Sunday, 16 August 2015

Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu Buku Motivasi (?)

Saat menulis Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, tak pernah diniatkan menulis buku motivasi. Selama proses menulis, yang saya pikirkan adalah menulis untuk diri sendiri. Jika ada kebaikan yang Allah perkenankan, semata itu milikNya. Jika ada orang lain yang mendapatkan kebaikan tersebut, Allah pula yang berkehendak. Dan kaget ketika seseorang men-tag saya di Fb, tentang reviewnya terhadap Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, yang menggolongkan buku ini sebagai Buku Motivasi..

"Hati gue seringnya nggak empan dengan kata-kata apalagi buku yang berbau motivasi. Tapi kali ini beda. Dalam waktu 3 jam aja gue mampu mengkhatami sebuah buku motivasi berjudulCrayon Untuk Pelangi Sabarmu”.
Jujur gue tercerahkan setelah baca buku ini. Kata-katanya selain indah, berisi, mencambuk diri pula."
-Nurjanah Enje, Penulis Buku iGEN
Lengkapnya ia tulis di blognya yang apik ini. Pada akhirnya memang bagaimana pembaca menangkap isi dari buku ini, terserah deh mau digolongkan ke buku apa :)

Ohya. Ternyata kami sealmamater, STIU Al-Hikmah Jakarta :). Kampus tempatku menemukan kasmaran belajar tafsir Al-Quran. Terima kasih sudah menjadi sahabat Melukis Pelangi :)




Sarah Vi dan Crayon Untuk Pelangi Sabarmu

Mbak Sarah Vi berbinar saat menerima Buku #CrayonUntukPelangiSabarmu. Semoga menjadi sahabat melukis pelangi sabarmu, Mbak. Sempat menjadi artis panas, kemudian menapaki jalan hijrah yang terjal. Betapa Allah mencintaimu, Mbak. Seperti katamu, bersyukur membuat seseorang merasa lebih kaya. Dan ya, kucantumkan dalam CRAYON; bersyukur adalah cara termudah untuk bersabar ile emot






Hari Minggu (07/06) lalu saya mewakili Komunitas Pencinta Alquran (KOMPAQ) menjadi salah satu partner Yayasan Masjid Nusantara dalam acara pembagian 10.000 mukena.

"Recommend book, Alhamdulillah!
I agree fully and there is nothing more that I can add to what you have said which I agree with."
--Sarah Vi, artis dan model
Crayon Untuk Pelangi Sabarmu di Instagram Mbak Sarah Vi.


Sesuatu yang Tak Terbeli

Jika sesuatu masih dapat dibeli oleh uang, artinya ia masih memiliki 'harga'. 
Jika sesuatu tak dapat dibeli oleh sebanyak apapun uang, maka ia tak ternilai harganya.
Seperti kiriman kesan-kesan yang dikirimkan oleh para pembaca Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu. Setiap membacanya ada perasaan yang tak ternilai harganya. Tak dapat dibeli.


Tita salah seorang sepupuku mengirimkan pesan ini di inbox FB. Terharu. Hanya Allah yang berkuasa menggerakkan hati hamba-hambaNya. Menguatkan kesabaran setiap hambaNya yang selalu berusaha bersabar. Diri ini hanyalah perantara, yang tak kuasa jika tak dikehendakiNya. 

Sebulan kemudian, Tita mengirimkan pesan lagi. Kali ini kejutan! Buku Crayon untuk Pelangi Sabarmu ia bawa saat mendaki Gunung Merbabu bersama suaminya. Subhanallaah, indahnya... 

Bersama indahnya Edelweis. Terus kuatkan kesabaranmu, hingga ia menunjukkan keindahannya :)
Crayon Untuk Pelangi Sabarmu di Gunung Merbabu 3142 MDPL
Terima kasih, Tita.
Allah mencintaimu, karenanya Ia pilihkan episode spesial untukmu.
Nikmati, dan hadapi. :)




Jogja Kota Ngangenin


Setelah Bali, Jogja jadi kota yang masih kental dengan budayanya. Pernah suatu kali, di antara rentetan rutinitas yang membabibuta, saya nyulik temen menggila; Nurasiah Jamil. Kita berangkat pakai kereta malam dari Jakarta, tiba di Jogja pagi hari. Seharian itu kita wisata kuliner, jalan-jalan ke Prambanan dan Istana Ratu Boko. Malamnya kembali lagi ke Jakarta. Iya, hanya seharian itu aja. Sengaja, biar pengen balik lagi :D

Dan benar saja.. Dikirim foto ini oleh Nanda Andhika, serta merta rasanya ada kangennn yang gak tergambarkan. Memasuki kota yang ramah, jalanan yang jarang angkutan kotanya, dialek bahasa yang khas, dan bahkan aku merasakan hawa panas-sejuknya.


Wednesday, 12 August 2015

Crayon Untuk Pelangi Sabarmu: Top Ten Islamic Book



"Berharap punya santri mah satu saja." 
-Abah Ruhiat, Cipasung.

Hari ini dapet laporan penjualan Crayon Untuk Pelangi Sabarmu (CUPS) dari Bagian Promo Elexmedia. Berapa banyak? 

