilan Tuhan? Justru di situlah keadilan Tuhan. Berjuta bentuknya. Tak sesempit dugaan atau definisi kita tentang makna adil itu sendiri. Bahkan jika kehidupan ini dihabiskan hanya untuk mengurai makna adilnya Tuhan pun takkan cukup waktu. 

Satu-satunya sikap terbaik menghadapi berjuta bentuk keadilan Tuhan adalah bersangka baik. Karena sering kali ketidaktahuan kita terhadap satu hal adalah bentuk kasih sayang dan perlindungan-Nya dari tahu itu sendiri. Bersangka baik bahwa segala yang berasal dari-Nya pastilah baik akan membawa kita pada penerimaan. Hanya hati yang ridha atau nerimo yang dapat menggerakkan seluruh indra untuk memberikan sikap terbaik. 

Untuk menghadapi setiap kerumitan yang ada, kita bisa memulainya dengan bersangka baik. Lalu hadapi, dan nikmati! 

Sering kali pertanyaan-pertanyaan kehidupan
tak bertemu dengan jawaban,
namun berupa perjalanan yang harus ditempuh,
tanpa diberi tahu akan seberapa jauh,
atau berapa peluh yang akan jatuh,
kita tak pernah tahu,
kecuali dengan terus menempuh perjalanan itu.
Natisa, Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, hlm: 78




###
Natisa,
Bandung, 17 November 2015


Wednesday, 11 November 2015

Bedah Buku di MAN Cipasung


Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, saya bedah buku di lingkungan pesantren yang didirikan seorang Kiai yang juga pahlawan penggerak, Abah Ruhiat. Seakan semangat tinggi beliau ikut hadir di hari itu, 300an peserta memenuhi Aula PSBB MAN Cipasung. Antrian registrasi sampai mengular. 




Di balik panggung saya gugup bukan main. Apa yang akan saya sampaikan di hadapan mereka yang luar biasa? Dan selalu, kalimat pamungkas untuk memulai sesuaitu itu berbunyi; bismillah. Sekadar hadir untuk ngalap barokah di tempat mulia ini. Hidup ini untuk mengumpulkan kebaikan diri, maka berikan yang terbaik dari yang kita bisa. Apakah kemudian nantinya jadi bermanfaat untuk orang lain, itu kehendak Allah. Tugas kita hanya: BERKEBAIKAN buat diri sendiri. *mantra itu yang akhirnya aku tancapkan. Bismillah, ini kesempatan untuk ngaji diri.


Alhasil tema itu pula yang dibahas di hadapan adik-adik ceria dan semangat itu. Jadilah EGOIS, melakukan kebaikan ini itu untuk mengumpulkan pundi kebaikan. Alhamdulillah, liar-luar biasa! Menangkap "aha-moment" di mata mereka. Buku CUPS ludes tak bersisa. 

Terima kasih tak terhingga kepada Ibu Kepsek MAN Cipasung, Ibu Hj. Ida Nurhalida yang telah memberikan kesempatan belajar kepada saya. Terima kasih Bu atas nasehat Ibu ini, "Tulis apa yang kamu kerjakan, dan KERJAKAN apa yang kamu tulis." *netes...
Ibu Hj. Ida Nurhalida memberikan sambutan dan nasehat jlebb. Such a present for me..
Terima kasih kepada tim pelaksana dari Ex-cool Broadcast BROWNIS MAN Cipasung yang dipimpin oleh Pak Edo. Terima kasih kepada kawan-kawan dari Bandung yang turut hadir. Terima kasih MC keceee, Fauzi Noerwenda.
Tim Broadcast BRONIS MAN Cipasung
Keseruan acara berlanjut setelah ditutup. Adik-adik menyerbu saya dengan buku tulis dan buku CUPS yang mereka beli. Semoga bisa menjadi jejak untuk kita saling mengingatkan kebaikan. Terima kasih, Bulan Utuh!







