Thursday, 25 May 2017

Pengakuan

Di beberapa episode kehidupan, manusia tak jarang minta pengakuan. Apalagi di zaman serba upload dan share seperti saat ini. Membuka sedikit wilayah privasi kepada publik, untuk mendapat pengakuan. Bahkan tanpa diminta, dia akan dengan sukarela membeberkannya. Memang, motifnya tak selalu mencari pengakuan, tapi bukan tak mungkin hal itu adalah salah satu alasannya. Pe-ng-aku-an. Itu tidak salah, amat manusiawi malah.

Ingin diaku agar begini dan begitu. Ingin disamakan dengan yang lain, bahwa "aku" pun begini dan begitu. Keinginan itu bisa berasal dari rasa tidak-aman, unsecure. Merasa diri harus sama, merasa diri harus menegaskan, merasa diri terancam. 

Lalu tak lama lagi kita akan disapa oleh Bulan Ramadhan. Di bulan ini ada satu amal ibadah yang memusnahkan pe-ng-AKU-an. Dimana kita diminta untuk memberikan yang terbaik tanpa dapat meng-upload atau share amalan tersebut. Apakah itu? Puasa. Siapakah yang dapat mengetahui dengan benar kualitas puasa kita? Kita bisa saja mengatakan saya sedang berpuasa, tapi itu hanya ucapan. Bukan lahiriah seperti gerakan shalat, atau besaran zakat/infaq. Mengenani kualitas puasa itu sendiri hanya Allah yang tahu.

Itulah kenapa puasa menjadi satu-satunya ibadah paling intim. Hanya Allah dan hambaNya yang tahu. Kalkulator pahala bagi ibadah puasa ini tidak lagi berlaku. Allah Swt menegaskan, puasa dinilai langsung oleh Allah. Tak lagi pakai hitungan. Maka musnahlah keinginan untuk diaku oleh manusia, yang ada tinggal pengakuan dari yang sejati: Tuhan Semesta Alam. Pengakuan dari-Nya dapat berbuah keridhaan. Jika Ia telah ridha, apalagi yang kita butuhkan?

Seseorang berpuasa atas kesadarannya sebagai hamba. Ia tak hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga merayu diri agar hati dan panca indra ikut berpuasa. Mengikis keinginan untuk diaku, dan memutlakkan hati agar segala ibadah sejatinya untuk mendapatkan pengakuan dari Tuhan yang Satu.

Ramadhan membimbing manusia untuk mendapatkan pengakuan sejati. 
Biarlah sunyi di mata manusia, sebab ridha dan pengakuan Allah di atas segala-galanya.



Marhaban ya Ramadhan 🌷

===

Natisa
Pelabuhan Badas, 1438 H.


Monday, 15 May 2017

A Night at a Cafe in Papua



This is about my new friend from another country, you can call her Xhe (actually not her real name). We spent 1 week in Papua for a project. Several days went nomally, until we sat at a cafe in thrid day of our project. That night is the best night we ever had in Papua. That's conversation is still in my mind.


Xhe said to me that she was impressed with my personality. How could it be? Because, Xhe said, I am a calm person and I have an emphatetic soul. Guess what? I was laughing to her joke. "No.. No! I am serious!" she said.

Am I a calm person? No! Seriously. Then I told her about how rebelious I am, how I have many questions about life, how I complain for many things. So, how can I be claimed as a calm person? 

She looked at me deeply. "Nati, it's okay that you have many questions. There's nothing wrong with all of it. Sometimes, people become a wise person because they let the questions exist. It makes them compromise with their life. I found you as an honest person. You asked me about my reason why I choose to be an agnostic. You asked me because you really wanted know, not to judge me. And you told me about your spiritual journey. I feel it comes from your sincere soul. Rebellion happens because you are honest with yourself. There is nothing wrong with it. All you need is keep being who you are because you are on the right track as long as you have faith in it. The sincere soul can bring you to the right track. That's why I don't need religion. Haha." 

We laughed.

The way she appreciates me makes me feel blessed, and ask to my self; why don't you thank yourself?

