Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Tuesday, 9 January 2018

Bagaimana Bisa Cinta Buta dan Tuli


Bagaimana bisa cinta itu buta,
padahal ia yang membuat segalanya terlihat ada?

Bagaimana bisa cinta itu menyesatkan,
padahal ia yang menjadikan pencinta menempuh jalanan kebenaran betapapun sulit.

Bagaimana bisa cinta itu tuli,
padahal ia yang melahirkan gemuruh rindu yang tak bertepi,
mengalunkan milyaran puisi.

Bagaimana bisa cinta membuatnya kehilangan logika,
padahal ialah yang menjadikan semuanya masuk akal untuk ada.

Cinta, salah satu dari asma-Nya.
Bagaimana mungkin ku sematkan buta dan tuli pada-Nya? Mahasuci Ia.



Berkata guruku,
Jika ada yang salah dengan cinta, maka bukan cinta yang jadi terdakwa. Melainkan sang pencinta yang tak mengikuti alur Cinta.
Maka untuk cinta, berdoalah …

‎اللَّهُمَّ ارزُقني حُبَّكَ، وحُبَّ مَنْ يَنْفَعُني حُبُّهُ عندَك، اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَني مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لِي فِيمَا تُحِبُّ، اللَّهُمَ مَا زَوَيْتَ عَنِّي مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ فَرَاغاً لِي فِيمَا تُحِبُّ .


ALLAAHUMMARZUQNII HUBBAKA, WA HUBBA MAN YANFA'UNII HUBBUHU 'INDAKA. ALLAAHUMMA MAA RAZAQTANII MIMMAA UHIBBU FAJ'ALHU QUWWATAN LII FIIMAA TUHIBBU. ALLAAHUMMA WA MAA ZAWAITA 'ANNII MIMMAA UHIBBU FAJ'ALHU FARAAGHAN LII FIIMAA TUHIBBU .


"Ya Allah, rizkikanlah kepadaku kecintaanMu, dan kecintaan orang yang memberiku manfaat kecintaannya di sisiMu.


Ya Allah, apa yang Engkau rizkikan kepadaku di antara yang aku cintai, maka jadikanlah kekuatan untukku melakukan apa yang Engkau cintai. .


Ya Allah, dan apa yang Engkau jauhkan dariku di antara apa yang aku cintai, maka jadikahlah kesempatan bagiku untuk melakukan apa yang Engkau cintai." (HR. Tirmidzi 3413)



---
Natisa
2018


Friday, 5 May 2017

Kau Bertahan, Kau Diam?

Hasil dari perjuangan bisa jadi tak melulu berupa kemajuan. 

Kau dapat bertahan, pun sebuah perjuangan. Sebab bukan sesuatu yang mudah untuk mampu bertahan di tengah kondisi yang tak nyaman. Berapa banyak soalan di luar dugaan dapat kau damaikan? Sekali lagi, itu bukan hal yang mudah.



Di balik kebertahanan seseorang, ada harap dan juang yang tak putus walau berkali dihantam ombak keputusasaan. Namun baginya hanya ada dua pilihan; terus bergerak maju, atau tegar bertahan. Tak ada pilihan mundur ke belakang.


Apalagi jika kau terus tersenyum saat mampu bertahan. 

Tersenyum pada target-target yang seakan mengolokmu, karena tak mampu mencapainya. 

Tersenyum pada anggapan orang bahwa kau seakan tak ada kemajuan. 

Tersenyum pada standar masyarakat yang mengharuskanmu menyamai mereka. 

Tersenyum, sebab dugaan itu salah. 



Kau bertahan, bukan berhenti. 

Kau bertahan, karena masih terus berjuang. 

Dan untuk terus berjuang kita tak perlu pengakuan. 


Tersenyum saat kau berusaha merenda asa yang baru, lagi dan lagi, setiap saat asa itu redup tak berjawab. Kau tersenyum, sebab bagimu perjuangan bukan sekadar memperoleh hasil yang diinginkan. Sebab bagimu, perjuangan adalah caramu menunjukkan kehidupanmu. Keberadaanmu. Kecintaanmu pada Pemberi kehidupanmu. 


Tersenyum saat kembali menyadari bahwa perjuangan adalah ranahmu, sedangkan hasil mutlak wilayah-Nya. 

Tersenyum saat kembali merayu diri; biarlah aku tetap menjadi makhluk yang bertuhan, bukan makhluk yang merebut peran Tuhan.


Tersenyumlah, karena kau tak mau bertemu Tuhanmu dengan muka tertekuk, bukan? 

Tersenyumlah, sebab kebertahananmu bermakna megah. 


---
Natisa,
Papua, 2017.


Tuesday, 16 August 2016

Dalam Kendaraan Bernama INDONESIA

Melewati jalanan Jakarta yang pucuk gedung-gedung tingginya menyentuh langit hitam. Di sana menggantung bulan hampir utuh. Halte-halte Transjakarta dipenuhi mereka yang pulang bekerja.

Sebuah bis Transjakarta berlalu dengan kecepatan sedang. Aku terpaku di mulut pintu halte. Jendela bus itu panjang, memajang anak manusia. Ada yang duduk, dan tidak sedikit yang menggelantungkan tangannya. Dari kejauhan bus itu seperti akuarium manusia. Bedanya kaca jendela panjang itu bertuliskan satu kalimat:

DIRGAHAYU RI KE-71

Tiba-tiba berdegup. 
Esok tanah airku berulangtahun ke 71. Aku, dan anak manusia lainnya, seperti penumpang bis Transjakarta. Menumpang dalam kendaraan bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kami terus berjalan, di kendaraan yang telah dibangun oleh para pendahulu. Dengan tenaga, pikiran, dan bahkan darah. 