Terima kasih semuanya. Kalian liar-luar biasa! MasyaAllah 😙


###
Natisa
November, 2015





Wednesday, 4 November 2015

Di Balik Cover Buku ‪

Barusan ada sahabat kirim BBM. Dia baru saja menyelesaikan membaca Crayon dan berkata, "Sempurna, Nati, bukunya! Typography, ilustrasi, layout, konsep dan isinya... sempurna!"
Tentu saja sahabatku ini berlebihan, buatan manusia tidak ada yang sempurna, bukan? 
😊
 Segala puji hanya milik dan ditujukan kepada Allah Swt.

Lalu ada sahabat lain yang mengirimkan pesan di inbox. "Nati, aku suka cover bukumu! Itu siapa yang bikin?"
Pertanyaannya membuat aku menarik mundur mengingat saat-saat pembuatan cover. Aku bersama kawanku yang ahli desain, Suhaeli Hamdhawi, selama sebulan otak-atik cover. Selama sebulan itu pula hampir 10 cover jadi, tapi tak juga cocok. Sampai-sampai ada kawanku yang selalu menyapa di BBM tiap kali aku ganti DP cover Crayon, "Ganti lagi covernya?" 
😵😂
Akhirnya jalan keluar itu datang melalui nasihat guru kami. Dibuatlah cover Crayon yang kini sudah jadi. Filosofinya begitu dalam. Warna putih yang dijadikan latar adalah lambang kesucian hati yang selalu berusaha untuk bersabar. Warna apapun akan indah di atas latar putih. Begitu pula kehidupan. Sedahsyat apapun ujian, akan terasa indah jika memiliki hati yang sabar. Kita hadirkan warna putih, agar warna-warna kehidupan timbul dengan keindahannya. 
Tulisan 'CRAYON' yang tersusun oleh crayon warna-warni serta arahnya yang tidak sama adalah simbol dari banyak sekali dalam kehidupan ini yang dapat kita lakukan untuk meneguhkan kesabaran. Dalam hal ini, isi Buku Crayon terdiri dari variasi judul adalah CRAYON itu sendiri, yang hadir untuk meneguhkan hati. Buku ini memuat banyak 'crayon'; tentang bagaimana menerima ketetapan Tuhan, bagaimana mengisi jeda antara doa dan yang diharapkan, bagaimana mengusahakan agar hati ridha, tentang bagaimana berpasrah, bagaimana meneguhkan kesabaran agar tak hanya dapat bersabar tapi juga mendapat kebahagiaan. Sebelum naskah ini diterima dengan hangat oleh Quanta Emk, naskah ini sempat ditolak oleh salah satu penerbit yang sedang bertumbuh. Katanya, isinya terlalu variatif. Satu sama lain judulnya seperti tidak saling berkaitan, tidak satu arah. Penerbit ini memintaku merombak ulang sesuai dengan keinginannya. Aku tak mau. Karena justru di sinilah warna-warninya. Ujian manusia beragam. Ketika manusia diuji dengan ujian berat, itulah yang dapat menjadi washilah seseorang mendapat warna yang indah bagi hidupnya. Semua itu tergambarkan dalam tulisan capital CRAYON, tersusun oleh batang-batang crayon yang warna-warni. 


Guru kami pernah berkata, "Ketika kita melakukan kesalahan atau disalahsangkai, maka bersyukurlah. Itu tandanya kita manusia; bukan malaikat yang selalu benar, bukan juga iblis yang selalu salah. Kita manusia."
Ini yang kami tuangkan dalam bentuk coretan pelangi di pojok kanan atas cover. Seperti sebuah coretan kesalahan, tapi justru menjadi indah, karena dimaknai sebagai kemanusiaan yang dapat mengusahakan hati agar selalu sabar dan syukur. Putih.
Sempat editorku, Luky, mengusulkan perubahan cover karena beberapa alasan. Sekali lagi, aku tak mau. Karena ini bukan semata judul, tapi ada pesan yang ingin disampaikan, ada cerita di baliknya. Jika tanpa pengertian Mbak Linda Razad dan Luky buku ini mungkin takkan lahir. Karena kengototan penulisnya 🙈.
Kini Crayon Untuk Pelangi Sabarmu sudah dapat diperoleh di seluruh Toko Buku Gramedia. Beberapa sudah sampai di tangan pembaca. Doa terdalamku, semoga memperoleh kebaikan di dalamnya, semoga berkah, semoga Allah Swt ridha.
Aamiin ya Allah...
###
Natisa


Monday, 21 September 2015

Agar Bermanfaat? Jadilah Egois!