When she asked me, why do I need religion to knowing God? I try to find the best answer I have. I don't really think that God and religion is separated. Because religion comes from Him. For example, I know Him through Al Quran. So I push myself to learn Al Quran more intensive, and I find many of God's guidances are in the Quran which are summarized into a religion. So the religion isn't made by human, but used by them. One of her reasons being agnostic is because people only use religion for their will. Yes, I can't ignore about them, but for myself religion guides me to become a better person. 

"No. I think you become a better person because you want to. It comes from your soul. You decided to be it. Not because of your religion!" said Xhe firmly.

"Why do you not have the same thought when you looking at a man who behaves badly? You thought that people only use religion for their personal bad ambition. But when you look at man with a good behavior, you said that comes from his soul, not because he uses his religion." 

She laughed, and pointed at me, "Yeah. You make me rethink. That humans need something to believe. Either to God or religion. O, I love our talk tonight, anyway!"

She raised her glass, asked me to toast. Cheers.

Then we got back to Homestay with lots of happiness. We are happy to know each other, not to judge, but to feel blessed to be human.

I agree with her thought, that humans need something to believe in.

In another day, I share this story to my friend, Nisaul or Saul. She said,


"Many people say that an agnostic means doubting or not believing or not having faith in anything. For me, everyone believes in something, everyone has faith in something. They just believe in a different thing than we do. Afterall, we all believers."

Agree! Because "believe in 'something'" is a human needs. 

When human lost his faith, they lost his power and hope. We all need a source of Power, and there is one thing more important than having a faith: It's who we have faith in.


---
Natisa
Papua, April 2017


Friday, 5 May 2017

Kau Bertahan, Kau Diam?

Hasil dari perjuangan bisa jadi tak melulu berupa kemajuan. 

Kau dapat bertahan, pun sebuah perjuangan. Sebab bukan sesuatu yang mudah untuk mampu bertahan di tengah kondisi yang tak nyaman. Berapa banyak soalan di luar dugaan dapat kau damaikan? Sekali lagi, itu bukan hal yang mudah.



Di balik kebertahanan seseorang, ada harap dan juang yang tak putus walau berkali dihantam ombak keputusasaan. Namun baginya hanya ada dua pilihan; terus bergerak maju, atau tegar bertahan. Tak ada pilihan mundur ke belakang.


Apalagi jika kau terus tersenyum saat mampu bertahan. 

Tersenyum pada target-target yang seakan mengolokmu, karena tak mampu mencapainya. 

Tersenyum pada anggapan orang bahwa kau seakan tak ada kemajuan. 

Tersenyum pada standar masyarakat yang mengharuskanmu menyamai mereka. 

Tersenyum, sebab dugaan itu salah. 



Kau bertahan, bukan berhenti. 

Kau bertahan, karena masih terus berjuang. 

Dan untuk terus berjuang kita tak perlu pengakuan. 


Tersenyum saat kau berusaha merenda asa yang baru, lagi dan lagi, setiap saat asa itu redup tak berjawab. Kau tersenyum, sebab bagimu perjuangan bukan sekadar memperoleh hasil yang diinginkan. Sebab bagimu, perjuangan adalah caramu menunjukkan kehidupanmu. Keberadaanmu. Kecintaanmu pada Pemberi kehidupanmu. 


Tersenyum saat kembali menyadari bahwa perjuangan adalah ranahmu, sedangkan hasil mutlak wilayah-Nya. 

Tersenyum saat kembali merayu diri; biarlah aku tetap menjadi makhluk yang bertuhan, bukan makhluk yang merebut peran Tuhan.


Tersenyumlah, karena kau tak mau bertemu Tuhanmu dengan muka tertekuk, bukan? 

Tersenyumlah, sebab kebertahananmu bermakna megah. 


---
Natisa,
Papua, 2017.


Saturday, 22 April 2017

Aku Tidak Menghindar. Aku Hanya Butuh Waktu.

"Aku tidak menghindar. Aku hanya butuh waktu," katamu siang itu.