Di kendaraan ini, ada yang ikut berkarya mempercantik, ada yang mencaci mengapa tak seperti kendaraan lain, tapi di waktu yang bersamaan dia tetap tak beranjak, tak berbuat apapun. 
Kendaraan ini tetap melaju. Tak lantas pilih kasih hanya membawa penumpang yang memuja atau menurunkan penumpangnya yang mencaci. Tak. Ia tetap melaju, dengan terus memberikan kebaikannya sebagai tempat tumpangan. 

Digerakkan oleh para pemimpin bangsa, yang memang tak sepenuhnya kami kenal betul. Hanya berbasis percaya, bahwa mereka siap memimpin, maka seharusnya pula kami siap dipimpin. Sesekali kami bertanya-tanya hendak kemana kami kan dibawa? Ada yang bertanya dengan berteriak, ada yang membuat gaduh memukul-mukul jendela dan menghentakkan kakinya, ada yang diam bergumam terserah saja akan dibawa kemana, ada pula yang dengan bijak merangkak bertanya kepada petugas-petugas yang berwenang. Berusaha memberi saran semampunya, dan kembali memupuk percaya. Tak mengingkari dengan segala kekurangan yang ada di sana-sini, sambil tak lupa mengapresiasi setiap kebaikan dan kemajuan yang ada. Bukankah itu makna terdalam dari a-d-i-l ? Kebencianmu pada sesuatu tak menjadikanmu kemudian berlaku semena-mena.

Kendaraan ini terus melaju. 
Negeriku esok berulangtahun ke-71. Para pendahulu telah bersusah payah membuat kendaraan ini berbentuk. Para Kiai menggelorakan semangat jihad bela-negaranya kepada santri-santri. Para negarawan mencurah pikir dan siasatnya untuk mempertahankan negeri. Maka segala kurangnya bukan lagi tanggungjawab mereka, melainkan untuk itulah kita berada.


Seperti bulan yang hampir utuh di langit malam ini. Ia tak lantas mengundurkan diri karena belum purnama. Ia memilih menerangi dengan apa yang ada dalam diri. Ia memilih menyalakan setitik cahaya, tak sekadar mengutuk kelam gulita.
Bus yang kutumpangi terhenti di depan bendera Merah-Putih yang berjejer. Tingginya kalah oleh gedung-gedung pencakar langit itu. Namun apalah kami, tanpa tanah air ini. Setinggi apapun, sebesar bagaimanapun, tak ada artinya jika tak memiliki tempat berpijak.

Merah-putihku, Indonesiaku. Terima kasih untuk tetap berkibar. Salam takzhimku kepada para pahlawan bangsa. Tanah ini tanah para syuhada. Bagaimana bisa aku membencimu, padahal kau tempat segala cinta bermula. 
Indonesia, 
Aku akan tetap mencintaimu, dengan keras kepala.

***
Nati Sajidah,
Transjakarta, 16 Agustus 2016.


Monday, 8 August 2016

Sesungguhnya Tidak Mudah Menjadi Dirimu

Sesungguhnya tidak mudah menjadi dirimu...
Kau sering menyeretnya untuk bisa memenuhi standar orang lain,
Sering pula bertubi-tubi meminta melakukan hal-hal di luar kemampuan.
Sesungguhnya tak mudah menjadi dirimu...
Tersenyum saat ingin sekali kau tunjukkan kesedihanmu,
Menghibur saat ingin sekali mendapatkan penguatan dari orang lain,
Berdiri tegap, saat yang lain berusaha merontokkan tegar senyum dan kokoh pendirianmu...

Sungguh,
Amat tak mudah menjadi dirimu..
Dirimu itu paling membutuhkan kelembutanmu.
Apakah engkau tak merasa kasihan melihat upayanya untuk menggembirakan orang lain?
Bersabarlah dengan kelambanannya dalam memperbaiki dirinya.
Bukankah engkau yang selalu mengatakan bahwa manusia tak sempurna?
Lalu, mengapakah kau memarahinya karena ketidaksempurnaannya?

Turunkanlah suaramu sebentar, 
dan berbicaralah dalam nada suara yang lebih penyayang kepada dirimu.
Duduklah lebih dekat dengan dirimu sendiri. 
Bersahabatlah dengannya. 
Janganlah kau membuatnya merasa tak dibutuhkan,
karena kau sesali semua kekurangannya, sambil melupakan kelebihan dan kebaikannya.
Sesungguhnya tak mudah menjadi dirimu...
Berlakulah lebih jujur kepada dirimu.
Inginkanlah yang besar,
tapi ikhlaslah melakukan yang sederhana dan yang dalam kemampuanmu untuk melakukan.
Lalu berterimakasihlah padanya, dengan rasa cinta yang tulus.

Mudah-mudahan,
dalam persahabatan yang ramah, penuh hormat, dan penuh kasih dengan dirimu sendiri itu,
Tuhan mengutuhkanmu. 
Memberimu kekuatan yang lebih. 
Kasih sayang yang purna. 
Mendekapmu, hingga tak lagi putus asa.
---
Natisa ~
Agustus, 2016


Musikalisasi puisi berjudul "Sesungguhnya, Tidak Mudah Menjadi Dirimu" yang terinspirasi dari salah satu tulisan Pak Mario Teguh. Lalu diadaptasikan ke dalam puisi ini oleh Nati Sajidah atau Natisa, penulis Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu (Quanta: 2015).