Sebuah pesan masuk melalui salah satu messenger. Ungkapan sama dari orang yang berbeda, yang selama beberapa bulan terakhir ini sering menyapaku;
"Terima kasih, sudah menuliskan Crayon Untuk Pelangi Sabarmu. Benar-benar menjadi sahabat meneguhkan kesabaran."

Ya Rabb. Selalu bahagia saat menerima ungkapan senada. Jika bukan karena Allah, satu aksara pun aku tak bisa menuliskannya. Jika tanpa izin-Nya, tak akan ada buku ini. Tak akan berbekas apa pun. Ini semua tentang kuasa Allah. Aku hanya raga yang diperkenankan untuk menjadi perantara. Dan aku bersyukur karenanya.

Menurut mereka, seakan-akan aku menuliskan buku ini khusus untuknya. Padahal tak. Murni ini kuasa Allah. 

Seperti saat aku mendapatkan komentar untuk salah satu postingan di blog ini. Dia bertanya bagaimana caranya agar bisa bermanfaat untuk orang lain lewat tulisan? Aku mencoba mencari jawaban yang pas. Tapi aku gagal menemukannya. Karena aku merasa tak pernah benar-benar merencanakan skenario menjadi orang yang selalu memberi manfaat. Mungkin juga karena aku masih jauh dari maqom tersebut. Yang aku lakukan kemarin dan saat ini, hanya menjadi diri sendiri. Terus belajar dan belajar. Pun saat menulis. Aku berusaha menasehati diriku. Merekamnya dalam jejak tulisan. Aku wanti-wanti diriku; orang pertama yang mendapatkan manfaat dari tulisan ini adalah diriku. Orang pertama yang harus mengamalkan semua nasehat dalam buku ini juga diriku. Bahkan jika tak ada satu pun yang membacanya, maka buku ini lahir untuk pembaca tunggal, yaitu aku. 

Peringatan itu yang selalu guruku wasiatkan, jadilah egois saat beramal. Melakukan segala jenis kebaikan untuk diri sendiri. Dengan begitu, kita akan mengupayakan yang terbaik dari yang kita bisa. Kebaikan akan menebar magnetnya ke sekitar, sehingga akan mengundang penerima manfaat. Untuk kita sebagai pelaku, kita hanya bertugas melakukan kebaikan. Apakah kebaikan itu kemudian bermanfaat untuk orang lain atau tidak, hanya Allah yang berkuasa menggerakkan hati hambaNya. Tugas kita melakukan kebaikan dengan kemampuan terbaik saja. Kebaikan, sebelum ia berguna untuk orang lain, diri kitalah penerima manfaat pertamanya. Begitu pula dengan kejahatan. Sebelum kejahatan kita merugikan orang lain, diri kitalah yang pertama kali merugi. Lakukan kebaikan semata-mata karena kita berhajat atas kebaikan itu, karena kita membutuhkannya. Perkara kebaikan itu berguna atau tidak untuk orang lain, biarlah Allah Swt yang mengatur. Allah ta'ala pemilik dan penggerak hati. 

"Jika kamu berbuat baik [berarti] kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri."  (QS. Al-Isra: 7)

Kembali ke pertanyaan di kolom komentar tadi, bagaimana caranya agar dapat bermanfaat untuk orang lain? Aku berusaha menjawabnya sekaligus menasehati diri; jadilah diri sendiri, jadiah egois! Lakukan kebaikan apa pun yang dimampu, semata-mata karena hajat diri dan mengejar ridha Allah. Selain itu, serahkan semuanya kepada Allah Sang Pengatur.


-Natisa


***
Tentang 'Jadilah egois saat beramal' diulas lebih lengkap di Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu pada halaman 80.