Karena sejatinya memang kita tak pernah bisa menghindar. Kehidupan selalu menuntut kita menuntaskan hal-hal yang kita hindari. Mereka seakan ingin mengungkapkan, bahwa diri kita sebenarnya mampu menyelesaikan. Ini hanya tentang kemauan. Dan juga keberanian.

Keberanian berdiri melihat permasalahan dengan segala kepelikannya. Merunut setiap benang kusut yang ada. Menguraikannya satu per satu. Berlapang dada menerima kesalahan diri, serta menasehati agar mau melakukan perbaikan ke depan. 

Keberanian melihat tantangan yang kemungkinan bermunculan jika melakukan keputusan-keputusan besar, itu bukan hal yang mudah. Tapi menyerah bukanlah pilihan. Ketika kau pilih mundur, maka akan kau lihat betapa sudah banyak ketakutan, kekhawatiran, tantangan yang seakan membuatmu mati, ternyata sudah kau taklukkan. 

Tak ada. 
Tak ada pilihan menyerah. 

Tuhan Pemeliharamu ingin kau maju. Membuktikan doa-doamu, bahwa kau benar-benar mau. Buktikan, bahwa kau bukan seorang pendoa yang manja. Kaulah pendoa, kau jua pejuang dari terjawabnya doa. 

Betul,
Kau tak menghindar.
Hanya butuh waktu.
Sebab kau sadar,
Untuk hadapi permasalahan tak bisa reaktif.
Melainkan perlu diri yang reflektif.

Untuk dapat memandang persoalan bukan sebagai perhentian, kau perlu kejernihan hati. Yang tak berhenti hanya sebab terbawa perasaan. Kau perlu hati yang jernih, yang tak semata melihat kemampuan diri. Kita akan cepat putus asa jika hanya melihat kemampuan diri. Hilangkan keakuan. Apa yang dapat dilakukan oleh kemampuan terbatas kita? Akui saja setiap kelemahan, ketakutan, dan kekhawatiran. Kita bikin NOL diri kita, di hadapan Kekuasaan yang hakiki. 

Itulah hati yang jernih. Yang dapat merasa hamba, di hadapan Sang Kuasa.

Pada akhirnya kau akan tersadar. Kau tidak sedang bersaing mengalahkan orang lain. Tidak. Kau hanya dengan dirimu. Dan Tuhanmu,

Tidak. Kau tidak sedang menghindar.
Kau hanya butuh waktu.
Untuk tidak mengisinya dengan ragu. 



----
Natisa,
2017


Thursday, 23 March 2017

Linglung Seharian yang Ujungnya Buat Ngedapetin Pembelajaran Berhargaaaa

Hari ini dicoba sama kelinglungan.. Grasak grusuk berangkat dari rumah jam 4 pagi menuju stasiun.. di tengah perjalanan, ngecek dompet KTP gak ada. Alamat gak akan bisa masuk kan.. akhirnya pulang lagi ke rumah. Obrak abrik tetep gak ada, yaudah pasrah ambil passport aja. Sambil nyiapin foto KTP yang tersimpan di email.

Di tengah jalan, baru inget nyimpen KTP di salah satu saku ransel yang dibawa. Bener aja ada.. hiks, tau gitu ga usah pulang dulu ke rumah (yakan ga tauu). Sampai stasiun masih dengan terengah-engah menuju check in online, cus ngetik kode booking yang baru semalam pesen tiketnya, dan... FAILED. Gak bisa check in! Apa karena telat? Segera tanya petugas Loket, tau ngga knp? ternyata aku salah pesen tanggal, harusnya mesen tiket hari ini, malah tanggal besok 😫😓😷. Mbak2nya nawarin reschedule ke hari ini, iya juga aku baru kepikiran, eh tapi apa masih ada kursi? Alhamdulillaah ada.
Akhirnya tambah biaya reschedule, dan bernafas sedikit lega.