Menggembirakan untuk aku yang gak niat nerbitin buku. Apalagi punya banyak pembaca yang mengirimkan kesan-kesannya setelah membaca. Ada yang merasa tertolong dengan CUPS, merasa memiliki sahabat menguatkan kesabaran, menghibur di tengah kesusahan, membimbing harus kemana melanjutkan kehidupan, dll. (kumpulan kesan pembaca di sini )

Setiap mendapatkan kiriman kesan-kesan itu, setiap itu pula takjub pada Allah yang Maha Berkehendak. 
Aku juga terharu saat ada yang lantas membeli lagi dengan jumlah yang tak sedikit, katanya untuk dihadiahi kepada sahabat-sahabatnya yang perlu dikuatkan kesabarannya. 

Jauh sebelum ini, aku yakin betul; jika buku CUPS menyampaikan kebaikan, maka penerima pertama itu haruslah aku. Pengamal pertama itu haruslah aku. Buku ini ditulis untuk ngaji diri. Dengan santrinya adalah diri sendiri. 
Tidak berharap memiliki 'santri' yang lebih. Cukup satu; diri sendiri. Jika ada orang lain yang mau bergabung menjadi santri? Ayok. Jika pun tidak ada, lah niatnya juga punya santri satu aja. 
Ini yang diajarkan oleh Kiai sekaligus pejuang kemerdekaan, almarhum Abah Ruhiat, kepada santri-santrinya. 
Keinginan untuk memiliki santri yang banyak akan membawa perasaan kecewa saat yang datang ternyata sedikit. Tapi jika keinginannya hanya satu, berapapun yang datang, bahkan hanya satu, tetap semangat. 


Kemarin sore menemukan Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu di rak top ten buku islami. Lagi-lagi aku takjub pada kuasa Allah yang membawa pesan; tetaplah ngaji diri, tetaplah menjadi santri.


Sinopsis Buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu by Natisa

photo by @arissevtiee di Puncak Batu Lembu Purwakarta
Tentang ketetapan Tuhan, yang kadang membuatmu bertanya-tanya, bahkan sering kali ingin berteriak berontak. Pada kehidupan, pada Tuhan. Mengapa sukar menerima ketetapan Tuhan? Mengapa pelik menghadapi jeda antara harapan dan kenyataan? Dan pertanyaan bertubi-tubi itu membuat lunglai, hingga tak kuasa lagi merangkai alasan untuk tetap bersabar. Seakan buntu menjawab, bersabar itu... Bagaimana?

Temukan crayon warna-warni di buku ini, yang dapat mengajak pembacanya melukis bersama pelangi kesabaran. Meredakan gejolak berontak. Mengisi jeda antara harapan dan kenyataan. Agar bukan hanya dapat menerima ketetapan Tuhan, tapi juga mendapat kebahagiaan.


Untuk Bersabar Kita Perlukan ILMU

Seperti bunyi ayat Al-Quran Surah Ali-Imran: 200, bahwa kesabaran perlu terus diteguhkan, maka menghadirkan kebahagiaan lebih banyak lagi adalah salah satu caranya. 

Sering kita mendengar kalimat "Sabar itu ada batasnya." Ya! Jika kita ingin membatasinya! Faktanya, Allah Swt., tak hanya memerintahkan kita untuk bersabar, tapi juga untuk terus menguatkannya. Bagaimana caranya? Nabi Khidr berkata kepada Nabi Musa saat ingin ikut bersamanya, "Musa, kau takkan sabar ikut bersamaku. Bagaimana kau akan sabar terhadap apa-apa yang kau tak miliki pengetahuanya?" ILMU. Itulah yang akan membuat seseorang dapat lebih bersabar terhadap apa yang dihadapinya. Perlu untaian kalimat yang menggembirakan mengapa kita harus terus bersabar. Perlu mendedah alasan mengapa seseorang tidak bersabar. Dan, hati kita ini perlu mengenal lebih dekat dengan Sang pengatur Alam Semesta, agar tak tersasar sangka pada segala kehendakNya. Menerima ketetapan Tuhan itu seringkali terasa pelik. Perlu berdamai antara asa dan kenyataan. 


Semua itu dihadirkan di buku Crayon Untuk Pelangi Sabarmu dengan kalimat indah, ilustrasi penuh warna, dengan bahasa yang amat manusiawi. 

Pada akhirnya, ketetapan Tuhan tetap berjalan dan manusia hanya dapat berusaha. Menghadirkan hati yang nerimo dan lapang adalah usaha yang amat berarti untuk menjadi hambaNya. Semoga #CrayonUntukPelangiSabarmu ini dapat meneguhkan kesabaran dalam kehidupan. Semoga kesabaran kian menawan dan meneguh. Karena sabar itu sesaat di dunia ini, yang tiada batas itulah pahalanya. "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka (dengan) tanpa batas." (QS. AzZumar: 10)

Pegang Crayon-mu, mari kita lukis pelangi kesabaran. Lebih indah lagi! Karena kesabaran perlu terus diteguhkan!