Thursday, 20 August 2015

API SEJARAH dan Kebaikan yang Tak Kasat

Yang dibayangkan jika bersilaturahim ke sejarawan pastilah perbincangan seputar sejarah, kan? Alhamdulillah, bahkan saya mendapatkan lebiih! Ini dia yang namanya barokah. Hari Rabu, 19 Agustus 2015, saya bersama 20an kawan-kawan yang tergabung di Gerakan Husnuzhon bersilaturahim ke rumah Pak Ahmad Mansur Suryanegara, sejarawan dan penulis buku fenomenal API SEJARAH. Yang kami peroleh bukan hanya wawasan kenegaraan tapi juga tuturan nasihat dan hikmat yang luar biasa. Kami benar-benar merasakan keberkahan; kebaikan yang bertambah.

Penampilan beliau untuk mengenang jasa ulama yang berjihad untuk kemerdekaan Indonesia

Hari itu Pak Mansur  menyambut kami dengan sumringah. Beliau memakai baju koko merah, sarung dan jas, bersurban putih yang dililitkan ke kepala, dan surban merah putih yang melingkari lehernya dibiarkan menjuntai. Mengenai penampilannya yang kearaban ini beliau menjelaskan, "Sehari-hari bapak tidak berpenampilan seperti ini, hanya sekarang-sekarang saja pada Bulan Ramadhan dan Syawal. Mengingat peristiwa proklamasi yang berlangsung Bulan Ramadhan, dan mengingat ada ribuan ulama di belakang Bung Karno saat proklamasi. Para ulama itu berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dengan menggelorakan jihad. Jadi penampilan ini bukan karena arabnya, tapi karena Islam dan keindonesiaannya." tutur beliau penuh takdzhim saat menyebut ulama yang amat berperan pada kemerdekaan Indonesia. Dari pemaparan beliau, tersirat jelas peran ulama dan santri amat besar di kemerdekaan Indonesia. Beliau menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia ini, seperti yang dikatakan para kiai penyusun UUD,  adalah berkat rahmat Tuhan yang Maha Esa. Diraihnya atas perjuangan, bukan hadiah. Adakah negara yang memiliki banyak pejuang melebihi Indonesia? Tanah ini penuh keberkahan karena mengalir di atasnya darah-darah pejuang, yang tak sedikit di antaranya adalah para Kiai. 

Saat memaparkan tentang kebaikan-kebaikan negeri ini baik yang tampak ataupun tidak, beliau membahas ayat "yu'minuuna bil ghaib.. beriman kepada yang ghaib"
Surat Al-Baqarah ayat 1 s.d. 3; AlQuran ini diturunkan sebagai petunjuk bagi yang bertaqwa. Siapakah yang bertaqwa ini? Mereka yang beriman kepada yang ghaib (ayat 3). Ghaib: yang tak nampak. Pak Mansur menuturkan, jika seorang lelaki telah melafalkan akad menikahi seorang wanita, maka sejak itu ia mengikrarkan perjanjian yang amat berat. Jika berpuluh tahun kemudian, ketika istrinya telah menua dan tak lagi cantik, sang suami menyakiti istrinya, artinya dia tidak yu'minuunal bil ghaib. Tidak mampu melihat kebaikan yang kasat mata. 

Aku terhenyak di sini. Pak Mansur memberikan pemaknaan lain yang tak terduga dari kalimat yu/minuuna bilghaybi. Bukan hanya mengimani makhluk atau kejadian ghaib, tapi lebih dari pada itu. Alquran menjadi petunjuk manusia agar mendapatkan kebaikan dari apa yang tak nampak sebagai kebaikan sekalipun. Seringnya kita manusia lebih sibuk pada apa yang lahir, yang kasat mata. Kita menyukai pujian, karena terasa baik dan menyenangkan. Kita menyukai waktu lapang, karena terasa bebas melakukan apa saja. Kita menyukai keberlimpahan uang, karena merasa dapat leluasa. Kita menyukai hal-hal yang indah dipandang mata. Semua itu indah karena terlihatnya indah. Dan kita manusia tak menyukai yang lahirnya terlihat seperti keburukan, tak indah, tak menyenangkan. Padahal di situlah ujian keimanan; menemukan kebaikan dari yang ghaib, dari yang tak nampak sebagai kebaikan. Sebaliknya, sering kali pada apa-apa yang kasatnya indah-baik malah tersimpan bahaya yang harus kita waspadai. Ini pun hal yang ghaib. 
Mata hati seorang mukmin dituntut untuk dapat menembus yang kasat. Tidak hanya berhenti bahwa sesuatu itu indah, tapi dapat menembus di baliknya, dapat memperoleh kebaikan darinya. Tidak hanya melihat lahirnya bahwa sesuatu itu tak menyenangkan, tapi juga dapat memperoleh kebaikan darinya. Tentu untuk menembus hal-hal ghaib ini bukan perkara yang mudah. Itulah mengapa, AlQuran ada. Kita diberikan alatnya agar memperoleh kebaikan yang tak kasat, yaitu AlQuran. 