Cus ke Jalur 6 nyari kereta Argo Parahyangan. Ga tau kenapa pikiran ama kaki lagi gak sinkron, asal masuk gerbong aja. Taunya salah gerbong dong.. dari gerbong paling ujung ke ujungnya lagi, 2 KALI nyari baru ketemu. 
Kirain drama udah selesai.. Ternyata masih lanjut. Sampai di Gambir-Jkt jam 08.30an pesen Ojek, 2x fail sementara waktu mefet banget meeting jam 9. Akhirnya dapet, jalan deh menuju daerah Kuningan. Belum jauh jalan, tiba-tiba si Mamang berhenti. Kirain ada apa, taunya? Dia ga hapal jalan 😓.. setelah berdrama abis di jalanan, sampe juga di gedung tujuan. 

Udah sampe di Lantai 10, nelpon temen-temen kok pada ga ada. Kok bisa Nati duluan? Bener aja, aku SALAH GEDUNG. Gemeterrrr pengen nangisss. Ya Salaaaam. 
Tahan tahan tahan.. Nahan diri buat ga maki-maki diri sendiri yang ceroboh ga lihat seksama nama gedung di undangan meeting, nahan diri buat nangis sesenggukan di depan mbak2 resepsionis yang prihatin lihat bocah bawa dua gembolan. Tahannn. Fokus, harus segera ke gedung yang benernya. Alhamdulillah si Mbak yang tadi berwajah prihatin itu bantu aku buat pesen Ojek, dan nunjukin jalannya arah kemana. 

Lanjut pesen ojek menuju gedung yang BENER, yang jaraknya mayan 20 menit pakai motor. Sampai di gedung yang bener, kaki udah lemes, muka kusut masai. Apalagi hati, jangan ditanya. Baru duduk ambil nafas, mataku tertuju ke semua orang yang duduk rapi dengan masing-masing laptop di depannya. Eh, bukannya meeting kali ini koordinasi aja ya? Kok pada bawa laptop? "Kan hari ini sekalian tes sistem eLearning terbaru, Nat. Laptop kamu mana?" jawabn temenku yang di samping. DUERRRRR! Laptopku ga dibawa...lemes... kenapa.. kenapa.. Drama ini... kapan kau berakhir.    

Hiks.. aku teh kunaon atuuh. Baru dicoba dengan dicabut konsentrasi aja rasanya kepayahan. Butuh Akua? Bukan butuh akua, atau galon, atau torn aer sekalian. Ini mah kudu banyak istighfar. Kaki, pikiran, hati, semuaaa butuh pengendali. Sebaik-baik pengendali ya Tuhan Pemelihara.. astaghfirullaah.. jeda dulu jeda dulu.. melipir, biar hidup ga ketar ketir.. kata guru saya, ini indikasi hati butuh asupan dzikir lebihhhhhhh luber lagi.. 😭

Akhirnya nekat minta rekan di Kantor kirimin laptop via Ojek online. Nekat banget. Itu laptop yang baru dibeli sama perusahaan, kalau misal terjadi apa-apa bakal lebih gede lagi drama yang terjadi (apasiiiih). Bismillaah.. Aku titipin sama Engkau ya Allah.. aku mah udah lelah pisan mengandalkan kemampuan diri. Aku nyerah ya Allah.. semua bisa-ku gak ada apa-apanya. Semua itu karena Kuasa-Mu.. Nangis. Selang 30 menitan, laptop yang diantar tiba, masyaAllah.. amannnn.. makasih ya Allah.. Makasih mbak2 ojek (iya, dapet driver ojeknya perempuan yang baik hati banget.. semoga berkah berlimpah buat Mbaknya..) 

Siang hari pas adzan dzuhur, aku nyari mushola di gedung yang luas itu. Ketemu ruangan luas dan besar. Di pintunya tertulis; MUSHOLLA. Pas masuk, nyesss.. 