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."  
(Al-Baqarah: 216) 

Sebuah kehormatan dan semoga barokah
Obrolan selama dua jam lebih itu tak terasa, dan sarat pembelajaran. Rasanya gak ingin pamit, ingin terus mendapatkan limpahan ilmu beliau. Sebelum pamit, aku malu-malu memberikan bingkisan kecil Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu kepada Pak Mansur. Malu sekali sebenarnya, karena jika dibandingkan dengan buku beliau yang selama penulisannya tak batal wudhu dan dalam kondisi puasa, apalah arti coretan buku sederhanaku ini. Jauh. Karena ketawadhuannya, beliau menyambut buku itu. Membuka halaman demi halamannya, dan bertanya buku ini inspirasinya dari mana? Aku jawab dari Surat Ali Imran ayat 200 dan firmanNya tentang kebersamaan Allah Swt beserta hamba yang bersabar. Tak diduga, wajah Pak Mansur langsung terangkat dan berkata sungguh-sungguh kepadaku, "Ayat ini sering dilupakan oleh orang-orang, terkhusus pada kata bersama-nya." Beliau mulai lagi menjelaskan panjang lebar, aku yang tadinya dalam posisi berpamitan kembali duduk sempurna siap menyimak limpahan ilmunya. 

"Saya pernah makan jamuan yang sangat nikmat di Istana Presiden bersama beliau. Dikawal sejak dijemput dari rumah Bandung sampai ke Istana, tidak merasakan macet sama sekali. Tiba di istana jamuan yang terhidang semuanya nikmat. Ice creamnya nikmat sekali. Bapak Presiden juga hadir saat itu bersama saya. Itu baru hidangan yang dibersamai Presiden. Kita sering lupa ayat "Sesungguhnya Allah bersama orang yang bersabar." Kita lupa kalimat BERSAMA-nya. Baru dibersamai Presiden saja sudah luar biasa nikmatnya, apalagi dibersamai Allah. Menjadi hamba sabar itu kenikmatan luar biasa. Diberikan hidangan yang nikmat dan juga bersama Allah Sang Maha Pemberi Nikmat."

Subhanallah. Betul sekali. Ketika kita bersabar atas sesuatu, sering kali kita lupa bahwa saat itu kita sedang dibersamai Allah. Yang kita ingat hanyalah penderitaannya, sehingga kesabaran yang ada pun hanya sebatas menahan derita, bukan membersamakan diri dengan Sang Kuasa. Jika sabar yang dilaksanakan sesuai bimbingan Allah, tentulah kita akan merasakan manisnya hidangan Allah, manisnya kebersamaan dengan Allah walau sedang dalam himpitan. 

Gerakan Husnuzhon bersama Pak Ahmad Mansur Suryanegara, Sejarawan penulis Buku API SEJARAH.
Pak Mansur, terima kasih banyak atas kebaikan Bapak menerima kami. Semoga rahmat dan ridha Allah senantiasa menyertai Bapak. Terima kasih telah mendirikan masjid di hati kami. 






Sunday, 16 August 2015

Melukis Pelangi Sabar

Sabar itu ada batasnya? 
Bahkan Allah Swt tak hanya memerintah hamba-Nya bersabar, tapi juga MENGUATKAN kesabaran.



Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
(QS. Ali Imran: 200)

Ayat inilah yang kemudian menginspirasiku mengumpulkan tulisan-tulisan selama 5 tahunan dan dijadikan buku berjudul Crayon Untuk Pelangi Sabarmu (diterbitkan oleh Quanta-ElexMedia, 2015). 
Alhamdulillah sambutan luar biasa dari pembaca. Ada yang merasa ditemani menghadapi ujian-ujian kehidupannya. Ada yang merasa ditampar untuk kemudian meluruskan niat dalam berkehidupan. Ada yang merasa tersadar, bahwa ternyata kesabaran itu indah layaknya pelangi, tinggal bagaimana kita mampu mengumpulkan crayon-crayon untuk mewarnainya. Dan Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu ini adalah sebatang crayon yang diikhtiarkan untuk melukis pelangi sabar. 

Lewat blog ini, tak hanya ingin berbagi tentang serba-serbi Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, tapi juga berbagi crayon lainnya. Bareng-bareng kita melukis pelangi sabar. 

Karena kesabaran perlu terus diteguhkan
--Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, Natisa; 2015 


Menerima Menjadi Manusia

"Buku ini harus saya rekomendasikan kepada siapapun yang pernah mengeluhkan harinya, hidupnya, atau bahkan Tuhannya 
Natisa, memang amat layak menulis tema ini karena dua hal: dia hapal al-Quran plus mengerti isinya dan dia, bersama Komunitas Pecinta al-Quran, berinteraksi dengan orang-orang yang tidak beruntung.  
Maka Natisa, sabar, dan al-Quran sang penawar, menjadi sangat indah terlukis dalam buku CRAYON ini." 
-Faris BQ, Penulis Letter from Turkey

Tahun 2009 silam pernah berkesempatan menjadi editor salah satu bukunya, Life is Miracle. 

Saya berusaha menjadi sebenar-benarnya manusia saat menulis Crayon Untuk Pelangi Sabarmu. Bukan sebagai makhluk suci menyampaikan pesan-pesan suci. Ah, jauh. Hanya berusaha menjadi manusia yang tak luput dari pemberontakan hati terhadap ketentuan Tuhan, kemarahan pada manusia lain, dan segala sifat manusia lainnya. Jika diibaratkan mesin, maka saat akan menulis saya tekan tombol ON pengaturan "menjadi sebenar-benarnya manusia". 
Karena sering kali kita ingin jadi malaikat yang tak pernah salah, dan ambisius menciptakan kehidupan lurus tanpa belokan-tanjakan-terjal-jatuh-bangun. Padahal kita manusia. Dihidupkan sebagai manusia. Haruslah hidup dengan cara-cara yang manusiawi. Saya tekan ON tombol itu. Menulis berbicara dari hati menuju bilah hati yang lain. Mengajak berbicara jiwa; untuk menerima segala jatuh-bangunnya kehidupan. Menerimanya sebagai rangkaian episode kehidupan yang harus dihadapi. Menerima diri sebagai manusia. Menerima diri sebagai hamba, bukan Tuhan, bukan malaikat, dan bukan pula iblis.

Inilah tema besar buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu. Tentang menjadi manusia dan menerima. Seorang kawan yang telah khatam membaca buku ini, dia memesan satu buku lagi untuk kawannya yang sedang dilanda pemberontakan terhadap ketetapan Tuhan. Beberapa hari kemudian, temanku ini menghubungiku via WA:


Tiba-tiba saya merasa ikut demam. Ya Allah. Betapa kuasanya Engkau menggerakkan hati hambaMu. Tulisan hanyalah tulisan, dan penggeraknya tak datang kecuali dari Allah yang Maha Hidup. Saya bisa merasakan bagaimana hati yang riuh pemberontakan, jiwa yang rindu pelukan Tuhan, dan suara-suara hati yang tak dapat didamaikan. Malam itu setelah menerima pesan tersebut, saya hanya bisa berdoa kepada Allah. Semoga Allah kirimkan rasa ketenangan ke dalam hatinya. Semoga Allah menyampaikan pelukan hangat melalui buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu kepadanya.


"Aku baru tiba pada setengah halamannyatapi sudah tertampar tanpa basa-basi."-Nisaul, Mahasiswi Sastra