Ya Allah.. udah gak punya kata-kata lagi. Aku gak akan menyalahkan hari, atau mengatakan ini hari yang sial. Ngga akan. Takut makin kualat memaki waktu yang Engkau saja menjadikannya sebagai salah satu sumpah dalam AlQuran. Ngga... Semua ini semata-mata karena kelalaian diri. Astaghfirullah.. Selepas shalat dzuhur, datang kedua temanku yang akan mengerjakan shalat. Mereka heran sama aku, yang mungkin, berwajah nelangsa pisan. Aku ceritain kejadian-kejadian seharian itu. Pas nyeritaian tiket yang salah tanggal, satu temenku nyeletuk, "Alhamdulillaah ya masih tersedia kursi di tanggal ini..". Deg. Iya.. Alhamdulillah.. Iya, banyak yang harus aku syukuri di tengah-tengah kelinglungan ini.

Alhamdulillah ada yang anter-anter dari rumah ke stasiun, pas nyampe stasiun penjaga loketnya baik nawarin reschedule, alhamdulillah masih trsedia tiket hari itu, alhamdulillah walaupun sampai 2x bolak balik ke rumah dan stasiun tapi ttep kekejar waktunya. Waktu nyusurin gerbong dan bolak-balik juga, pas ketemu tempat duduknya ternyata dapet yang luas-yang disampingku kosong jadi bisa tiduraaaan sepanjang jalan.. pas naek ojek juga walaupun lieur muter2 tapi alhamdulillah aman dan selamat.. Bisa kan kalau Allah berkehendak keselamatan dan keamanannya dicabut. Astaghfirullah.. 
pas salah gedung juga para karyawannya baikkkk nunjukin aku jalan.. pas nyampe gedung yang bener juga alhamdulillah meetingnya belum mulai.. jadi punya waktu buat bernafas.. pas laptop ketinggalan, dan ada yang anterin, alhamdulilaah dapet driver yang amanah.. 


Masya Allah 😄😍.. ALHAMDULILLAAAH... banyaaaaak banget yang bisa disyukuri. Cuma kadang kemanusiaan yang dikuasai hawa nafsu ini selalunya fokus ama yang kurang-kurangnya. Padahal banyakkkkkk banget nikmat lainnya. Masya Allah.. mungkin ini hikmahnya..

Selalu cari yang baiknya.. pasti ada. Semuram apapun keadaannya, pasti ada kebaikan yang ingin Allah kehendaki buat kita. Pasti ada yang bisa di-syukuri. Yakiiiiinnnn. Dan ketika hati kita mulai jernih dapat mensyukuri sesuatu di antara rentetan kemuraman, seketika itu juga nyesssss jadi lebih tenang, damai... Alhamdulillaah.


---
Natisa
21 Maret 2017



Monday, 6 March 2017

Kearifan Diri yang Menjaga Negeri




Bertemu dengan Novi dan Ibunya di Sentra Tenun Desa Poto, Kecamatan Moyo, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ibunya, Ibu Jaida, adalah ketua kelompok tenun tradisional di sana. Aku takjub memegang karya tangan telaten itu. Kain tenun tebal dengan pattern apik, dan warna merah yang menyala. Untuk membuat kain ini beliau menghabiskan waktu 1 bulan. Beliau bercerita tentang seorang desainer dari Jakarta yang sengaja mendatanginya untuk meminta pada Ibu Jaida, mengubah pattern pada kain tenunnya. Untuk kemudian diolah menjadi bahan baju hasil desain si Desainer tersebut.


Seharusnya ini menjadi tawaran menarik. Mengingat desainer tersebut sudah kondang, dan berniat membawa kain tenun Ibu Jaida ke pasar yang lebih luas lagi. Tapi ternyata Ibu Jaida mundur. Karena apa...? "Saya tidak mau mengubah khas daerah saya, Sumbawa. Kalau saya berani mengubah, lalu dia akan membawa kain ini ke pasaran, trus dibilangnya ini tenun Sumbawa, padahal khas Sumbawa bukan begitu..siapa yang akan salah? Saya! Makanya saya mundur. Saya gak mau mengubah ciri khas Sumbawa. Biar desainer itu nyari orang lain saja." .

Andai setiap orang memiliki idealisme yang kuat seperti Ibu Jaida, maka makna modernisasi takkan bergeser makna seperti yang terjadi sekarang-sekarang ini. .


Menjadi modern bukan berarti latah pada hal-hal yang sedang "in". Menjadi maju bukanlah dengan mengekor, dan meninggalkan kekhasan diri. Sebaliknya. Negara atau budaya yang maju, justru mereka yang dengan kokoh memegang kearifan lokalnya, tanpa berhenti belajar untuk terus memperbaiki dan menciptakan karya-karya barunya. .

Sikap tawasuth atau moderat dalam hal ini digambarkan dengan kalam ulama yang masyhur; "Menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik." Seperti Ibu Jaida. Beliau tetap telaten berkarya dalam tenun khas Sumbawa, sambil terus memperluas kerjasama baik dengan pemerintahan atau swasta. .

Mengapa makanan sushi dari Jepang bisa tenar di mana-mana? Karena mereka punya keukeuh tidak ingin mengubah, malah ingin orang lain pun ikut menikmati makanan khasnya. 

Berandai-andai Sate Maranggi kelak ada dimana-mana. Bala-bala haneut, tauco Cianjur, dan kawan-kawannya, tak lagi hanya daerah setempat yang tahu, tapi orang lain pun juga mengenali bahkan menikmatinya. 

Syaratnya apa? Seperti Ibu Jaida, ia memiliki sense of belonging. Rasa memiliki. Ketika kita memiliki sesuatu yang disayangi, kita inginkan yang terbaik baginya. Selalu memeliharanya, dan selalu ingin orang lain tahu tentangnya. 


Dari pedalaman Sumbawa, aku menyaksikan keteguhan seorang wanita dapat menjadi kekuatan bagi kearifan lokal tempatnya. Terima kasih, Ibu Jaida. Hatimu mencipta tenun kecintaan pada negeri ini.


---
Natisa
Sumbawa, 2016


Tuesday, 3 January 2017

Reflektif pada Blawuritas Dunia

Kemarin, aku memposting gambar di bawah ini di akun instagram @natisa_23. Lalu mempersilakan kawan-kawan memberikan caption atau tulisan di bawah gambar tersebut. Bebas, apapun. Aku ingat perkataan salah seorang dosenku. Beliau berkata, bisa jadi orang yang menerima perkataan kita dapat lebih memaknai ketimbang makna yang sebenarnya kita miliki. Begitu pun juga maksudku mempersila kawan-kawan followers untuk menuliskan caption di bawah gambar ini, aku ingin mendapatkan kejutan pemaknaan dari mereka. Aku ingin belajar.

Dan betul. Ada dua kawan menuliskan caption indah, lalu aku menuliskan komentar juga di bawahnya, dengan segala keterbatasan pemahamanku terhadap pemaknaan mereka.
@eanggirospidia "Manusia yang lalai, layaknya dedaunan, ia akan berguguran menempa musim. Namun tak begitu dengan iman, ia akan terus bersemi dan kokoh menuju Ilah."
@natisa_23: “Mengapa ranting kering itu seperti ingin menyapa rimbun? Barangkali ia rindu merimbun. Sebab tak pernah ada hati yang mati, jika masih ada kecintaan pada kebaikan, walau setitik.”
@katsurayya “Karena semua makhluk berawal dari ketiadaan, dan akan kembali menuju ketiadaan. Bukankah waktu berjalan begitu cepat? Saat kulihat ranting itu sudah kembali berdaun dan berbunga, hingga akhirnya ditinggalkan kembali oleh daun dan bunganya. Selagi itu, sudah berapa banyak kita berbuat?”
@natisa_23 “Jika ini semua tentang waktu, meranggas ataupun merimbun bukan lagi persoalan. Jika ini semua tentang waktu, betul katamu, ini tentang seberapa giat berbekal; baik ketika kita meranggas atau merimbun.”
---
Inilah yang aku pelajari; satu gambar, banyak pemaknaan. Mana pemaknaan yang benar? Mana pemaknaan yang dikehendakiku sebagai pemilik gambar? Ternyata hidup tidak melulu terkait benar dan salah. 

Mengutip perkataan Mas Sabrang (alias Noe, vokalis band Letto), saat mengomentari hasil penelitian Pak Fahmi Basya terkait Candi Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman. Mas Sabrang bilang, “Bahwa segala sesuatu tidak bisa hanya diringkus dalam dua kotak benar atau salah. Realitas tidak sesederhana itu, kenyataan tidak hitam putih. Seperti lensa fokus sebuah kamera. Ketika kita memotret bunga kalau lensanya tidak fokus, nanti bisa kita lihat hasilnya blawur. Tapi hasil yang blawur itu benar atau salah? Kan hasilnya tetap benar bahwa itu “bunga” meskipun blawur.” 

Aku sering bercengkrama dengan banyak pembaca buku yang kutulis, Crayon Untuk Pelangi Sabarmu, untuk sekadar menyimak pemaknaan mereka dari buku tersebut. Tidak jarang aku terkejut oleh pemaknaan yang tak pernah terpikirkan oleh aku sendiri sebagai penulis. Aku pun tidak bisa menyalahkan mereka, jika tidak sepemaknaan denganku. Sebagaimana ketika ada yang membaca tulisanku, lalu dia merasa tulisan itu ditujukan untuk dirinya. Padahal? Aku tersenyum saja. Mungkin pemaknaan itulah yang ia dapatkan, yang ia inginkan. Beda lagi jika pembaca dengan tulus bertanya kepada penulis, apa yang dikehendaki penulis dengan menuliskan ini itu. Maka penulis dapat dengan leluasa menjelaskan. Pada kasus ini, aku mempersilakan kawan-kawan membuat pemaknaan sendiri terhadap gambar yang aku posting. Apapun pemaknaan yang lahir, itulah yang dikehendakinya. Aku tidak bisa menyalahkan, walau aku pribadi memiliki pendapat yang lain.

Mas Sabrang juga kerap ditanya awak media terkait lirik-lirik lagunya yang sarat makna. Bahkan temanku menafsirkan lagunya Sebelum Cahaya, sebagai lagu ajakan untuk tahajjud. Mas Sabrang hanya tertawa dan berujar, “Ya bebas saja. Kalau ada yang memaknai begitu, berarti dia menginginkan pemaknaan begitu. Setiap orang bebas memaknai.”

Aku terdiam saat menyimak komentar Mas Sabrang ini. Ternyata, memersilakan orang untuk berasumsi tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi jika asumsinya itu jauh dari kenyataan yang ada. Ada sisi hati yang ingin membela, atau meninggikan suara. Namun, jika saja kita bisa menarik diri terlebih dahulu, kita akan sadar. Bahwa semua ini tentang menyimak manusia, yang memang dicipta berbeda. Kesalahpahaman ada, karena adanya perbedaan. Sedikit saja kita merayu diri untuk menyimak mereka yang berbeda, maka yang akan kita dapatkan adalah tambahan khazanah berpikir. Dengan begitu, kita akan bereaksi secara proporsional. Menyikapi mereka yang berbeda bukan sebagai musuh, tapi sebagai kesempatan untuk memicu diri membangun jalinan komunikasi yang efektif. Seperti menantang diri; bisa ga lu ngertiin pemahaman dia? bisa ga lu ambil pelajaran dari pemikirannya? bisa ga lu sampaikan pendapat pribadi ke dia dengan baik? 

Sering kali kenyataan yang ada
bukan menuntut kita bersikap reaktif,
melainkan reflektif.
Karena ilmuku masih cetek, aku sadar, apa-apa yang lalu lalang di dunia ini bukan untuk diringkus ke dalam dua kotak; benar atau salah, tapi ini tentang apa yang aku pelajari dari itu semua. Tentang benar dan salah? Ah, ilmuku masih dangkal. Untuk urusan itu aku ikut kata guruku saja. Selebihnya, aku jadikan sebagai pembelajaran. Santri salawasna.

--
Nati Sajidah

3 Januari 2017.